Kamis, 10 Mei 2012

Pataba Press Buku 5 " Kumpulan Tulisan Terpilih Karya Anak Semua Bangsa "


KARYA SASTRA, SEBUAH CERMINAN PEMBENTUK PERADABAN
Muh. Qoyyum Mahfudhon

Sastra adalah bagian seni yang menampilkan keindahan yang bersifat aktual dan imajinatif sehingga mampu memberikan hiburan dan kepuasan pembacanya. Sastra sejatinya adalah sebuah penegasan tentang estetika karya yang dibuat menurut suasana pembuatnya yang dapat menghadirkan sisi kebebasan yang nyata. Intinya ada tiga buah kesimpulan pokok yang harus dipertimbangkan dalam menilai bobot sastra, yaitu unsur estetika atau keindahan karya sastra, isi yang memuat suasana yang menggambarkan kebebasan pembuat, dan juga diterima atau tidaknya karya sastra tersebut oleh penikmat sastra yang ujung-ujungnya adalah kepuasan.
Dalam mendalami sastra seseorang dituntut untuk sepenuh hati dalam menghasilkan sebuah karya. Ibarat selongsong busur panah yang dilepaskan. Kita sebagai subjek yang akan mencoba mengkonversikan peluang untuk benar-benar mengenai sasaran. Kita harus fokus, cermat, sepenuh hati, yakin dan kuat. Begitulah sastra, tak akan berdiri tanpa kesungguhan.
Chairil Anwar ‘Si Binatang Jalang’ adalah sosok yang tidak setengah-setengah dalam mengabdikan diri dalam dunia sastra. Pelacuran, minuman keras, pencurian buku, juga kekacauan selalu ia masuki. Semua itu baginya adalah dunia yang selalu memberi inspirasi. Tak heran jika di kepalanya hanya ada satu kata ‘sastra’.
Dalam dunia sastra tidak ada istilah takut untuk berkarya, tak ada ketakutan kalau bukunya dilarang edar, tak ada ketakutan kalau karyanya tidak laku, juga tak ada ketakutan kalau karnya akan dicaci maki oleh pihak-pihak tertentu. Pramoedya Ananta Toer adalah sosok tangguh dibalik berdiri kokohnya posisi sastra tanah air. Pram, begitu dia dipanggil, telah berhasil memanggil dunia internasional untuk hormat pada kesustraan Indonesia. Beragam penghargaan internasional diterimanya dan berkali-kali dinominasikan sebagai peraih Nobel sastra. Tak ada ketakutan sedikitpun dalam diri Pram untuk mengeksplor habis kemampuan menulisnya walau saat itu sebagian besar bukunya tidak diijinkan terbit oleh penguasa. Bahkan ada juga karya-karyanya yang kemudian dibakar tentara.
Kalau menulis, berkarya adalah kebebasan, maka tak ada kata takut untuk itu. Di tanah air, kita bisa lihat Pram, Hamka, H.B Jassin, juga Chairil Anawar dibui dan menderita karena karyanya. Naguib Mahfouz, sastrawan Mesir dibunuh karena karya sastra, Solzhenitsyn dipenjara dan diasingkan ke luar negeri, Qossim Amin dikecam, dihujat dan diasingkan dari pergaulan karena pemikirannya yang bertentangan dengan pemerintah, sastrawan Prancis Marchuis de Sade divonis mati karena pemikiran liarnya mengenai sadisme kejahatan. Yang paling heboh tentu Mohammed Toha yang dipancung karena ajarannya tentang pesan kedua Islam bersinggungan dengan politik Numeri, presiden Sudan. Yang gila tentu Galilo Galilei yang nekat menerbitkan ‘Diaologue on the Two Chief World System’. Sebuah buku yang berisi dialog Copernicus dan Ptolemaic mencari pihak ketiga yang netral untuk mendukung teori pusat tata surya. Buku itu menyulut kemarahan Paus Urbanus VII. Galileo dihukum gereja penjara seumur hidup gara-gara berpendapat bahwa matahari adalah pusat tata surya. Sebaliknya dari beberapa contoh yang diuraikan, membuat kita tak lagi takut dan memandang remeh sebuah karya sastra.
Sastra dan Pendidikan Umum
Menurut Joni Ariadinata, setidaknya ada dua hal klasik yang seringkali disebutkan jika membicarakan pengajaran sastra di sekolah. Pertama adalah siswa yang menganggap bahwa karya sastra (puisi, cerpen, novel dan naskah drama) adalah bahan-bahan yang sulit dimengerti. Kedua adalah keengganan guru untuk mengajarkannya (karena memang sama-sama memiliki stigma bahwa karya sastra itu sulit) sehingga kebanyakan guru mengambil jalan pintas untuk mengajarkan teori.
Kebanyakan siswa atau orang Indonesia pada umumnya menganggap membaca adalah sebuah beban berat yang kalau bisa dibuang jauh. Padahal ada empat poros yang melingkupi terciptanya sebuah karya sastra. Dalam sebuah artikel disebutkan bahwa menulis tanpa membaca ibarat burung yang patah sayap. Setelah membaca dengan baik kita lanjutkan pada poros yang ketiga yaitu menulis atau menghasilkan karya. Dan yang keempat adalah mempublikasikan karya tersebut hingga ada penilaian mengenai respon karya tadi.
Dari empat hal di atas, membaca adalah aspek terpenting yang harus dikedepankan. Sebab hanya dengan membaca seluruh pengetahuan akan terkuak. Membaca adalah sebuah jendela yang akan membawa seseorang menjelajah khazanah ilmu pengetahuan apa pun secara tak terbatas.
Namun kita bisa melihat minat baca pelajar di Indonesia sangtlah rendah. Menurut Dra. Jeni Adria Jahja M.Si., dalam tulisannya ‘perpustakaan sebagai minat baca anak’ ada empat faktor mengapa minat baca di Indonesia dikatakan rendah. Pertama sistem pembelajaran yang belum mampu membuat anak-anak/siswa/mahasiswa mempunyai keharusan membaca buku. Kedua budaya membaca belum diwariskan oleh nenek moyang. Ketiga sarana untuk memperoleh bacaan masih merupakan barang aneh dan langka. Keempat masalah sumber daya manusia dalam segala bidang yang bersangkutan dengan minat baca.
Sumber daya manusia Indonesia harus bisa ditingkatkan lagi kualitasnya kalau kita ingin mendapatkan orang-orang yang berkarya dalam tingkat internasional, terutama dalam penggodogan minat baca. Seperti kita ketahui bahwa persoalan membaca adalah sangat klasik dan rumit di Indonesia. Penelitian yang dilakukan oleh sastrawan Taufik Ismail, dkk membuktikan bahwa data hasil wawancara dari sekolah tingakt SMU di seluruh dunia, sekolah-sekolah di Indonesia memiliki predikat nol buku.
Sastra, pemikiran dan dampaknya
Setelah begitu njlimet kita mengutak atik masalah membaca, sekarang kita akan mencoba membongkar pemikiran dan dampak sebuah karya sastra.  Karya atau pemikiran baru yang diletakkan menjadi sebuah tulisan lalu dibaca oleh banyak orang, maka akan menimbulkan pertentangan-pertentangan yang lambat laun akan mengakibatkan gesekan-gesekan di masyarakat antara setuju dan tidak setuju.
Sifat karya sastra yang imajinatif, kreatif dan ekspresif akan membuat se empunya sastra menilik habis apa yang dapat ia keluarkan dan membentuk sebuah karya. Jules Verne, novelis Inggris telah memproyeksikan penemuan dalam kisahnya “ 20.000 Mil di Bawah Permukaan Laut”, “Mengelilingi Dunia dalam 80 Hari”, dan “Perjalanan ke Bulan”. Dalam novel Verne itu dijelaskan penemuan-penemuan baru seperti kapal selam, pesawat terbang dan pesawat ruang angkasa, yang pada saat karya itu ditulis dianggap mustahil.
Pada tahun 1932, Aldus Huxiey menulis sebuah novel berjudul “Brave New World”,  sebuah novel yang menggemparkan masyarakat Inggris karena imajinasinya yang sinting. Dalam novel tersebut pengarang menggambarkan sebuah koloni manusia yang tidak dilahirkan namun diproduksi secara massal sesuai kebutuhan, jenis pekerjaan, postur tubuh dan tingkat intelegensia tertentu. Embrio-embrio dibibitkan dalam sebuah laboratorium, dalam sebuah tabung. Sperma dan ovum untuk syarat pembuahan dikmpulkan dan dipilih kemudian diawetkan di pusat pembibitan yang dinamakan Central London Hactory and Conditioning Centre. Apa yang terjadi dalam imajinasi Huxiey lima puluh enam tahun kemudian menjadi kenyataan yakni tahun 1988, bayi tabung pertama dilahirkan.
Pemikiran sebuah karya sastra akan berdampak hebat di masa sekarang atau kemudian hari, keberadaannya begitu diperhitungkan bagi yang melek akan pengetahuan. Seseorang dengan sebuah karya bisa memicu berakhirnya sebuah pemerintahan, terjadinya revolusi, lahirnya ideologi baru, munculnya pertentangan rasial hingga meletusnya api perang yang berkecamuk.
Fatima Mernissi, pengarang perempuan Maroko dalam bukunya “Rebellions Women and Islamic Memory” dengan sangat tajam menunjukkan betapa agama dengan sangat mudah dapat dimanipulasi. Ia percaya bahwa penindasan terhadap perempuan adalah semacam tradisi yang dibuat-buat. Pemikiran Mernissi ini memantik golongan perempuan di belahan dunia untuk bergerak lebih luas dalam kehidupan, tidak hanya menjadi pengekor saja.
Karl Marx, lewat magnum opusnya “Das Kapital” yang menjadi kitab suci komunisme dunia telah membuat sebuah terobosan luar biasa dalam dunia dengan menumbuhkan paham baru yang dikenal dengan komunisme. Bahkan Marx dianggap sebagai nabinya orang-orang komunis.
“Der Judenstaat” karya Theodor Hezl, di dalamnya ada salah satu sub judulnya Versuch einer modernen Losung der Judenfrage, yaitu proposal untuk sebuah solusi modern mengenai masalah Yahudi.  Karya itu sangat berperan dalam merealisasikan sebuah Negara zionis di Palestina.
Menurut Octivio Paz, penyair kondang asal Mexico, ‘awal sebuah revolusi diawali kata-kata’.
Jauhnya karya sastra di lingkungan sekolah dan pemusatan pada bidang ilmu umum hanya sekedar prasyarat pendidikan umum menyebabkan keringnya imajinasi kreatif yang menghancurkan bangsa ini lewat kebohongan dan pembodohan publik lewat jasa audio visual yang makin marak tanpa diimbangi suatu pemikiran dalam kreatifitas. Indonesia di balik tanahnya yang subur dan potensi kekayaan alamnya yang melimpah nyaris tidak ditemukan lagi sebuah revolusi pemikiran seperti yang pernah dicetus beberapa puluh tahun lalu oleh pendiri Negara kita ini. Pendiri-pendiri Negara Indonesia dididik dengan sistem pendidikan Belanda yang mewajibkan para siswa mengenal karya sastra 25 judul dalam 4 bahasa (Inggris, Belanda, Jerman dan Prancis)
Dampak dari itu semua dapat kita rasakan sekarang, lewat pola penerapan gaya audio visual itulah bak senjata yang makan tuan. Terjadinya korupsi, pembunuhan,kekerasan,penyelewengan,kisruh politik, potret kemiskinan hingga hal-hal yang berbau pornografi diekspos habis-habisan oleh para pewarta melalui media visual itu. Saat kita menunggu di halte, bandara atau stasiun apakah masih ada orang yang sibuk membaca buku? Masih, tetapi sangat jarang, ditambah ‘sekali, sangat jarang sekali. Hal yang kita lihat paling orang sedang sibuk memencet tombol HP atau mendengarkan music dari headset. Kini ancaman kebudayaan yang berbasiskan audio visual yang memendekkan kreatifitas dan daya pikir telah mengikis habis bak parasit yang siap-siap merubuhkan bangsa ini. Sebagai contoh saya selalu menggembor-gemborkan pentingnya kebudayaan, seni dan sastra kepada teman-teman lewat majalah dinding yang saya tukangi. Namun nyatanya mereka yang berminat tak lebih dari 10 orang dari sekitar 500 orang. Lalu saya pindah ke dunia maya. Saya dirikan forum diskusi online tentang sastra melalu sebuah grup. Faktanya tak banyak yang melirik. Bandingkan kalau misalnya untuk pengagum Michael Jackson dan semacamnya, tidak usah diundang pasti dating sendiri.
Generasi baru terus tumbuh, bisa dibilang generasi niraksara (jauh dari bacaan apalagi kebiasaaan dan kemampuan menulis). Generasi ini biasanya ditandai dengan melemahnya moral dan pelecehan kebudayaan bangsa sendiri.
Budaya timur yang dianut bangsa Indoensia telah dinetralisir dengan budaya barat yang tidak sejalan dengan pesan moral bangsa ini. Namun kebudayaannya diterima dengan baik oleh mereka yang melek dan tahu seperti apa budaya timur itu. Budaya timur yang mengedapankan sopan santun, tata krama, kerendahan diri dan ketaatan itu kini telah tergantikan sebuah budaya yang beraneka ragam seperti istilah-istilah yang kerap dipakai akhir-akhir ini. Ada istilah gaul, gaya ibu kota, metropolitan, gedongan, alay, punk narsisi dan lainnya. Kehadiran mereka ditandai dengan dandanan aneh yang kerap mongol di layar kaca. Dengan rambut jabrik, baju robek-robek, hidung ditindik, pakain perlente yang tak lazim, sepatu beda warna, tarian-tarian ala penyanyi barat, hingga gaya pembangunan budaya yang berujung meletupnya kata-kata yang melenceng dari kaidah bahasa Indonesia yang benar.
Kembali dengan apa yang saya lakukan di atas, setelah gagal dengan percobaan di dunia maya, saya tak patah arang untuk begitu saja berhenti. ‘Mensastralisasi’ dengan  membentuk komunitas sastra. Kurang lebih sebulan bersama rekan lulusan fakultas sastra UNNES, saya menyebarkan selebaran membuka pendaftaran. Namun hasil yang didapat tak sesuai harapan. Kami hanya dapat tujuh orang. Kegiatan tak berjalan mulus karena sebagian anggota memilih keluar dan tidak aktif. Apa lacur, kami terpaksa memvakumkan komunitas sampai batas waktu yang tidak ditentukan.
Kalau kita kembali merunut ke atas mengenai sebuah pemikiran dan dampaknya, tampaknya kita tak akan lagi menemukan kepingan emas dari generasi muda Indoensia yang berbudaya. Tetapi, bukannya tidak ada genearasi muda yang berprestasi dan senantiasa memanggul kebudayaan bangsa, namun prosentasi sangat kecil dibanding yang menyimpang.
Intinya pemikiran sastra sekecil apapun akan mempengaruhi kehidupan generasi selajutnya. Konsep kematangan pemikiran budaya generasi muda sekarang akan menentukan polah generasi selanjutnya. Peran penulis besar sebagai pemerintah kedua yang diucapkan Solzhenitsyn tentunya berlaku di Indonesia. Indonesia sejatinya telah dan pernah memiliki tinta-tinta emas yang pernah meniti mercusuar kepenulisan Indonesia. Berbaur dengan ribuan kisah pilu penulisan yang menemui banyak jalan terjal dan rintangan yang menghadang hingga mengokohkan jalan kemerdekaan Indonesia berdaulat. Bangsa yang termasuk salah satu yang disegani di kawasan Asia, hal itu berkat pemikiran-pemikiran tajam putra banga di era kemerdekaan. Tetapi kini negeri ini terus menerus terbelakang. Pemikiran-pemikiran yang pernah digemakan pendiri negeri ini jaman kemerdekaan serasa tak lagi terdengar gaungnya.
Tentunya kita tak mau kan melahirkan generasi-generasi gagal?
Prosesi estafate moral banga ini seperti ada yang salah akhir-akhir ini. Kita telah menyaksikan bagaimana rumitnya bangsa ini dengan berbagai masalah yang ada.
Sudah cukupkah Indonesia dengan presatasi Negara kepulauan terbesar?
Coba saja kita tengok selongsongan kisah tengil yang terjadi di negeri ini. Korupsi meraja lela, kekerasan merebak di mana-mana, kasus-kasus mafia mulai dari pajak, kepolisian hingga hukum. Ada kasus perselisihan koalisi, penodaan agama, kekerasan antar sekte, pornogrfai, penggelapan dana nasabah bank, hingga proyek meganalaria (proyek di luar akal sehat/nalar) senilai 1 trilyun lebih untuk membangun gedung DPR yang tentunya mengais uang Negara.
“Apakah kita harus memaksa seniman mendiamkan hati nuraninya, membutakan matanya, menulikan telinganya, mematikan dan melumpuhkan  perasaannya buat hal-hal yang terjadi di sekitarnya?”
(HB Jassin, juru peta sastra Indonesia)
Kata-kata Jasin ini hendaknya dipahami betul oleh kita yang merasa seniman, sastrawan, maupun pemikir. “Buat hal-hal yang terjadi di sekitarnya”, terutama kata ini apakah yang telah terjadi di sekitar kita ini?
1.      Matinya pemikiran revolusioner imajinatif di Indoensia ini
2.      Mati surinya kesusastraan Indonesia di tengah hiruk pikuk kisruh politik
3.      Melemahnya nilai-nilai budaya yang tercermin dari sikap pemuda kekinian
4.      Arogansi pendidikan dalam menyentuh sastra sebagai pokok pembahasan
5.      Buruknya minat baca masyarakat Indonesia

