Kamis, 10 Mei 2012

Pataba Press Buku 1 " Tulisan Terpilih Karya Anak Semua Bangsa "


MENYONGSONG USIA
Vinca Dia Kathartika Pasaribu

Mentari yang melamur ke permukaan tanah
Telah menyungkupi tetubuh bimantara dengan tabir kencananya
Menandakan sebuah hari baru saja terbit
Dan jenjang baru kan diawali sebelum disakralkan
Menjadi kalimat yang terbukukan dalam memoar

Terimakasih atas kenduri yang kau haturkan padaku
Entah harus bahagia atau berpilu aku
Menyongsong usia menua
Biru pagi yang perlahan-lahan lamur dibawa petang

Ah, apa beda kematian dan kehidupan?
Di kematian tak pernah bisa kupagut angan
Sedang di kehidupan tak pernah bisa kuwujudkan impian


Nama Penulis           : Vinca Dia Kathartika Pasaribu
Asal Sekolah             : SMPN 1 Jember Jawa Timur
Judul                                    : Menyongsong Usia

***************************************************************************



MELUKIS HIDUP
Amelina Lailasari

Hidup ini terlalu sulit untuk dilukiskan. Mulai saat ini, itu prinsipku. Aku tak ingin lagi memikirkan rumitnya hidup ini. Aku sudah lelah melihat kegilaan-kegilaan yang akhir-akhir ini sering terjadi. Aku mual mendengar komitmen dan janji palsu. Apalagi menyaksikan orang yang bermimpi menggapai bulan tapi tak mau belajar terbang terlebih dahulu. Apa mereka pikir hidup ini mudah? Tinggal bermimpi dan apa yang mereka mau jadi kenyataan.
Hidup ini terlalu rumit untuk dilukiskan. Jadi orang baik mendapat cibiran dari mana-mana, jadi orang jahat pun dikucilkan berbagai pihak. Lalu harus jadi apa? Aku jadi malas bercita-cita ataupun bermimpi. Bermimpi hanya membuatku berkhayal tentang mimpi itu, dan setelah aku tergiur, mimpi itu akan lenyap, menguap bagai asap.
Meski begitu, ada satu hal yang aku inginkan. Mudah saja, aku ingin melukis hidup, walaupun aku tak tahu hidup seperti apa yang bisa kulukis. Aku tak tahu bagaimana melukiskan indahnya cinta yang kemudian meninggalkan luka dalam. Aku bingung bagaimana melukiskan keluarga yang seharusnya menjadi tempat berlindung justru menjadi neraka. Hidup ini terlalu kompleks. Tapi tetap saja aku ingin melukis hidup, walau aku tak bisa melukis.
Sebagai seorang lelaki, jujur saja aku malu. Malu pada diriku sendiri karena aku tak punya cita-cita. Karenanya ayah sering menegur dan memarahiku.
“Kamu itu lelaki. Kalau nggak punya cita-cita, kerjaan cuma melamun terus tiap hari. Anak istrimu besok mau kamu kasih makan apa? Mimpi?” kata ayah sore itu.
“Hidup itu mengalir aja lah, yah. Air saja bisa mengalir terus kok. Pusing dipikir terus,” jawabku
“Terserahlah nak. Capek nasehatin kamu,” kata ayah lalu meninggalkanku.
Begitulah ayahku. Tak pernah memaksaku harus begini atau begitu. Sayangnya justru hal itu yang membuat ayah ibuku sering debat. Bahkan akhir-akhir ini mereka lebih sering bertengkar.
“Ayah seharusnya lebih tegas sama anak. Jangan dibiarkan begitu, nanti jadi kebiasaan,” kata ibu tiap kali memarahi ayah. Tetapi ayah selalu diam saja, tak pernah menjawab omongan ibu. Ayah tak pernah suka menyiram api dengan bensin.
“Ayah bisanya diam terus. Ayah pikir kalau diam masalah bisa selesai?”
“Ayah harus bagaimana sih bu? Anaknya saja pinginnya begitu kok. Kenapa harus dipaksa?” jawab ayah santai.
Aku pernah mencintai seorang gadis. Dia hanya gadis sederhana, bahkan biasa saja. Tapi justru itulah yang membuatku mencintainya. Tutur katanya halus. Apalagi tingkah lakunya. Membunuh semutpun dia tak tega. Kupikir hatinya pasti selembut kapas. Tapi, dalamnya hati seseorang siapa yang tahu?
Siang itu aku ingin mengajaknya jalan-jalan. Karena aku hanya anak dari keluarga sederhana, jadi aku tak mungkin mengajaknya ke bioskop atau ke mall dan membelikannya beraneka ragam busana. Aku berniat mengajaknya ke taman dekat sekolah. Taman itu sebenarnya hanya sepetak tanah kosong di tepi sungai. Di taman itu terdapat bangku panjang. Ya, di tempat itulah aku menyatakan cinta kepadanya.