Metamorfosa sastra, pemikiran dan kebudayaan Indonesia menuju recycle peradaban
“Tindakan tak selalu mendatangkan kebahagiaan, tetapi takkan ada kebahagiaan tanpa tindakan” (Benjamin Disraeli, 1804-1881)
Metamorfosa sastra, pemikiran dan kebudayaan Indonesia yang mengganti menjadi sebuah peradaban baru diperlukan kerja keras dari segenap lapisan intelektual-intelektual Indonesia untuk mencapai daya imajinatif yuang menggebrak. Kita harus mengembalikan semua dalam bentuk semula. Mereposisi peran sesuai bidangnya. Budayawan harus bisa mengembalikan apa itu konsep budaya yang sebenarnya. Seniman harus berani memperjuangkan afiliasi dengan pemerintah tarkait masalah sosial yang menjadi pokok pemikiran seniman. Memasukkan sastra ke dalam kurikulum pendidikan agar kelak tercipta pemikir-pemikir muda yang meletakkan Indonesi kembali Berjaya di tingkat dunia, membangun dinamisme keindahan estetika sastra hingga melahirkan akrobatik ekspersif yang mampu merubah rancangan pondasi lapuk suatu pemerintahan. Banyak jalan menuju metamorfosa itu, seperti ketika Indonesia berjuang mencari jati diri.
1.      Ajip Rosidi
Ia adalah potret pahlawan kesusastraan Sunda sejati. Ajip dengan segala kekuatannya berusaha menghidupkan kembali khazanah kesustraan Sunda yang nyaris mati lewat Yayasan Rancage (Kreatif) yang didirikannya. Hingga kini Ajip telah berhasil menciptakan lebih dari 100 karya yang sebagian berbahasa Sunda.
2.      Ali Akbar Navis
Sastrawan ini lebih dicintai karena mulutnya. “Sang Pemcemooh” begitulah sebutan yang diberikan kepada penulis karya besar “Robohnya Surau Kami” yang terkenal sampai ke luar negeri itu. Ia selalu mengatakan yang hitam itu hitam dan yang putih itu putih.
3.      Umar Kayam
Si Kunang-Kunang dari Manhattan. Ia adalah guru dari hampir semua pemikir kebudayaan sekarang. Sebagia pengarang, ia meninggalkan garis tajam, pada pemikirannya. Hal itu tercermin jelas pada tokoh-tokoh rekaannya.
4.      H.B Jassin
Juru peta sastra Indonesia, Paus sastra Indonesia, Pedokumentasi sastra Indonesia. Itulah julukan yang diberikan kepada sosok bernama lengkap Hans Bague Jassin ini. Hingga saat ini ia dianggap sebagai kritikus sastra terbaik Indonesia yang belum ada gantinya. Bahkan penyair Toto Sudarto Bachtiar menggambarkan di mana berakhirnya mata penyair, H.B Jassin tahu.
5.      Chairil Anwar
Ia adalah penggerak gerbong sastrawan angkatan ’45. Isi kepalanya hanya sastra, sastra dan sastra. Chairil Anwar , contoh terbaik untuk sikap yang tidak setengah-setengah di dalam menggeluti kesenian.
6.      Hamka
Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Ulama, nasionalis, penulis, penerjemah, pahlawan dari bumi Minang. Ketangguhannya tak bisa diragukan lagi. Dua karynya “Tenggelamnya Kapal Van der Wijk” dan “ Di Bawah Lindungan Ka’bah” adalah merupakan karya yang termasuk terbaik di Indonesia. Walau dalam tahanan, kreatifitas Buya Hamka patut dipuji.
 Nama-nama di atas adalah benteng kokohnya pemikiran-pemikran Indonesia di masa-masa lalu. Sosok Ajip Rosidi yang memperhatikan sastra daerah, Ali Akbar Navis yang gemar menyoroti pemerintahan, Umar Kayam yang membidani kelancaran kebudayaan Indonesia, potret Chairil Anwar yang total mengabdi untuk sastra, serta Buya Hamka yang merintis pemikiran kritis nan elegan untuk perkembangan dunia sastra tanah air. Beberapa nama ini adalah sebagian contoh untuk kita kaum muda bermetamorfosa membentuk peradaban baru yang menohok mata dunia. Banyak-banyaklah membaca kehidupan, lalu tuangkan dalam bentuk tulisan dan berharaplah kau akan jadi dirimu sendiri. (*)
Muh. Qoyyum Mahfudhon (SMK 1 Blora0
Dk. Gempol Ds. Sumberagung Rt 07 Rw 03 Kec. Banjarejo Blora

***************************************************************



LIKU-LIKU HIDUP MENGGAPAI SUKSES
Yatini

Di sebuah desa hiduplah sepasang suami istri, Salim dan Salamah yang hidup sederhana bersama dua anaknya. Anak laki-laki bernama Abdulrahman, sedangkan anak perempuan bernama Musyarifah. Mereka tinggal di sebuah rumah berdinding anyaman bambu dan kulit pohon jati. Desa itu terletak di dekat gunung Mundri. Lokasi yang sering didatangi orang kota untuk wisata. Tentara juga sering datang untuk latihan panjat tebing. Di puncak gunung dibangun tugu dan kabaret tentara dari semen. Di area itu juga ada goa yang diberi nama Goa Gong, karena jika dindingnya dipukul dengan batu akan berbunyi seperti gong. Namun karena letaknya di area pertanian, goa itu ditutup dan dimanfaatkan untuk lahan pertanian. Sebagai petani, setiap hari keluarga itu harus bekerja keras di sawahnya yang tidak begitu luas untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidupnya.
Abdulrahman anak yang sholeh. Ia tidak pernah bertengkar dengan teman-temannya. Malah ia sering dijaili oleh teman-temannya. Pernah kepalanya dimasukkan ke kubangan air oleh Eko, hingga ia tidak bisa bernafas. Untung Salim melihat kejadian itu. Eko dimarahi, namun Abdulrahman tetap menangis ketika diajak pulang.
Abdulrahman sangat senang dengan binatang. Sapi yang dimiliki bapaknya digembalanya dengan penuh kasih sayang dan kesabaran. Hingga sapi-sapi itu menjadi gemuk dan beranak pinak. Meskipun tergolong belum dewasa, tetapi Abdulrahman mampu melakukan pekerjaan-pekerjaan orang tua. Selain menggembala sapi, ia juga ikut menanam padi, memetik cabe, menggoreng rempeyek dan membuat kue apem. Karena itulah kedua orang tuanya sangat sayang kepadanya.
Saat hampir tes semester pertama kelas 4 SD, Abdulrahman tiba-tiba menderita sakit. Perutnya sangat perih dan nyeri seperti ditusuk-tusuk dan disayat-sayat benda tajam. Orang tuanya membawa ke dokter untuk diperiksa. Dengan obat yang diberikan dokter, berangsur-angsur rasa sakit di perut Abdulrahman berkurang, bahkan tidak terasa sakit lagi. Melihat anaknya sudah baikan, orang tuanya meninggalkan Abdulrahman di rumah ditemani adiknya. Salim dan Salamah tidak bisa berlama-lama menganggur di rumah. Mereka harus bekerja.
Musyarifah menunggui kakaknya yang masih pucat karena beberapa hari sakit perut. Ketika Abdulrahman minta adiknya mengambilkan makanan, Musyarifah segera mengambil dan menyuapinya. Setelah habis, Abdulrahman tertidur. Tidak sampai dua jam ia bangun dan merasakan sakit yang luar biasa di perutnya. Abdulrahman sampai menjerit-jerit karena sakitnya. Musyarifah panik melihat kakaknya sakit lagi. Musyarifah berlari ke sawah memberitahukan kondisi kakaknya kepada orang tuanya. Salim dan Salamah kemudian berlari menuju rumah. Begitu masuk rumah, dilihatnya Abdulrahman telah tergeletak jatuh di samping ranjangnya. Melihat anaknya begitu, Salim, Salamah dan Musyarifah menghambur mendekat. Abdulrahman yang telah tak berdaya itu, dibopong oleh bapaknya kemudian diletakkan di ranjang.
“Pak, sakit..,” suara Abdulrahman lirih, kemudian terdiam untuk selamanya.
“Man.., Man.., Rahman!” teriak Salim histeris melihat anaknya telah tiada.
Seketika terjadi hujan tangis di rumah itu. Karena sangat terpukul, ibunya jatuh pingsan. Siang itu juga jenazah Abdulrahman dimakamkan. Musyarifah tidak kuat melihat kakaknya dibawa ke pemakaman. Ibunya dipapah bapaknya untuk dapat bertahan hingga selesai prosesi pemakaman. Tanpa disangka, ketika jenazah Abdulrahman dibawa ke pemakaman, ada salah satu sapi yang meronta dan lepas dari tali pengikatnya. Sapi itu berjalan di belakang iring-iringan pengantar jenazah. Sapi itu mengikuti prosesi pemakaman tuannya hingga selesai. Yang tak diperhatikan orang adalah, sapi itu mengeluarkan air mata. Rupanya sapi itu menangis.
Setelah meninggalnya anak sulung, Salamah sering termenung sendirian. Musyarifah sikapnya juga mulai berubah. Anak perempuan yang ketika ada kakaknya itu, sikapnya sangat santun, manis dan patuh kini menjadi manja, semaunya dan mulai berani menentang orang tuanya. Yang lebih parah, Musyarifah mulai berani berbohong kepada orang tuanya. Salim dan Salamah hatinya resah melihat perubahan sikap anak perempuannya yang sekarang menjadi anak tunggalnya itu. Kesedihan kehilangan anak sulung belum lagi hilang, kini ditambah dengan ulah anak perempuannya. Namun ternyata sifat nakal Muyarifah hanya sesaat. Dia berubah menjadi anak yang baik bahkan bisa juara ketika kelulusan sekolah SD. Meski juara tetapi Musyarifah tidak bisa melanjutkan sekolah karena tidak ada biaya. Musyarifah ingin belajar di pondok yang lebih murah. Tetapi ayahnya tidak mau karena harus berpisah jauh dengan anak.
Saat itu datang Pak Aziz, salah seorang kerabat jauh orang tuanya, yang juga pengasuh pondok. Pak Aziz ingin Musyarifah menemani anaknya sekolah di SMP. Namun Musyarifah harus tinggal di rumah Pak Aziz. Orang tua setuju, namun semua tergantung Musyarifah sendiri mau tidak. Sebenarnya Musyarifah tidak mau meninggalkan orang tuanya.
“Anakku, jika kamu memiliki niat kuat untuk sekolah, kamu kami ijinkan. Kamu tidak perlu memikirkan kami. Kami akan baik-baik saja. Kejarlah cita-citamu menjadi orang sukses, jangan seperti orang tuamu ini. Kami yakin Pak Aziz orang yang baik, kalau tidak, buat apa dia menolong kita.”
Setelah dipikir, Musyarifah memilih sekolah di rumah Pak Aziz. Di sana ia bisa belajar sambil mengaji. Segera Musyarifah mempersiapkan diri untuk berangkat. Pamitan dilakukan dengan penuh haru, karena berat meninggalkan orang tuanya.
Sampai di rumah Pak Aziz, ternyata istrinya sedang menjemur padi di halaman. Musyarifah membantu, mengangkat padi-padi itu. Dua minggu berjalan, Musyarifah tiap malam masih selalu sedih karena teringat orang tuanya. Namun orang-orang desa itu kagum kepada Musyarifah karena dia anak yang cekatan.
Suatu hari orang tuanya berkunjung ke rumah Pak Aziz. Musyarifah senang sekali. Saat itu dia mengadu kalau tidak kerasan. Tetapi orang tuanya kembali menasihati agar betah hingga lulus sekolah. Pada awalnya semua keluarga Pak Aziz baik-baik, tetapi ternyata tidak yang Musyarifah kira. Dia harus makan hati di rumah itu. Hampir semua pekerjaan rumah dia yang harus kerjakan. Anak-anak Pak Aziz tinggal enak-enak saja. Mirip cerita bawang merah dan bawang putih itu.
Ketika kelas 1 SMP dia juara dan mendapat hadiah Rp.900.000,- Rencana uang itu akan diberikan kepada orang tuanya. Namun ternyata uang itu malah dipinjam oleh istrinya Pak Aziz dan tidak pernah kembali. Kelas 2 SMP saat keluarga itu menyewa toko, dia harus jaga toko itu hingga jam 9 malam. Sampai rumah dia harus menyeterika pakaian keluarga Pak Aziz hingga larut malam.
Namun yang membuat Musyarifah tidak kerasan adalah dia tidak boleh pulang. Hanya empat bulan sekali dia boleh pulang ke kampungnya. Setelah masuk kelas 3 SMP dia sudah merasa lega karena sebentar lagi lulus sehingga bisa kumpul dengan orang tuanya. Ternyata setelah lulus Pak Aziz  memasukan Musyarifah ke SMK. Orang tuanya telah menjual sapi untuk biaya itu semua. Perlakuan keluarga Pak Aziz kepada dirinya tidak berubah, masih seperti layaknya pembantu.
Di SMK, Musyarifah mengambil jurusan akuntansi, dengan alasan biar mudah mencari pekerjaan. Karena termasuk anak pintar, Musyarifah sewaktu sekolah di SMK selalu dapat ranking. Ketika lulus dia langsung bekerja di sebuah perusahaan milik salah satu gurunya. Gurunya baik sekali. Melihat bakat Musyarifah maka diajak bekerja di perusahaannya. Kerja di perusahaan Musyarifah juga menunjukkan prestasi sehingga dengan cepat dari karyawan biasa meningkat menjadi manager. Tanpa butuh waktu lama, karena direktur yang lama sudah tua maka Musyarifah diangkat sebagai direktur. Gaji satu bulan Rp.20 juta. Semua itu berkat keahlian dan kejujuran serta prestasi yang diperolehnya selama menjadi direktur.
Saat menerima gaji pertama, uang itu diberikan kepada keluarga Pak Aziz. Gaji kedua diberikan kepada orang tuanya. Gaji selanjutnya dibagi tiga untuk dirinya, orang tua dan keluarga Pak Aziz. Setelah cukup lama membalas kebaikan keluarga Pak Aziz, Musyarifah kemudian pulang ke desanya. Orang-orang desa kaget karena Musyarifah datang membawa mobil yang bagus. Musyarifah kemudian membagikan sembako kepada tetangga-tetangga. Kini Musyarifah bisa menikmati semua hasil usahanya. Meski begitu dia tidak pernah melupakan jasa keluarga Pak Aziz dan selalu membagi kebahagiaan kepada sesamanya. (*)
Yatini – SMKN 2 Blora
Ds. Gedangdowo Rt02/02 Jepon Blora

****************************************************

PENGALAMAN MENGUKIR PRESTASI
Vinca Dia Kathartika Pasaribu

Meski masih baru mencoba mengukir prestasi di bidang tulis-menulis, khususnya puisi, saya sangat bahagia karena Tuhan member saya kesempatan memenangkan beberapa lomba cipta puisi, dan karya saya dimuat di beberapa media. Meski demikian, di balik kebahagiaan yang saya rasakan sekarang, ada berbagai pengalaman pahit yang menjadi asal-usul, alias pemicu lahirnya karya-karya saya.
Sedari kecil (sejak kelas I SD), di sekolah, saya selalu mengalami pengucilan, didiskriminasi oleh teman-teman saya, juga dibenci oleh beberapa guru saya. Penyebabnya karena saya kuper, klemar-klemer, istilah populernya lemot. Selain itu saya juga sakit-sakitan dan punya kelemahan di bidang olah raga. Ya sudah, dari Tuhan dikaruniai seperti itu, mau bagaimana lagi. Sebetulnya saya tidak pernah mempermasalahkan, karena buat saya setiap manusia pasti memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tetapi karena kekurangan-kekurangan itu, teman-teman di sekolah tidak mau berteman dengan saya. Bahkan ketika ada tugas kelompok, tak jarang saya mengerjakan sendiri karena tak ada yang mau berkelompok dengan saya.
Lebih parah lagi, sewaktu kelas 3 hingga 5 SD, saya pernah mengalami trauma, disebabkan oleh kekerasan yang dilakukan guru olah raga saya. Saya dibentak, dipukuli, disuruh membersihkan toilet…uh, semua itu sudah menjadi hukuman sehari-hari yang saya terima sebagai hadiah karena tidak mampu mengikuti pelajaran olah raga dengan benar.
Hingga detik inipun tak ada yang berubah, padahal usai lulus SD, saya berharap dapat menemukan kehidupan baru di SMP yang saya pilih, namun ternyata tak jauh berbeda. Beruntung saya selalu bisa mengkonsultasikan seluruh masalah saya kepada mama, dan mama pasti mencarikan solusinya.
Ada satu lagi peristiwa yang berperan paling penting dalam proses pencapaian prestasi saya, yaitu masalah ekonomi yang baru saja dihadapi keluraga saya. Karena papa ditipu seseorang dalam bisnisnya, kami sekeluarga terjerat hutang ratusan juta. Harta benda kami habis terjual, mulai dari barang-barang sepele, hingga klimaksnya menjual dua rumah kami, yang salah satunya adalah rumah yang kami tinggali. Usai kejadian itu, kami sekelurga membangun rumah kecil di desa. Rumah itu kami juluki rumah bata, karena hanya terdiri dari batu bata, dan langit-langitnya belum diberi plafon.
Segala peristiwa itulah yang akhirnya memicu saya untuk menggali potensi diri yang bisa dikembangkan. Saya ingin menjadi anak yang berguna bagi diri sendiri dan bagi orang-orang yang mengasihi saya. Dan akhirnya saya mampu membuktikan bahwa setiap manusia memang punya kekurangan dan kelebihan masing-masing.  