Yah, manusia hanya berencana bukan? Tetap saja Tuhan yang menentukan. Apa dayaku ketika melihatnya sedang asyik berbincang-bincang mesra di depan rumahnya bersama pemuda lain? Apa aku bisa memutar waktu? Memasuki lorong waktu dan membuat hal ini tak pernah terjadi?
“Maafin aku, Yuda. Aku nggak bisa terusin hubungan kita lagi,” katanya padaku bahkan sebelum aku mengatakan sepatah katapun. Semudah itu dia mengatakannya. Menghancurkan hatiku berkeping-keping.
“Nggak apa-apa. Kalau kamu lebih bahagia sama dia, aku yang mundur,” kataku tertunduk  dan tersenyum pahit. Sekuat tenaga kutahan air mata ini agar tak keluar. Harga diriku bisa hancur jika aku menangis di sini.
Aku pun pamit. Aku berlari. Berlari kencang. Aku tak tahu harus pergi kemana. Aku tak mungkin pulang dalam keadaan seperti ini. Rasanya rumah bukan tempat yang tepat untuk melampiaskan sakit hatiku.
Jadi, tempat inilah yang menjadi tujuanku. Ya, taman di tepi sungai. Rasanya tempat ini adalah surgaku. Aku duduk di tepian sungai, memasukkan kakiku yang terbakar amarah saat berlari tadi ke dalam sungai. Kakiku mulai dingin. Kini saatnya menenangkan pikiranku.
Kuamati air sungai yang mengalir, lalu kupejamkan mata. Kucoba menghapus ingatanku tentangnya, gadis pujaanku. Sulit sekali menghilangkannya dari otakku. Semakin kucoba lupakan, semakin jelas kenangan itu menari-nari di kepalaku. Melompat dengan gemulai mencetak satu luka baru di hatiku. Sungguh tak kusangka dia tega melakukan hal ini padaku.
Aku tak tahu berapa lama aku berada di tepi sungai itu. Mungkinkah aku tertidur? Tiba-tiba aku mendapati air mata telah mengering di pipiku. Kubersihkan mukaku, kemudian beranjak pulang.
Sepanjang jalan masih saja kuteringat kata-kata polosnya, yang dengan santai mengakhiri hubungan kami. Ah, sulit melupakannya. Apalagi jika teringat saat kunyatakan cintaku padanya, luka ini seperti ditetesi air jeruk.
“Tia..,” kataku kala itu.
“Emmm, ya? “ jawabnya pelan.
“Aku sayang kamu, Tia,” kataku. Aku memang bukan orang yang romantis, apalagi merayu seorang gadis. Aku sudah menyerah sebelum bertempur. Tapi kali itu lain. Dorongan hati yang menggebu-gebu membuatku berani menyampaikannya.
Pipi Tia merona, memerah seperti tomat. Aduh, jantungku berdetak tak karuan, berpacu melawan waktu. Sekuat tenaga kutenangkan jantungku, tapi tak berhasil.
“Emm, aku..aku juga sayang kamu, Yuda,” jawab Tia lirih. Saat itu bisa kurasakan jiwaku melayang ke angkasa meski kakiku masih berpijak di bumi.
Dahulu, peristiwa itu adalah memori yang terindah bagiku. Pelipur lara dan penghapus kesepianku. Aku bisa tersenyum lebar hanya dengan membayangkan kejadian itu. Tapi kini tidak lagi. Setelah dengan mudah dia mengakhiri semua ini, peristiwa itu laksana belati paling tajam yang melukai hatiku.
“Ayah pikir diam saja menyelesaikan masalah? Lihat anakmu, kerjanya luntang-lantung nggak jelas kayak gitu! Tegas dikit yah! Ayah itu laki-laki, laki-laki kok nggak bisa tegas sama anaknya, bisanya diam terus!”.
“Terus ayah harus gimana to bu? Si Yuda sudah berkali-kali ayah nasehati, tapi dia maunya begitu. Yuda belum ingin kuliah. Yuda juga sudah kasih tahu alasannya, Yuda masih bingung mau kuliah jurusan apa.”
“Ya ayah juga tentukan. Yuda memang sudah besar, Yah. Tapi kalau nggak bisa menentukan masa depannya, kita juga punya hak memilih jalan buat Yuda. Kalau Yuda nggak mau ya dipaksa dong, yah!”
“Kalau dipaksa, apa dia bisa kuliah betul-betul? Kita keluar uang banyak buat kuliah Yuda juga sia-sia bu, kalau Yuda nggak serius.”
Aku memang sudah lulus SMA dan sampai sekarang menganggur. Aku tak punya cita-cita, jadi aku memutuskan untuk tidak kuliah sampai aku menemukan “aku di masa depan”. Tak kusangka hal ini menjadi masalah besar bagi keluargaku.