Vinca Dia Katartika Pasaribu (SMPN I Jember)
Perum Pondok Gede Blok CE No.18 Jember Jatim

****************************************************************

AIR MATA UNTUK VERINA
Fakhrun Nisa

Minggu pagi yang cerah, sang matahari lambat laun muncul di ufuk timur bersama cahayanya yang begitu terang. Embun segar masih tampak membasahi daun-daun dan rerumputan.
Verina Kanaya, gadis berparas cantik itu membuka matanya, sesekali menguap dan masih mengucek-ucek kedua mata indahnya. Verina, begitu ia kerap dipanggil adalah gadis belia yang hidup bahagia bersama kedua orang tuanya. Verina merupakan anak tunggal, tak heran jika ia tumbuh menjadi gadis yang manja. Dia pintar bermain basket, sehingga menjadi anggota tim basket sekolahnya. Meski manja, namun Verina juga lincah, periang dan supel. Banyak temannya, namun hanya seorang yang dianggap sebagai sahabat karibnya, Andre namanya. Verina sudah bersahabat dengan Andre sejak SD hingga beranjak remaja sekarang.
“Kring..,kring..,”terdengar telepon rumah Verina berdering.
Verina segera bangun dari tempat tidur dan mengangkat gagang telpon.
“Halo,” terdengar suara laki-laki di seberang sana.
“Halo, dengan siapa ya?”
“Andre. Verinanya ada?”
“Oh kamu Ndre, ini aku sendiri. Ada apa pagi-pagi telpon?”
“Ini, rencana aku mau latihan basket. Aku mau ngajak kamu bareng. Bagaimana?”
“Hmm..,” Verina tidak segera menjawab.
“Ayolah Ver, mau ya!” desak Andre.
“Oke.”
“Siip. Aku tunggu nanti di tempat biasa ya!”
Setelah meletakkan gagang telpon, Verina mengambil handuk dan bergegas ke kamar mandi. Setelah selesai mandi, ia menuju ke lapangan basket di dekat kompleks rumahnya. Verina keluar mengenakan topi andalannya, karena pagi itu terik matahari sudah mulai menyengat. Ia naik sepeda gunung milik ayahnya. Sampai di sana sudah ada Andre yang menyambutnya dengan senyum merekah.
“Hei Ver, pagi ini kamu pasti dapat aku kalahkan,” kata Andre mantap.
“Eits..jangan asal ngomong kamu. Kita buktikan saja.”
Pertandingan dua sahabat itu sangat sengit. Ketika Verina hendak memasukkan bola ke keranjangnya, tiba-tiba Verina merasakan sakit yang luar biasa di kepalanya. Ia terjatuh dan dahinya membentur lantai hingga mengeluarkan darah segar. Andre panik melihat Verina tergeletak. Ia segera larikan Verina ke rumah sakit yang tak jauh dari tempat itu.
Orang tua Verina datang ke rumah sakit setelah dikabari Andre. Verina ditangani di ruang UGD. Ibu Verina tidak henti-henti menangis, sementara ayahnya memeluk untuk menenangkan istrinya.
“Kamu, mestinya menjaga Verina, Ndre,” kata ayah Verina.
“Maaf Om, saya juga tidak menyangka akan seperti ini,” kata Andre lirih.
“Sudah Pak, ini semua bukan salah Andre,” kata ibu Verina masih dengan terisak.
Seorang dokter keluar dari ruang UGD. Ayah Verina segera menghampiri dokter itu.
“Bagaimana kondisi anak saya, Dok?”
“Tenang Pak, anak bapak sudah stabil. Luka di dahi juga tidak parah. Namun ada hal lain yang perlu saya sampaikan,” kata dokter.
“Ada apa dengan anak saya Dok?”
“Maaf, putri bapak menurut hasil pemerikasaan kami, mengidap kanker otak. Saya yakin kanker itu sudah lama bersarang di tubuh putri bapak.”
Mendengar ucapan dokter itu, tangis ibu Verina semakin menjadi. Ayah Verina langsung terduduk lemas dengan air mata berlinang. Andre yang selama delapan tahun lebih bersahabat dengan Verina, merasakan kesedihan yang luar biasa. Dadanya bagai ditusuk sembilu hingga ke ulu hati, mengetahui sahabatnya menderita kanker ganas di otaknya. Sore yang kelabu, hujan badai turun dengan sangat derasnya.
Setelah peristiwa itu, kehidupan Verina berlangsung kembali seperti biasa. Andre dan orang tua Verina sengaja merahasiakan penyakit Verina. Mereka takut jika Verina tahu, menjadikan sedih yang justru akan memperburuk kondisi kesehatannya. Meski tidak diberi tahu namun Verina merasakan adanya perubahan pada tubuhnya. Kepalanya sering sekali pusing yang amat sangat. Fisiknya juga turun drastis, mudah capek ketika bermain basket. Akibatnya ia dikeluarkan dari tim basket sekolahnya.Tentu Verina sangat terpukul dengan kejadian tersebut. Ditambah sejak pulang dari rumah sakit, ke sekolah, ayahnya selalu mengantar dan menjemputnya. Ibunya sering memberi obat dengan alasan sebagai vitamin untuk menambah stamina dan biar tidak mudah sakit. Semua itu membuat Verina heran, namun ketika ditanyakan kepada ibunya tidak pernah mendapatkan jawaban.
“Bu, Verina mau nonton basket,” kata Verina setelah berpakaian rapi.
“Iya, sayang. Biar Ibu antar ya.”
“Tidak usah Bu. Verina berangkat sendiri saja. Kan juga tidak jauh.”
“Tapi, Nak..,” perkataan ibunya terhenti.
“Tapi apa Bu?”
“Hmm, nggak, nggak apa-apa kok. Lupakan saja. Ibu tak mengijinkan kalau kamu berangkat sendiri.”
“Verina bukan anak kecil lagi Bu, sudah kelas 2 SMA, bisa menjaga diri,” kata Verina dengan mata berkaca-kaca.
“Ya sudahlah, kamu boleh pergi sendiri. Tetapi harus jaga diri sebaik-baiknya. Jangan lupa cepat pulang ya!” kata ibunya mengalah.
“Terimakasih Bu. Verina sayang ibu,” kata Verina sambil memeluk ibunya.
“Ibu juga sayang kamu Nak,” ibunya meneteskan air mata.
“Ibu kok menangis?”
“Nggak apa-apa. Ibu bahagia bisa memelukmu sayang.”
“Ibu ini ada-ada saja. Memeluk Verina kan bisa kapan saja. Bahkan sampai Verina jadi nenek-nenek masih bisa ibu peluk kok.”
Ibu Verina semakin deras air matanya. Hatinya teriris oleh ucapan Verina yang polos.
“Hati-hati ya Nak,” ibu Verina mencium pipi anaknya.
Verina berangkat naik sepeda motor. Namun belum sampai GOR tempat pertandingan basket, tiba-tiba kepala Verina terasa sakit luar biasa. Pandangan menjadi kabur. Ia tak mampu mengendalikan motornya. Motornya oleng dan menabrak sebuah mobil. Verina terjatuh dan langsung dilarikan ke rumah sakit oleh pengendara mobil itu.
“Bapak dan ibu seharusnya memberitahu sejak awal kondisi putri bapak,” kata dokter.
“Maafkan kami Dok. Kami hanya tidak ingin melihat putri kami sedih.”
“Iya, kami bisa memahami. Namun saat ini kita hanya bisa berdoa, semoga Verina mampu melawan kanker yang semakin mengganas dengan kondisi tubuh yang seperti itu.”
Mendengar percakapan orang tua dan dokter, Verina terbangun lemah. Verina membuka matanya dan mengawasi sekelilingnya.
“Ayah, Ibu…”
“Iya, sayang,” ibu Verina memeluk putrinya.
“Andre di mana?”
“Aku di sini Ver,” Andre menyahut pelan. Ia menghampiri Verina dengan senyum manis.
“Cepat sembuh ya Ver. Kalau sembuh nanti aku belikan es krim. Enak loh dimakan siang-siang. Mau kan?” ungkap Andre sambil menyembunyikan rasa sedihnya.
Air mata Verina mengalir deras mendengar ucapan Andre. Ia sangat senang dengan sahabatnya itu. Namun ia juga sedih setelah tahu kondisi yang sesungguhnya.
“Ayah, Ibu, Andre.., aku sudah tahu kalau aku mengidap penyakit ganas. Aku juga tahu aku tak akan bisa hidup lama lagi,” kata Verina lirih.
“Kamu jangan ngomong begitu Ver, kamu pasti sembuh. Kami semua sayang kamu,” kata Andre sambil mengusap air mata Verina.
Ibu Verina hanya bisa menangis mendengar ucapan anak semata wayangnya. Ayah Verina yang sedari tadi berusaha tegar sekarang tidak sanggup lagi menyimpan kegundahan hatinya. Air matanya mengalir dari sudut matanya.
“Sebenarnya aku ingin hidup lebih lama lagi. Aku ingin menggapai impian-impianku. Namun jika Tuhan ingin mengambilku sekarang, aku sudah rela. Aku rela karena aku telah bersama dengan orang-orang yang aku sayangi. Ayah, Ibu, Andre..aku sayang kalian.”
Mata Verina terpejam. Isak tangis membahana di ruang ICU. Ibu Verina jatuh pingsan. Ayah Verina mendekap erat Andre untuk membagi kegalauan hatinya. Dengan linangan air mata diciumnya putri tersayangnya.
“Selamat jalan sayang. Ayah, Ibumu sangat sayang padamu. Tunggu kami di sana.”
Hujan tangis sore itu berbarengan dengan hujan deras di luar rumah sakit. (*)

Fakhrun Nisa – SMAN 1 Gubug Demak
Desa Tlogosih Rt.05/01 Kebonagung Demak

***************************************************

KISAH ANAK PELAUT
Ankaa Rafflesia Andhini
Di sebuah desa hiduplah seorang anak perempuan, yang saat lahirnya ayahnya tidak ada di sampingnya karena sedang mengarungi lautan. Ya, karena seorang pelaut maka ayahnya bekerja di kapal dan berada di laut dalam waktu yang lama. Anak itu diberi nama ‘Ankaa Rafflesia Andhini’. Sebuah nama yang diambil dari bintang dan nama kapal yang dinaiki ayahnya sewaktu anak itu lahir.
Ibunya adalah wanita yang sangat tegar, karena beliau mampu berjuang sendiri untuk melahirkan anak itu meskipun tidak didampingi suami. Ankaa juga anak yang tegar, dia juga mampu untuk hidup walau tanpa didampingi ayahnya setiap saat. Dia tahu jika ayahnya akan sayang dan selalu ingat kepadanya walaupun jauh darinya, dan kata ibunya yang selalu melekat di benaknya adalah ‘walau kita jauh dengan ayah, tetapi hati kita akan selalu dekat, walau terbentang oleh jarak dan waktu’. Itulah kata-kata yang tidak bisa hilang dari fikiran dan kalimat itulah yang membuat Ankaa sanggup untuk menghadapi semua.
Sekarang Ankaa sudah berumur 13 tahun. Dan dia bersekolah di SMPN 2 Blora kelas VII4. Ankaa adalah anak yang ceria di sekolahnya dan selalu ingin menghibur teman-temannya, karena dia seorang yang mudah bergaul, jadi banyak teman yang senang bermain dengannya. Dia tidak pernah memandang apakah itu orang miskin atau kaya. Yang dipikirkan hanya rasa kekeluargaan dan rasa sayang sesama teman. Berbeda jika Ankaa sudah berada di rumah. Dia akan menjadi anak pendiam, dia tidak pernah mengeluh apapun kepada ibunya karena dia tahu kalau ibunya sudah menanggung beban yang berat. Dia selalu menampakkan wajah yang ceria kepada ibunya. Dia tidak ingin membuat sedih dan menambah beban ibunya walau di hati Ankaa sebenarnya menangis. Ankaa tetap tersenyum jika di hadapan ibunya. Setiap malam Ankaa selalu menangis jika ingat ibunya selalu menangis di setiap malam dan jika mengingat ayahnya yang lama tidak pulang karena dia pernah ditinggal selama dua tahun, dan hanya berkomunikasi lewat telpon saja. Tetapi itupun jarang sekali dilakukan karena di tengah lautan susah untuk mendapatkan sinyal telpon. Sekarang ini ayahnya dapat pulang tiga bulan sekali karena beliau sekarang bekerja di Halmahera. Meski selama tiga bulan, ayahnya paling lama hanya empat hari di rumah. Ankaa tetap bersyukur dengan kondisi itu.
Ketika Ankaa akan tidur dia tidak sanggup lagi untuk membendung air matanya yang selalu menetes. Dan tidak bisa memungkiri kalau sebenarnya dia kangen sekali dengan ayahnya. Setiap malam dia menangis sambil berdoa, “Ya Allah berikan hambamu kekuatan untuk menghadapi semua ini, dan berikan keselamatan kepada ayah hambamu ini. Ya Allah berikanlah yang terbaik untuk kita semua. Amin.”
Dia selalu membayangkan ayahnya ada di sampingnya, tetapi itu semua hanya khayalan belaka. Dia harus menanti tiga bulan agar bisa bertemu dengan ayahnya. Ankaa tidak pernah bisa membayangkan jika menjadi seperti ayahnya yang bekerja sebagai pelaut, karena resiko seorang pelaut rawan bahaya, yang dipertaruhkan nyawa. Karena itu kekhawatiran Ankaa selalu memuncak jika dia mendengar berita atau siaran tivi yang berkaitan dengan kecelakaan kapal atau ada bencana di laut.
Ankaa juga tidak pernah membayangkan jika dia akan terlahir dari seorang ibu yang sangat tegar dan ayah yang bekerja sebagai pelaut. Ankaa sebenarnya iri dengan teman-temanya yang ayahnya bekerja tidak jauh dari rumahnya sehingga bisa pulang tiap waktu. Ankaa selalu sedih jika melihat anak yang sedang bermanja-manja dengan ayahnya. Hatinya sakit seperti diiris-iris, karena dia tidak pernah merasakan itu dalam hidupnya. Bukan itu saja sebenarnya dia ingin merasakan bagaimana rasanya diantar sekolah ayahnya walau hanya sekali. Tetapi semua mungkin hanya mimpi, karena sampai sekarangpun dia tidak pernah diantar oleh ayahnya.
Lebaran Idul Fitri yang lalu, menurut orang-orang lain mungkin hari yang bahagia. Tetapi tidak untuk Ankaa, karena tiga kali lebaran berturut-turut ayahnya tidak pulang untuk merayakan lebaran bersama keluarga, karena terhalang oleh pekerjaan yang tak mungkin ditinggalkan. Betapa sedihnya Ankaa waktu itu, sampai-sampai ibu, kakakk,adiknya dan Ankaa menangis ketika pulang sholat Idul Fitri. Mereka sedih karena di hari suci ini ayahnya tidak berada di tengah-tengah mereka. Tetapi itu semua adalah takdir Allah yang tidak bisa diubah. Dan itu semua yang dinamakan ‘resiko sebagai anak pelaut’. Walaupun begitu Ankaa selalu sayang kepada ayahnya. I love you Daddy. (*)
Ankaa Rafflesia Andhini – SMPN 2 Blora
Jl. Gunandar No.72 Blora

***********************************************


AKU INGIN JADI PUTRI
Ella Septiana Adi Gunaning

Namanya Vita. Dia dari keluarga ‘Honeymall’. Kini dia sudah kelas tanah atau kelas 2 di sekolah “Alamyscial”. Di sekolahnya tidak ada kelas 1 atau 2. Tetapi kelas Air (kelas 1), Tanah (kelas 2), Api (kelas 3), Angin (kelas 4), yang terakhir Awan (kelas 5).
“Sebenarnya, aku tidak suka sekolah di sini. Tetapi ini kemauan orang tuaku yang ingin diriku menjadi kasisat/ahli alam. Aku lebih suka menari dan menyanyi daripada harus membuat penemuan di sekolahku ini. Sahabatku Tiara juga sependapat denganku. Kami lebih suka di sekolah ‘Princess Menvoula’, yaitu sekolah mewah di atas awan,” tutur Vita panjang lebar.
Banyak yang ingin sekolah di sana. Sekolah itu tampak seperti istana. Vita dan Tiara merasa tidak mungkin bisa masuk ke sekolah itu dan tidak akan mengidam-idamkan sekolah itu lagi, karena sekolah itu sekolah untuk para bangsawan. Mereka itu adalah anak raja atau perdana menteri, dan bila beruntung anak tabib dan ahli elemen juga bisa sekolah di sana.
Banyak anak bersekolah di sana. Tetapi jika sudah kelas Awan harus keluar, bila bukan anak raja atau perdana menteri. Jika sudah kelas Bintang (kelas 6) dan berhasil dalam tes Fider, bisa dipastikan menjadi Putri yang bergelar Federlic, yang artinya terbaik dan yang istimewa.
Di kelas Vita kali ini harus membuat sebuah penemuan. Barulah bisa naik ke kelas Api. Saat Vita kelas Air, ia juga harus membuat penemuan. Ia membuat kincir air, tetapi tidak terlalu berguna dan sangat sederhana. Di kelas Air, hanya perorangan membuat penemua. Vita merasa lega , membuat penemuan kali ini berkelompok. Kelompoknya bernama ‘Tara’ (Vita dan Tiara). Meskipun hanya berdua, tak merendahkan kecerdasan Vita.
Hari pertama adalah percobaan. Vita dan Tiara mencoba membuat alat yang berguna untuk melubangi tanah dan mengisinya dengan benih tanaman. Kesalahan terjadi, tiap lubang ada yang berisi 3 benih dan ada yang berisi 2 benih.
Hari kedua adalah renungan. Mereka berpikir satu hari.
Hari ketiga adalah hasil renungan. Tiara ingin membuat alat pakaian. Vita ingin membuat lemari dan jika masuk, baju yang tadi dipakai akan berganti. Akhirnya mereka tidak sepakat membuat apapun. Tiara tidak membuat alat yang dimaksud Vita.
Hari keempat adalah kesepakatan. Vita dan Tiara terpaksa membuat ‘Magic Cupboard’. Suasana kerajaan tanpa penata busana istana, ‘Magic Cupboard’ sangat dibutuhkan. Semua ahli mencoba membuat alat itu, tetapi tak ada yang berhasil. Itulah sebabnya mereka berdua berencana membuatnya.
Hari kelima adalah hasil. Vita dan Tiara menyelesaikan dua alat sekaligus. Alat yang pertama adalah gagasan Tiara, yaitu alat pembuat pakaian. Alat itu disambungkan ke alat gagasan Vita. Dua alat itu menjadi ‘Magic Cupboard’. Kelemahannya adalah tidak semua orang boleh memakainya, hanya orang yang terdeteksi saja.
Berita tentang alat itu tersebar sampai ke istana. Raja yang mendengar langsung memanggil mereka berdua. Raja bangga ada yang bisa membuat ‘Magic Cupboard’. Vita dan Tiara mendapat hadiah dari Raja, yaitu sekolah di ‘Princess Menvoula’.
Seragam sekolah mereka sangat bagus. Seragam mereka berbentuk gaun dan bisa menjadi pakaian ballet. Tetapi Vita dan Tiara tetap sekolah di ‘Alamyscial’. Vita dan Tiara belum bahagia, karena kelas Awan dia harus keluar. Mereka menemui Raja. Vita dan Tiara mengutarakan maksudnya. Raja sebenarnya sudah membicarakan itu, sebelumnya dengan Kepala Sekolah. Kini Vita dan Tiara sudah tenang dan tak perlu lagi memikirkan hal tersebut.
Karena mereka pintar, tidak terasa sudah kelas Awan. Yang masuk kelas Awan hanya enam anak. Karena yang lain sudah keluar. Mereka adalah Vita, Tiara, Fiona, Laras, Nanys dan Tyrsa. Mereka bangga bisa lolos uji dan tidak dikeluarkan.
Fiona dan Nanys adalah anak Patih Raja. Laras dan Tyrsa adalah anak Perdana Menteri II. Vita dan Tiara bukan anak bangsawan. Tetapi Raja mengangkatnya menjadi anak angkat. Tiap orang duduk berpasangan dengan teman masing-masing.
Hanya beberapa bulan saja mereka sudah masuk kelas Bintang. Patricia si anak Raja menyusul. Vita mengajaknya duduk bertiga, tetapi Fiona mengajak paksa Patricia duduk bersama. Vita tidak marah dengan hal itu. Nanys yang duduk sendiri, diajaknya duduk bertiga bersama Tiara. Nanys menceritakan mengapa Fiona memaksa Patricia duduk bersama. Patricia sebenarnya Putri Federlic, tetapi karena tak cukup umur dia hanya menjadi Putri Mutiara (calon Putri Federlic).
Tetapi Patricia mempunyai kalung mutiara seperti kalung mutiara Federlic. Dan Fiona ingin memilikinya. Patricia juga tidak pasti menjadi Putri Federlic. Karena ia tidak pandai dalam bidang alam, dan juga belum sekolah di ‘alamyscial’.
Hari yang ditunggu orang-orang pun datang. Hari pengujian adalah hari kelas Bintang berakhir. Pengujian itu di hadapan semua masyarakat. Yang menonton banyak. Ada orang tua Vita dan Tiara. Pengujian kali ini ada 6 meliputi keahlian menari dan menyanyi, berdandan terbaik, perenang terbaik, keahlian memainkan pedang, membuat penemuan dan kontrol alam. Persiapan Vita adalah sepatu ballet, gaun, air sinar, baju renang, pedang kabisat, alat rias dan masih banyak lagi.
Pengujian dimulai. Vita menari ‘Water Rainbow’ dan menyanyi ‘Little Rabbit’. Tiara menari Awan dan menyanyi lagu Alam. Ujian berdandan, Vita memakai busana seperti Princess Sanvera (Putri Federlic III), gaunnya merah dan berliannya biru. Selanjutnya pengujian membuat penemuan. Vita membuat ‘Magic Cupboard’. Tiara sibuk membuat ‘Game Maker’, yaitu alat pembuat mainan.
Sebelum pengujian terakhir, ditampilkan skor yang sudah dicapai. Skor Tyrsa 200, Nanys 211, Laras 314, Fiona dan Tiara 409, Vita dan Patricia 501. Persaingan ketat antara Vita dan Patricia. Ujian terakhir adalah kontrol alam, peserta harus mencari elemen mereka masing-masing tanpa bergerak sedikitpun. Sangat sulit bagi Vita. Ia harus mengingat pelajaran di kelas Tanah dulu. Inilah kelemahan Patricia, ia juga jarang berlatih. Mungkin inilah saatnya Vita menjadi pemenang. Skornya melebihi skor Patricia. Tetapi Vita tetap bersemangat. Vita terdiam dan termenung, ia ingat saat di kelas Tanah dulu. Ia sering dimarahi Pak Slik, gurunya. Pak Slik adalah guru kontrol alam yang membuat Vita pandai. Meski sering dimarahi, tetapi Pak Slik tetap sayang kepada Vita, dan menjadikannya sebagai murid kesayangan. Sampai akhirnya Vita mendapatkan juara satu dalam perlombaan ‘Sky Kontrol Alam Olimpiade’.
Tanpa disadari Vita, Pak Slik melihat pengujian itu. Lewat feeling, Pak Slik memberi semangat Vita. Vita merasakannya, tetapi ia tidak boleh bergerak. Vita terus berkonsentrasi. Dan pada akhirnya, byuur kreek! Ada Naga air keluar dari gua tanah yang menabrak pepohonan. Elemen yang pertama keluar. Naga itu memutari Vita. Ternyata itu milik Vita. Orang tua Vita dan Pak Slik terharu melihatnya.
Ini pertanda bahwa Putri Federlic adalah Vita. Vita bangkit dan naik ke atas naga itu. Lalu air memutarinya, Vita berubah. Vita telah mengenakan pakaian indah. Patricia yang melihatnya pun terheran-heran.
“Inilah ‘Putri Federlic’ kita saat ini!” kata Raja ikut bahagia melihatnya.
Vita sangat senang, impiannya kini terwujud. Tetapi, ia harus membalas budi kepada orang-orang yang telah memberinya semangat. Vita kini tinggal di istana Federlic. Vita menjadi Putri Federlic yang bergelar ‘Federlic Dragon Water’. Vita tak akan lupa dengan orang-orang telah mengantarkannya sampai menjadi Putri Federlic V. Inilah pengalaman hidup yang paling mengesankan bagi Vita. (*)

Ella Septiana Adi Gunaning (SMPN 4 Purwokerto)
Perum Griya Satria Bantarsoka Blok O No.18 Purwokerto
***********************************************************