Tuhan memang memutuskan segalanya. Keputusanku untuk pulang ternyata bukan hal yang tepat. Pulang dengan tujuan ingin menenangkan pikiran yang tegang, tapi di rumah justru kudapati sedang terjadi pertengkaran. Lebih menyebalkan ketika aku tahu bahwa, justru akulah penyebab pertengkaran orang tuaku.
Kucoba mengabaikan pertengkaran orang tuaku. Aku bergegas menuju kamarku, dan mengunci pintunya. Kubanting tubuhku ke tempat tidur. Menutup kepala dengan bantal. Tapi tak dapat meredam suara pertengkaran orang tuaku. Pertengkaran pun meluas. Masalah-masalah baru bermunculan dalam pertengkaran itu. Ayah kehilangan sifat diamnya.
Aku berpikir, mencari sesuatu hal yang bisa mengalihkan pikiranku, lalu teringat pada satu-satunya keinginanku, melukis hidup. Aku masih saja awam akan keinginanku ini. Aku mencoba fokuskan pikiranku pada hal ini.
Samar-samar kudengar teriakan-teriakan dari luar kamarku. Suara ini membuyarkan pikiranku. “Aku nggak bisa berpikir di sini,” kataku pada diri sendiri. Lalu kuputuskan untuk pergi ke taman lagi. Kuambil secarik kertas dan sebatang pensil dari meja di samping tempat tidur, dan segera meninggalkan rumah.
“Mau kemana lagi kamu, Yud? Keluyuran nggak jelas kaya gitu!” bentak ibu ketika aku menuju pintu depan.
“Mau cari angin. Sumpek di rumah terus. Bosen dengerin orang bertengkar!” jawabku asal.
“Jangan kurang ajar kamu, Yud! Kamu ini bicara sama..” aku bergegas meninggalkan rumah. Aku tak perlu mendengar kelanjutan kata-kata ibu. Aku bosan dengan semua kata-kata monoton yang diucapkan ibu saat marah.
Aku berjalan sambil melamun. Memikirkan bagaimana caranya melukis hidupku? Bagaimana caranya melukiskan kisah cintaku yang berakhir mengenaskan? Keluargaku yang sering bertengkar akhir-akhir ini? Semakin kupikirkan semakin jauh aku dari jawaban yang kuinginkan.
Kisah cinta terlalu kompleks untuk dilukiskan. Jangankan dilukiskan, bahkan aku tak mengerti bagaimana jalannya cinta itu. Perasaan yang awalnya begitu indah, membawaku terbang ke angkasa, lalu karena tiupan badai menghempaskan kembali ke bumi. Meninggalkan luka di sekujur tubuhku. Bagaimana melukiskannya?
Melukiskan cinta dalam hidupku pun aku tak tahu bagaimana caranya. Apalagi ditambah dengan kemelut permasalahan keluargaku? Bagaimana menggambarkanya? Ah pusing aku memikirkannya.
Tiba-tiba kakiku berhenti berjalan. Ingatanku menangkap bayang air sungai yang sering kuamati, mengalir. Aku tahu! Aku tahu jawaban yang selama ini kucari. Aku mendapatkan jawaban dari pertanyaanku selama ini, apa yang aku inginkan selama ini.
“Aku tahu!” Pekikku kegirangan. Tiba-tiba…
“Tiiiiiinnnn….!!! Brraaakk!!”
Sebuah mobil angkot menghantamku. Karena melamun, aku tak menyadari berhenti di tengah jalan. Aku terbang ke udara, namun dengan cepat terjerembab ke tanah. Aku kehilangan sebagian kesadaranku. Kucium aroma darah di sekitarku. Bau amis yang membuatku mual. Tulangku pasti remuk, karena aku tak dapat menggerakkan tubuhku sama sekali. Tubuhku terasa lemah, hanya pikiranku yang masih segar, kegirangan karena menemukan bagaimana caranya melukis hidup.
“Aku tahu! Aku tahu bagaimana caranya melukiskan hidup,” kataku masih kegirangan. Kurasakan sakit yang sangat di tenggorakanku saat mengucapkannya.
“Melukis hidup itu mudah. Cukup melukis sebuah garis lurus, karena hidup ini adalah sebuah garis lurus seperti air,” lirih aku berkata.”Ya, kawan. Hidup ini adalah sebuah garis lurus, kau tak akan kembali ke waktu yang telah berlalu. Seperti air, terus mengalir dan kau tak dapat mengulang semua yang telah terlewati.” Terimakasih, Tuhan. Terimakasih karena telah memberitahuku bagaimana melukiskan hidup meski di detik terakhir napasku (*)