RONDA JUMAT KERAMAT
Sakti Mahardika
Dua kaki berselimutkan sepatu sport turun dari minibus trayek Tawangmangu-Solo. Tubuh bak binarangkawan Aming dan rambut gondrong ala Baby Romeo pelantun Bunga Terakhir, serta jenggot panjang yang dikepang dua belas khas promotor fenomenal masa kini Ahmad Dhani, serta busana trendi gaya Alay adalah penampakkan fisikku masa kini.
Lima bulan dua puluh sembilan hari lalu, setelah menerima selembar kertas berjudul ijazah, aku mencoba kelayapan di ibukota Tanah Jawi, Semarang. Hanya berbekal uang hasil ngamen sepanjang jalan Temanggung-Solo dan selembar kertas yang mengesahkan kelulusan dari seorang anak dengan nama kereta yaitu Sadiyo Raharjo Mangunkusumo Dimedjo yang lebih dikenal dalam dunia maya dengan sebutan Dion. Bapakku adalah juragan sate kelinci di lereng Lawu. Walau dengan nilai rata-rata yang dapat dikategorikan pas-pasan, aku waktu itu tetap punya hasrat besar menjadi orang sukses, minimal seperti kesuksesan dari bapaknya kakekku yang bernama Raden Dimedjo. Beliau dulu adalah juragan teh, cengkeh, dan sate kelinci. Tetapi setelah beliau meninggal, usahanya mulai gulung tikar satu persatu. Anak beliau yaitu kakekku, mbah Mangunkusumo menggulung hektaran perkebunan teh dan cengkeh. Akibatnya, usaha yang masih tersisa hanyalah usaha jualan sate kelinci yang sekarang dipegang oleh bapak.
Pengalaman di kota Atlas ternyata tak berakhir dengan kisah senyuman. Memetik buah kesuksesan itu ternyata tak semudah memetik buah strawberi di perkebunan milik Dhe Parman. Rasanya pun pahit semua, mungkin rasa manis di Semarang hanya aku rasakan saat minum segela teh manis di Simpang Lima. Itupun kudapat setelah membantu nyuci 30 piring. Maka dari itulah aku putuskan untuk pulang kampung saja ke Lawu. Tetapi, sebelum sampai di rumah aku sempatkan merias diri agar orang tua melihat setidaknya ada sedikit perubahan pada anaknya. Rambut asli, tubuh kecil tak apa, bisa alasan diet, jenggot dikepang sendiri, baju dan sepatu pinjam teman SMA yang kebetulan rumahnya di samping terminal Tirtonadi Solo. Dengan ojek argo Rp.2.000,- aku menuju gubug tempatku berasal. Setelah sampai di rumah ternyata wajahnya tak jauh beda. Mungkin yang dulu halaman bak hutan anthrium, sekarang jadi hutan rumput.
“Askum, Pake!”
“Wah anak lanang pulang. Gimana kabarnya kamu? Hasil di Semarang mana?”
“Baik, hasilnya ini Pake bisa lihat. Tapi,saya belum bisa belikan sesuatu buat Pake. Wah Pake sekarang pinter bahasa Indonesia ya, sama seperti saya dong. Pasti kalau tidak ada program Desa Wisata, Pake pasti masih kowe-kowe. O ya, ibuk mana Pake?”
“O, ibukmu sekarang masih di Jakarta. Anaknya mbakmu lagi sakit. Ya wis, kamu istirahat sana dulu. Nanati malam gantikan Pake ronda ya!”
Langit barat mulai kemerah-merahan bernoda hitam bergelombang dan menenggelamkan bintang raksasa penyinar dunia di balik undukan tanah. Udara bertemperatur Negara Rusia mulai menyelinap di setiap lubang kehidupan. Kain, rambut serta jenggot panjangku mulai membeku. Suhu kutub seperti sudah tak dirasakan oleh pori-pori kulitku selama enam bulan kurang sehari. Alunan nada-nada yang dihasilkan oleh benturan air jernih puncak Lawu dengan bebatuan di kali melintas di tengah kampung menghantarkanku dalam perjalanan menuju pos ronda yang berada di belokan jalan dekat jembatan reyot dan di bawah pemakaman yang baru saja menerima penghuni baru siang tadi.
Sambil menunggu jarum jam pendek berhenti tepat angka sembilan, aku mampir dulu di warung mbak Narni untuk menenggak kopi Lampung plus susu sapi asli Boyolali. Jagung bakar dan kacang rebus juga menemani nostalgiaku bersama teman sekolah dulu.
Asyiknya forum reuni kecil itu sedikit melenakan tugas bapakku yang diembankan kepadaku. Tidak hanya tugas duniawai, tetapi tugas akhirat yang lebih bersanksi tegas pun aku lupakan, sehingga tiga rakaat magrib hilang begitu saja. Tak ingin mengulangi, sebelum ronda aku sempatkan sujud di mushola. Biasanya mushola kampung ramai di malam Jumat. Tetapi kali ini berbeda, semua warga pergi untuk kirim doa ke rumah tetangga di kampung sebelah yang siang tadi kehilangan salah satu anggota keluarganya. Aku jadi merinding saat shalat sendiri di mushola kuno itu. Nyali untuk jadi satpam malam pun jadi goyang. Tetapi tak apa, ada teman yang juga jaga malam ini.
“Hei Radjito, apa kabarmu?” sapaku pada teman ronda malam ini.
“Ee, Dion Cungkring. Kapan pulang?”
“Tadi siang. Jangan panggil saya cungkring dong. Panggil saja Dion.”
“Oke, tapi kamu juga harus panggil saya Ramon. Istri saya yang memberi nama itu. Katanya biar lebih keren.”
“Wah istri, kamu sudah kawin ya. Pasti istrimu pinter, dari Muhammad Radjito bisa jadi Ramon alias rai monyet. Ha..ha..ha..!” Gelak tawa di dalam pembicaraan kami sedikit mencairkan suasana mistis malam Jumat Kliwon itu. Sampai di tengah serunya obrolan di pos ronda, Ramon mendapat SMS bapaknya, yang menyuruhnya segera pulang karena istrinya mau melahirkan.
SMS itu akhirnya memaksaku untuk jaga sendirian malam ini. Yang sebelumnya bulu kuduk tidur, kini mulai menegang. Detak jantung juga mulai deg deg ser. Keringat dingin mulai menetes dari pori-pori kulit. Untuk menghilangkan rasa itu, aku coba SMS-an dan update status di FB. Pulsa masih 38.450 tapi sayang, masa aktifnya habis kemarin. Untung di pos ronda ada tivi, akhirnya aku putuskan untuk nonton tivi saja. Tetapi, dari sepuluh stasiun tivi nasional, hanya dua yang tertangkap, itupun acaranya berbau misteri semuanya, yaitu bioskop misteri di TV3 yang menayangkan Rumah Angker Padalarang dan Pemburu Tuyul di PRTV.
Ketika aku sibuk memutar-mutar antena tivi dari ujung jembatan berjalan seorang yang berambut panjang menuju ke arah pos ronda. Terdengar lolongan anjing malam kala itu. Sayup-sayup aku berusaha melihat fisiknya. Tetapi kabut malam terlalu tebal. Aku berusaha tenang di pos sambil menunggu sosok itu terlihat lebih jelas. Lima meter dekat pos, sosok itu mulai jelas. Ternyata dia adalah Rahma. Seingatku Rahma itu sudah meninggal setahun lalu. Aku pun bersiap untuk tancap gas. Tetapi sosok wanita mirip Rahma itu berteriak, “Tunggu!” dan langkahku terhenti.
“Aku Rahmi Mas, kembarannya  Rahma.”
“Rahmi? O.., Rahmi. Saya kira..itu. Maaf ya, tetapi malam-malam begini kenapa keluar?” jawabku sambil menahan rasa malu.
“Cuma mau mencari udara segar Mas. Di rumah panas. Ini tivinya acaranya bagus mas. Saya temani nonton ya.”
Walau Rahmi di sampingku, aku tetap saja merinding. Apalagi Rahmi memakai pakaian serba putih. Aku merasa seperti duduk di sampimg makhluk halus berkelamin perempuan. Sekarang tubuhku mendadak gerah. Akhirnya aku meminjam gelang tali milik Rahmi untuk mengikat rambutku.
Tak lama setelah kedatangan Rahmi, dari ujung jalan arah barat datang seorang laki-laki tua dengan bungkusan plastik di tangan kirinya. Perasaanku mulai resah lagi. Tetapi di depan Rahmi aku berusaha tenang.
Aku begitu beruntung, ternyata laki-laki itu masih makhluk dari dunia yang sama denganku. Beliau adalah Pak Blantik yang rumahnya di kampung sebelah. Tetapi wajah beliau sedikit aneh karena mata sebelah kiri beliau ditutup pakai kapas. Katanya sih matanya habis dicakar cucunya kemarin. Kedatangan bapak itu pun juga dibarengi dengan kedatangan seekor burung hantu yang kemudian hinggap di pohon beringin samping pos.
“Dari mana Pak?”
“Dari warung seberang jalan sana. Ini bapak beli roti coklat dan keripik singkong kesukaan cucu,” sambil mengacungkan plastik hitam di tangan kirinya.
“Bapak kan gak langsung pulang. Kalau mampir di sini menemani ronda, saya boleh meminjam sarungnya Pak?”
“Ya silakan, bapak masih pakai jaket. Ini acara tivinya kok bagus ya. Saya ikut nonton ya,” kata Pak Blantik kemudian ikut nonton bersama Rahmi.
Saat mereka berdua asyik nonton acara misteri, aku justru membelakangi mereka, karena aku tidak berani nonton acara seperti itu apalagi di tengah malam seperti ini.
Malam semakin larut, tetapi Rahmi dan Pak Blantik masih asyik nonton. Tiba-tiba aku menerima SMS dari Ramon, yang mengabari bahwa anak dan istrinya sekaligus meninggal saat melahirkan. Menerima SMS itu aku semakin merasa bahwa ronda malam ini semakin keramat. Tetapi akhirnya aku tertidur karena tidak kuat menahan rasa kantuk.
Tubuh bak bunga es. Titik beku telah mencapai tulang-tulang yang hanya terbungkus oleh daging tipis nan lembek. Raga ini telungkup melingkar karena dingin udara tadi malam. Sampai tak terasa adzan subuh dari mushola nyaring terdengar. Aku masih pejamkan mata di lantai bambu pos ronda. Tiba-tiba tubuh ini digoyang-goyang oleh benda seperti tangan manusia.
“Yon, Yon, bangun sudah subuh.” Perlahan aku sadarkan pikiran dan hati dari mimpi.
“Ya, ya. Sudah subuh ya.” Jawabku sambil mengucek kedua bola mataku dan merenggangkan tulang-tulang yang kaku.
“Habis ronda ya? Sama siapa?”
“Ee, pak Haji. Iya Pak, ronda sama Ramon sebenarnya. Tetapi Ramon pulang duluan. Untungnya ada Rahmi dan Pak Blantik,” jawabku dengan setengah sadar.
“Apa? Rahmi dan Pak Blantik? Kamu jangan bercanda Yon!” wajah pak Haji sangat kaget mendengar dua nama itu.
“Memangnya ada apa dengan Rahmi dan Pak Blantik?” Aku jadi penasaran.
“Yon, Rahmi itu sudah meninggal bunuh diri karena diputus oleh pacarnya seminggu yang lalu. Pak Blantik baru meninggal kemarin karena tumor di mata kirinya.”
“Mereka sudah meninggal? Tidak mungkin, saya masih meminjam sarungnya Pak Blantik dan gelang talinya Rahmi kok. Ini buktinya.” Jawabku sambil menunjukkan sarung milik Pak Blantik dan melepas ikatan rambutku. Tetapi ternyata kain itu bukan sarung lagi, sudah berubah menjadi kain mori putih dengan bercak-bercak coklat tanah dan gelang tali juga berubah menjadi seutas tali putih pengikat pocong.
“Saya benar kan. Itu kamu lihat sendiri. Kamu tidur dengan selimut kain orang mati dan mengikat rambut dengan tali pocong. Bungkusan plastik itu apa Yon?”
“Katanya sih kue coklat dan keripik singkong.”
Setelah kubuka ternyata plastik itu berisi gumpalan tanah dan bunga mawar warna merah.
“Ya sudah sekarang kita shalat saja. Mungkin  pengalamanmu tadi malam itu adalah sebuah petunjuk dari Allah untuk mengingatkanmu bahwa semua manusia pasti mati. Maka rajinlah kamu ibadah dan melakukan amal shaleh untuk bekal kamu mati nanti.”
“Ya Pak Haji, saya harus punya bekal. Siapa tahu nanti siang saya mati.”
Akhirnya kututup pengalaman ronda malam Jumat yang keramat itu dengan satu pelajaran hidup yang berharga. Walaupun menghasilkan sebuah pelajaran, tetapi aku tidak mau lagi ronda di malam hari. Nanti setelah Rahmi dan Pak Blantik, bisa-bisa aku ketemu kakekku, mbah Raden Dimedjo. Hii…atut!

Sakti Mahardika ( SMAN SBBS / Sragen Bilingual Boarding School)
Pondok Rt 19 Desa Sambirejo, Kec Sambirejo Sragen Jawa Tengah

**************************************************


FOREVER FRIEND’S
Rahma Azkiya Utami

Bel istirahat berbunyi. Anak-anak berebut keluar kelas setelah pelajaran fisika. Semua keluar kelas tak terkecuali gadis pemurung, dengan asesoris kacamata berantai yang menghiasi mata kuning keemasan, dan mengelilingi rambut hitam terurainya.
Sifatnya jauh berbeda dari anak SMP lainnya. Dia anak pindahan dari Inggris. Termenung di taman melihat pemandangan indah, dan menulis di buku super tebal yang berisi puisi. Itulah kegiatan Kenne selama istirahat berlangsung. Ya.., Kenne Brughten namanya. Banyak yang bilang Kenne adalah anak yang sombong, dan tak bisa berteman dengan teman-teman dari Indonesia. Tetapi berbeda dengan teman-teman lainnya, Kenne adalah anak yang baik di mata Haira. Haira adalah anak pertama yang berbincang dengan Kenne dulu waktu pertama kali dia masuk. Sayang sampai saat ini Kenne tidak berani buka mulut dengan teman-temannya.
“Ya.., masih diam juga itu anak. Hebat, kapan dia akan punya teman? Dasar bodoh!” kata Aira dengan sombong saat melewati Kenne.
Dalam hati, Kenne berkata dengan sangat menyesal, “Aku memang bodoh, jahat. Mentang-mentang dari luar negeri, aku tidak peduli dengan teman-teman, aku egois,” matanya berkaca-kaca. Butiran-butiran air keluar dari matanya yang indah tak tahan rasanya Kenne ingin menjerit.
“Kenne!” panggil Haira dengan yang ia letakkan di pundak Kenne.
Kenne tak peduli, ia tetap menangis tersedu dengan tangan menutupi matanya.
Bel pulang berbunyi. Seperti biasa Kenne pulang sendiri tanpa ada jemputan dan seorang yang menemani pulang. Namun tiba-tiba dari belakang dikagetkan oleh seorang perempuan berambut panjang digerai yang berlari ke arahnya dan memanggil namanya.
“Haira? Apa yang kamu lakukan di sini? Mau mengejekku lagi? Belum puas dengan yang Aira lakukan tadi?” kata Kenne dengan ketus.
“Hah, sudah kukira pasti ulah Aira, ” katanya seperti seorang detektif.
Kenne bingung apa maksud sebenarnya Haira datang ke arahnya berjalan.
“Hai.. Kenne mau pulang bareng? Aku juga searah sama kamu. Eh boleh main ke rumahmu tidak?”
“Mmm..Ya..boleh,” tak terasa juga sampai di rumah Kenne yang super besar seperti villa itu.
“Wah..rumah bagus,” ungkap Haira dengan mulut ternganga.
Kenne tersenyum dan mengajaknya masuk.
“Ini kamarku.”
“Ya ampun hebat. Luas banget. Kamu tinggal sama siapa?”
“Bibi dan mama. Tapi mamaku sibuk pulang malam, berangkat pagi. Sedangkan papaku sudah meninggal lima tahun lalu karena kecelakaan. Untung aku dan mama selamat walaupun aku..ah sudahlah. Haira makasih ya kamu mau berteman dengan orang yang tidak pantas untuk berteman dengan kamu.”
“Huss..kamu ngomong apa sih. Semua berhak punya teman. Maaf ya, duh.. malah jadi kayak begini,” jawab Haira sedikit penasaran dengan apa yang telah terjadi pada Kenne lima tahun lalu.
Akhirnya Kenne memiliki teman yang sangat perhatian kepadanya dan selalu ada bersamanya yaitu Haira. Pertemanan dengan teman-teman Indonesia juga mulai terbuka berkat Haira. Kini Kenne sudah berteman baik dengan Aira. Bermain, bercanda dengan teman-teman membuat Kenne sangat bahagia.
Tak terasa sudah mendekati hari ulang tahun Kenne.
“Eh teman-teman setuju tidak kita memberi hadiah spesial untuk Kenne. Sebentar lagi ia ulang tahun,” kata Aira kepada teman-temannya.
“Ya.. setuju!” jawab semua teman dengan kompak.
Pada suatu kesempatan Kenne menjelaskan kejadian yang menimpanya lima tahun lalu kepada Haira.
“Yah kejadian itu sunguh mengenaskan.”
“Sudah. Jangan dilanjutkan jika memang kamu tidak sanggup cerita. Jangan dipaksa, kumohon Kenne.”
“Tidak. Aku ingin bebas dari trauma itu dan ingin segera bebas dari semua yang mengekangku. Aku ingin seperti yang lain, walau..” Kenne tak melanjutkan kalimatnya.
“Walau apa Ken?”
“Ah..tidak apa-apa. Yuk masuk kelas, sudah bel.”
Ketika pulang Haira mendapat SMS dari Aira yang mengabarkan kalau teman-teman sudah sepakat untuk memberikan hadiah spesial kepada Kenne.
“Wah ini anak tumben baik. Biasanya kerjanya ngerjain orang melulu,” katanya dalam hati.
Esoknya di kelas, sesuai rencana Kenne seharian penuh, dicueki oleh teman-teman sampai pulang sekolah.
“Surprise Kenne! Happy Birthday..Selamat ulang tahun!” teriak Haira dan Aira kompak.
Begitu teriakan Haira dan Aira berhenti, bunyi terompet langsung terdengar memekakkan telinga. Hati Kenne sungguh ingin meledak kegirangan karena belum pernah ulang tahunnya dirayakan sebegitu meriah oleh teman-temannya. Kenne bukan ikut berteirak, namun malah manangis tersedu-sedu.
“Eh.. ehh.. Ken. Kenapa kok nangis?” Aira jadi tergagap-gagap.
“Sungguh aku terharu tau. Makasih semua,” kata Kenne dengan suara cemprengnya saat menangis.
“Ini. Hanya ini yang dapat kami berikan untuk ulang tahunmu,” kata Haira sambil menyerahkan kado yang super besar untuk Kenne.
“Tiup..lilinnya..,tiup lilinnya..” teriak Bagas.
“Ta..daa..surprise kedua,” teriak Ana sambil membawa kue blacakforest kesukaan Kenne.
Sungguh hari yang membahagiakan bagi Kenne.
Tak terasa hari Sabtu yang bahagia ini hanya akan segera berakhir. Di rumahnya Kenne tergeletak pucat, pingsan di depan pintu rumahnya.
“Astaga..Kenne!” teriak Hanne bibi Kenne.
Dipanggilnya dokter langganan ke rumah untuk memeriksa keadaan Kenne.
“Bagaimana Dok. Bagaimana keadaan anak saya? Saya takut penyakitnya yang dulu kambuh lagi.” Kata mama Kenne sambil menangis.
“Tidak, biarkan dia istirahat dulu. Dia hanya kecapekan,” kata dokter sebelum pulang.
“Kenne bangunlah Nak,” kata mama Kenne berharap sambil memegang tangan kanan Kenne.
“Bangunlah Nak, kasihan mamamu,” sambung bibinya.
“Mah, apa sih. Aku sudah bangun. Oh iya tadi aku dikasih itu sama teman-teman,” kata Kenne yang sudah sadar sambil menunjuk boneka beruang biru hadiah dari teman-teman sekolahnya.
“Wah iya ya, mama lupa. Ini, selamat ulang tahun Kenne,” kata mama Kenne sambil menunjukkan kalung emas bertuliskan Kenne Brughten.
“Makasih Ma. Aku bahagia banget hari ini. Walau mungin aku akan tinggalkan semua,” kata Kenne sambil menatap jendela.
“Tidak Nak. Stt jangan kau ucapkan itu,” kata bibinya ketus.
Beberapa jam mama dan bibinya menemani Kenne hingga tertidur lelap dalam mimpi indah. Namun tak berapa lama kemudian Kenne terbangun karena ada yang ingin ia sampaikan. Kenne munuju meja belajar dan menuliskan sesuatu di secarik kertas.
Pagi itu Minggu, mama Kenne libur, jadi bisa menemani Kenne seharian penuh.
“Nak..bangunlah. Katanya mau main dengan Haira dan Aira di rumah,” kata mama Kenne sambil membelai kepala Kenne agar bangun.
Namun entah mengapa sudah sepuluh kali dibangunkan Kenne tidak bangun juga.
Di lain tempat Haira dan Aira bersama ingin ke rumah Kenne sesuai janjinya. Tiba-tiba saja guci di rumahnya pecah karena tak sengaja tersenggol tangan Haira. Sebelumnya Aira di rumahnya juga menjatuhkan gelas isi susu coklat yang akan diminumnya.
“Oh..ada apa ini?” kata Haira dan Aira hampir bersamaan.
Yang terlintas di benak mereka adalah wajah Kenne. Mereka langsung menuju rumah Kenne.
“Nak Haira, Aira.. hiks..silakan masuk. Mari ke atas, ke kamar Kenne,” kata mama Kenne sambil menghapus air matanya.
“Ada apa Tante?”
“Kenne! Tidak mungkin!” kata Haira dan Aira bersamaan begitu masuk kamar Kenne.
“Iya. Tante juga baru sadar tadi saat ingin membangunkannya. Hiks..ini ada secarik kertas dari Kenne. Sepertinya ingin disampaikan kepada kalian,” mama Kenne menyerahkan kertas yang ditulis Kenne semalam.
Untuk sahabatku Haira dan Aira.
Haira..Aira..Makasih selama ini kalian sudah mau berbagi kebahagiaan bersamaku. Aku memang sudah sembuh dari amnesiaku waktu kecelakaan. Namun Tuhan berkehendak lain. Aku mengidap kanker otak. Aku sudah divonis dokter. Kini.. kenangan-kenangan tersebut akan hilang ditelan zaman. Aku tau, aku bagaikan setetes air yang akan menghilang dari bumi. Namun ingatlah sahabatku, kenangan kita takkan hilang dari ingatanku. Aku ingin pergi dengan tenang. Aku ingin tersenyum di surga. Aku ingin saat aku pergi jangan menangis. Aku ingin melihat kalian tersenyum, bahagia dan tegar untukku. Kumohon, aku ingin terus bahagia bersama kalian. Aku mohon maaf belum bisa membuat kalian bahagia. Untuk mama dan bibi : tersenyum ya Mah, Bi. Makasih telah merawat Kenne sampai seperti ini. I Love You Mam, Aunt!
“Kenne..jangan tinggalkan aku. Kenapa kamu nggak bilang ke aku Kenne,” keluh Haira.
Tangan Aira mengelus pundak Haira untuk mencoba tegar.
“Tante harap kalian nanti ikut hadir dalam pemakaman Kenne.”
“Pasti..pasti Tante,” kata Haira dan Aira gagap.
Di pemakaman, teman-teman, kerabat, tetangga, mama dan bibi Kenne, sungguh merasa kehilangan.
“Kenne..kenapa cepat sekali kau pergi,” keluh Haira.
“Sudahlah Ra. Jangan sedih lagi. Kenne tidak akan tenang jika kamu seperti itu. Kenne kami janji akan tepati semua keinginanmu. Kami akan tersenyum untukmu,” kata Aira tegar.
“Kenne semoga kau tenang di sana Nak,” kata mama dan bibi Kenne bersama.
Walau kan terhapus dari muka bumi, aku tetap akan di samping kalian selamanya untuk bahagia. Forever friend’s. Daa..” ungkapan Kenne yang sudah tidak bisa didengar lagi oleh teman-temannya, mama dan bibinya.(*)