Nama Penulis           : Amelia Lailasari
Asal Sekolah             : SMAN 1 Boja Kendal Jawa Tengah
Judul                                    : Melukis Hidup

**********************************************************************
AYAT TERAKHIR
Rizky Damayanti

Mentari menyapa hangat dengan sinarnya yang selalu menjadi energi kehidupan. Burung-burung kecil berkicau menambah indahnya suasana pagi hari. Namun hati ini tak mengindahkan hal itu setelah semua peristiwa yang terjadi hari kemarin. Mata ini sembab karena air mata yang tak berhenti berderai semalaman. Kucoba perlahan-lahan membuka mata, terasa pening kepalaku ketika duduk bersandar di pojok tempat tidur. Peristiwa kemarin membuat hidupku akan berubah 180 derajat dari yang semula. Aku yang biasa dipanggil dengan “Bee” dan memiliki nama lengkap “Bee Hani Ramos” adalah gadis periang, memiliki keluarga utuh yang harmonis. Anak tunggal yang selalu dimanja, yang kini harus merasakan pahitnya kehidupan.
“Kenapa kamu tega mengkhianati aku dan Bee. Kamu selingkuh dengan lelaki yang jauh lebih muda dengan kamu itu. Apa kamu enggak punya pikiran, kalau perselingkuhanmu itu akan membuatku dan Bee semakin terluka. Lebih baik sekarang juga kamu pergi dari rumah dan aku menalak tiga kamu hari ini juga.” Masih teringat kata-kata cerai yang dilontarkan ayah pada bunda di hadapanku. Kata-kata itu bagaikan sambaran petir yang menghancurkan hatiku. Terlebih lagi ketika ayah mengusir bunda dari rumah tanpa membawa apapun kecuali busana yang sedang dikenakannya saat itu. Deritaku tak cukup itu saja. Selang dua jam usai pertengkaran terjadi, sebuah kabar yang sangat buruk terdengar di telingaku. Ayah mengalami kecelakaan saat mengendarai motor vespa kuno kesayangannya di jalan Halmahera. Ayah menabrak truck yang sedang melaju berlawanan arah dengannya. Karena kecelakaan itu, kini ayah terbaring dan tak sadarkan diri di sebuah ruangan UGD di Rumah Sakit Harapan Hidup Jakarta.
Aku segera melangkahkan kaki dengan sempoyongan ke arah luar kamar dan berharap peristiwa yang sedang menggangggu pikiranku ini tidak pernah terjadi. Aku berharap itu hanya sebuah mimpi saja.
Glekk..,suara pintu terbuka, terlihat ruangan cukup luas yang sepi tanpa penghuni. Tanpa berganti baju dan tanpa mandi aku memutuskan untuk segera ke rumah sakit menemani ayah yang sedang terbaring tak sadarkan diri. Aku berlari ke sebuah garasi tempat motor scoppy kesayanganku diparkirkan.  Aku tancap gas dan segera melaju kencang melewati jalanan yang ramai dan padat oleh lalu lalang kendaraan di kota metropolitan ini.
Sebuah gedung bertingkat yang berdekorasi tidak jauh berbeda dengan rumah sakit pada umumnya sudah ada di depanku. Aku segera berlari menuju ruang UGD tempat ayah sedang terbaring. Namun aku terkejut ketika di ruangan UGD ini tak kutemukan ayah, dan hanya ada seorang perawat yang sedang membersihkan ruang UGD.
“Permisi Sus, pasien yang semalam dirawat di sini kemana ya? Namanya bapak Hendrawan Julio Ramos,” tanyaku sambil mendekati perawat itu.
“Bapak Ramos baru saja dipindahkan ke ruang VIP Yasmin nomor tujuh,” jawab perawat itu sambil tersenyum ramah.
“Terimakasih ya Sus,” ucapku sambil berlalu meninggalkan perawat itu sendiri.
VIP Yasmin nomor tujuh terlihat terpampang pada pintu kamar ruangan. Tanpa mengetuk pintu aku segera melangkah dan memasuki ruangan itu. Betapa senangnya aku melihat ayah sudah sadarkan diri.