Rahma Azkiya Utami (SMPN 5 Depok Sleman Jogjakarta)
Gg. Garuda 258 Pasekan Rt.07 Rw.40 Maguwoharjo Sleman Jogjakarta


*************************************************************


ANJING BERMUKA DUA
Fitriyanto
“Aduh aku kok bisa lupa ya!” selaku.
Aku sedang berjalan pulang sambil memegang kertas ulangan matematika. Beginilah keadaanku seperti biasa, tak selalu mulus dalam mengerjakan ulangan matematika. Pada kertas itu tertulis dua angka merah tebal. Itu adalah angka tuju dan lima.
“Padahal tinggal sedikit lagi!” ujarku kecewa.
Aku membayangkan jika satu nomer saja benar, pasti aku lulus. Kekesalan makin menjadi karena udara saat itu tidak bersahabat. Tangan kananku mengusap keringat yang mengalir melewati dahiku. Aku bisa melihat hamburan debu akibat sepatuku yang menghantam jalanan berdebu.
Di sat itulah aku teringat tentang Mia, sahabatku. Saat itu adalah hari yang sama panasnya seperti hari ini. Aku sedang mengikuti jambore nasional di Rembang. Saat itu matahari bersinar terik menyentuh kulitku yang lembab karena keringat terus mengalir. Saat itu aku mengikuti upacara pembukaan jambore di lapangan yang terletak di tengah tenda-tenda peserta.
“Dengan ini Jambore Nasional secara resmi dibuka!”
Suara gong berbunyi menandakan dimulainya jambore. Tiba-tiba adrenalin kami naik, padahal sebelumnya sempat turun karena teriknya matahari siang di Rembang.
Aku bergegas menuju tenda untuk mengambil segelas air. Kulangkahkan kakiku meski sangat lelah tetapi rasa hausku mengalahkan semuanya. Setelah mengambil segelas air, aku berjalan menuju bagian depan tenda. Ketika telah sampai di depan tenda, aku melihat gadis seusiaku tengah memegang kedua lututnya dan ia kelihatan sangat lelah.
“Kamu tidak apa-apa?” tanyaku saat sudah di dekatnya.
“Boleh minta segelas air?” katanya sambil menatap gelas yang kupegang.
Aku mendengar nafasnya yang terengah-engah kerena lelahnya.
“Tentu..tentu!” kuserahkan gelas di tanganku.
Tangannya yang berkeringat langsung menyambar gelas itu dan menghabiskan airnya tanpa sisa.
“Terima kasih,” katanya sambil tersenyum lega. “Aku Mia dari Magelang. Kalau kamu?”
“Aku Susan dari Jakarta,” jawabku dengan senyum.
Setelah itu kami berbincang-bincang akrab. Mia tinggal di dekat gunung Merapi. Selain itu ia mempunyai hobi sama denganku yaitu berkirim surat dan mengumpulkan gantungan kunci. Satu bulan telah berlalu. Persahabatan kami terjalin di antara tenda-tenda yang berdiri di perkemahan itu.
“Janji ya kita akan tetap berhubungan!” kata Mia.
“Tentu saja!” jawabku mantap.
Tanpa terasa langkahku telah sampai rumah. Terlihat rumah bertingkat dua bercat putih dengan taman kecil di depannya. Rasa capekku semakin bertambah ketika berjalan di antara pohon-pohon yang bergoyang diterpa angin sepoi-sepoi. Setelah memasuki rumah aku langsung menuju kamar untuk istirahat.
“Sudah pulang, Sayang?” sapa ayahku yang sedang santai menyaksikan berita tivi di ruang keluarga. 
 “Iya Yah. Aku langsung ke kamar ya. Soalnya hari ini jadwalku padat sekali. Ingin istirahat.”
“Ya sudah. Cepat istirahat sana.”
Kubuka pintu kamarku yang bercat kuning keemasan, warna kesukaanku. Setelah berganti baju, aku langsung membaringkan tubuh letihku di atas kasur. Aku masih bisa mendengar suara tivi di ruang sebelah, karena aku sudah tidak punya tenaga lagi untuk menutup pintu kamarku. Kupejamkan mataku perlahan dan mencoba mengistirahatkan otot-ototku setelah sepagian penuh beraktifitas. Ketiak kesadaranku sedikit demi sedikit terbawa hembusan nafasku, aku mendengar sayup-sayup seseorang memanggil namaku. Tatapi lelahku tak bisa kubendung lagi dan aku terlelap dalam dunia bawah sadar tanpa sedikitpun dihampiri mimpi.
“Susan..Susan!’ suara lembut membangunkanku.
“Cepat bangun, Sayang.”
Kubuka mataku dan kuregangkan otot-otot yang kaku.
“Ayo Sayang. Cepat sholat sana,” kata mama sambil menarik tubuhku jauh dari bantal.
“Iya Ma, ini juga sudah bangun.”
Ketika melewati ruang tamu tiba-tiba ayah berkata, “Ada kabar buruk!”
“Ada apa Yah?”
“Ketika kamu tidur tadi Merapi meletus. Kalau Ayah tidak salah ingat, kamu punya teman yang tinggal di sekitar Merapi kan? Kalau tidak salah namanya..mm..”
“Oh ya..namanya Mia kan?”
“Mertapi meletus?” pikranku langsung melayang pada gadis yang kehausan akibat teriknya matahari di Rembang.
Ketika selesai shalat aku berdoa untuk temanku Mia yang tinggal di sekitar gunung yang meletus itu. Aku hanya berharap ia dan keluarganya selamat dan baik. Doaku buyar ketika mendengar ayahku berteriak.
“Susan..Susan, Merapi meletus lagi!”
Aku langsung berlari ke ruang keluarga, membiarkan mukena dan sajadah berantakan.
“Telah terjadi letusan ke dua kali. Letusan ini terjadi sekitar pukul 14.30 WIB. Letusan ini lebih dahsyat dari letusan sebelumnya. Hal ini mengakibatkan jarak aman dari Merapi menjadi 15 km, dari sebelumnya 10 km. Mia Hartanti dan Yuda Winarto melaporkan dari tempat kejadian.” Kata seorang reporter berusia sekitar 20 tahun. Rambutnya hitam panjang digerai di depan tubuhnya. Seketika itu aku teringat Mia, yang kebetulan mempunyai nama yang sama dengan reporter tivi itu. Tubuhku seakan tak bertenaga dan terduduk di sofa.
“Susan, kamu tidak apa-apa?” Tanya ayah cemas.
Aku tak bisa menjawab, hanya menganggukkan kepala.
“Kamu jangan terlalu sedih. Kamu harus berusaha mencari kabar sahabatmu itu. Oke!” ayah mengacungkan dua jempol padaku.
Aku mencari informasi tentang meletusnya Merapi dari internet. Aku sampai tertidur karena kelelahan membaca berita dari komputerku. Pagi harinya aku mengikuti berita di tivi.
“Ini gambar yang diambil setelah letusan ke dua terjadi. Terlihat seorang mayat gadis sedang memegang sebuah gantungan kunci berbentuk anjing bermuka dua..”kata seorang reporter.
Seketika itu pikiranku melayang pada gantungan kunci yang persis sama seperti yang dijelaskan reporter tersebut. Gantungan itu aku berikan pada Mia pada hari ulang tahunnya ke 15. Itu adalah dua minggu yang lalu. Rasa sedih mulai memenuhi hatiku dan pikiran tentang meninggalnya sahabatku tak bisa kuenyahkan dari pikiranku. Air mataku pun terjatuh saat berlari membuka pintu.
“Ting..tung..” suara bel berbunyi. Aku langsung berlari menuju pintu sambil mengusap air mataku yang sempat menggenang. Berdirilah seorang dengan seragam jingga membawa sepucuk surat di tangan kanannya dan sebuah tas di tangan kirinya.
“Apa Susan ada?” tanyanya.
Setelah menandatangani tanda terima aku sempat terkejut karena aku bisa melihat nama Mia tertulis di pojok kanan bawah surat tersebut. Surat itu bertuliskan tentang rasa senang Mia mendapatkan hadiah dariku. Ia juga berkeingingan mengunjungiku pada liburan semester yang akan datang. Tetapi pada akhir kalimat ia minta maaf karena tidak hati-hati menjaga gantungan itu dan puncaknya gantungan itu hilang. Surat itu ditulis sebelum letusan pertama Merapi terjadi. Aku terhenyak karena gantungan itu telah jatuh ke tangan orang lain. Ada perasaan dan was-was menyelimutiku setelah menerima surat Mia. Tetapi dari surat itu ada secercah harapan bahwa aku akan menghabiskan waktu liburan bersama Mia.
Pencarian sahabatku terus berlanjut. Semua berita tentang Merapi merupakan santapan harian. Beberapa hari kemudian datang lagi surat dari Magelang. Alangkah senangnya hatiku ketika mengetahui itu surat kedua dari Mia. Isi suratnya ungkapan maaf tentang gantungan kunci, dan di dalam surat juga berisi gantungan kunci berbentuk candi Borobudur. Mia tahu kalau aku belum pernah pergi ke candi terbesar di Indonesia itu. Jadi aku sangat senang menerimanya.
Keesokan harinya tiba-tiba bel berdering. Sama seperti pertama kali aku melihatnya. Ia langsung tersenyum ramah padaku.
“Apa kabar Dik Susan?” sapanya ramah.
 “Baik Pak,” senyumku mengembang di bibirku. Setelah mendapat surat dari Mia, aku selalu menunggu surat berikutnya.
Kubuka surat itu dan ternyata surat bukan dari Mia, melainkan dari kakaknya. Paragraf pertama berisi tentang hari di mana Mia mengirimkan hadiah untukku. Itu adalah hari sebelum letusan pertama terjadi. Tetapi bagian terakhir yang membuat hatiku terisis.
Aku mengirimkan surat ini ketika aku sudah berada di rumah pamanku di Jakarta. Ini adalah cerita tentang adikku, Mia. Setelah letusan pertama terjadi aku dan keluargaku langsung kembali ke rumah untuk mengambil barang-barang kami yang belum sempat dibawa. Kami pikir tidak aka ada letusan susulan secepat saat itu. Setelah sampai di rumah aku dikagetkan dengan suara keras dari adikku. Ternyata ia menemukan gantungan kuncinya di bawah sofa. “Mas akhirnya aku menemukannya.” Aku masih ingat senyum manisnya itu. Tapi tiba-tiba terjadi letusan kedua dan tanpa pikir panjang aku berlari. Setelah sampai di tempat aman, aku baru sadar Mia tidak bersamaku. Tetapi aku yakin Mia akan selamat. Keesokan harinya, ditemukan mayat di reruntuhan rumah kami. Mayat tersebut membawa gantungan kunci yang sama seperti gantungan yang Mia bawa…
Seketika itu rohku bagai ditarik paksa dari tubuhku dan kesadaranku hilang. Aku terjatuh di lantai ruang tamu. Samar-samar aku melihat wajah ayah mendekatiku. Tetapi kesadaranku sudah lenyap sebelum ayah mendekat.
Beberapa hari setelah kejadian itu, aku terus mengenang kepergian Mia. Aku selalu menjaga surat, hadiah, dan kenangan tentang dirinya. Aku yakin kami akan bertemu lagi. Oleh karena itu aku percaya persahabatan kami akan kekal untuk selamanya.(*)

Fitriyanto (SMAN SBBS/Sragen Bilingual Boarding School)
Jl. Raya Mondoka Km.1 Kedawung Mondoka Rt.14 Rw.5 Sukoharjo. 

********************************************************

Dengan terbitnya buku ke 5 ini, maka kami cukupkan publikasi karya tulis para pelajar
yang mengikuti lomba menulis oleh Pataba tahun 201
Lomba menulis merupakan agenda tahunan Pataba
dalam mewujudkan cita-cita Pataba
Membangun masyarakat Indonesia yang gemar membaca dan mampu menulis
Kami tunggu karya-karya para pelajar di Pataba
Tulisan dapat dikirim langsung via pos ke alamat Pataba Jl. Sumbawa 40 Jetis Blora
Atau via email : pataba_membangun@yahoo.com

0 komentar:

Poskan Komentar