“Pagi ayah,” sapaku pada ayah dengan senyuman yang kubuat seceria mungkin, meski dalam hati rasanya ingin menangis.
“Pagi Bee,” jawab ayah dengan tersenyum. Melihat senyum ayah aku berujar dalam hati, ” Ayah aku sangat bangga padamu, meskipun kenyataan yang menyakitkan tengah dialami namun ayah tetap tersenyum tegar.”   
Aku duduk di kursi samping ranjang ayah yang sedang terbaring. Tak lama kemudian seorang dokter paruh baya datang dari balik pintu.
“Selamat pagi pak Ramos. Bagaimana keadaan bapak? Apa sudah ada perkembangan yang bapak rasakan?” tanya dokter yang bernama Yusuf itu dengan ramah.
“Alhamdulillah dok, saya merasa sangat baik hari ini,” jawab ayah.
“Permisi ya pak, saya periksa keadaan kakinya dulu,” ucap dokter Yusuf sambil perlahan-lahan menarik selimut yang menutupi kaki ayah. Aku sangat terkejut melihatnya. Hatiku tak kuat menerima kenyataan yang tampak di hadapanku. Aku melihat kedua kaki ayah diamputasi. Aku segera melangkah keluar ruangan dan duduk di koridor depan. Tanpa kusadari air mataku telah membasahi kedua pipiku. Aku mengacak-acak rambutku yang terurai panjang tanpa tujuan. Selang beberapa menit dokter Yusuf keluar dari ruangan ayah.
“Permisi, apakah hanya anda keluarga dari bapak Ramos?” tanya dokter Yusuf dengan sopan.
“Iya betul dok.”
“Ada yang perlu dibicarakan. Bisakah kita bicarakan di ruangan saya?”
Aku hanya mengangguk sekenaku
“Mari!” ucap dokter Yusuf sambil melangkah pelan dan aku berjalan mengikutinya dari belakang.
Sungguh sulit aku menerima dan percaya dengan semua kenyataan ini. Mengapa harus ayah yang mengalami kenyataan sepahit itu. Ayah divonis dua minggu lagi akibat kanker darah stadium akhir. Aku sangat sedih dan kecewa, mengapa aku mengetahui semua ini ketika keadaan sangat buruk. Aku berjalan gontai keluar dari ruangan dokter Yusuf dan segera menuju ruangan ayah. Kulihat ayah sedang memegangi Alquran dan menatap penuh makna Alquran itu. Aku melangkah menghampirinya.
“Ayah,” ucapku ambil mengelus pundaknya.
“Bee, kamu kan pintar membaca Alquran. Mau tidak kamu menemani ayah membaca Alquran sekarang juga?” kata ayah sambil menatapku.
Banyak sekali pertanyaan yang ingin aku lontarkan pada ayah, namun melihat ayah sangat ingin membaca Alquran itu, akhirnya kuputuskan untuk membaca Alquran bersama ayah.
Bismillahirrahmanirrahim,” ucap ayah mengawali bacaan Alquran. “Hudaw wa busyra lil mu’minin, al ladzina yaqumunas shalata wa yu’tunazzakata hum bil akhirati humyukinu.” Dua ayat telah dibaca ayah, dan aku sangat terkejut melihat ayah terdiam dengan mata terpejam. Aku panik dan segera berlari keluar ruangan dan berteriak-teriak memanggil dokter. Aku melihat dokter Yusuf berlari menghampiri ruangan ayah.
“Maaf kami sudah berusaha semaksimal mungkin, namun takdir sudah menentukan dan saya turut berduka cita,” ucap dokter Yusuf dengan lemas. Aku segera memasuki ruangan ayah. Air mata berderai membasahai pipiku. Aku peluk raga ayahku yang sudah tak bernyawa lagi. Ayat terakhir yang ayah baca tidak akan pernah aku lupakan. Dua ayat dari surat An Naml yang memiliki arti untuk menjadi petunjuk dan berita gembira bagi orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat, itu akan selalu tersimpan dalam memori hidupku.
Kini aku tinggal bersama nenek, orang tua dari ayah. Aku berharap dapat menjalani hidupku jauh lebih baik dari sebelumnya. (*)

Nama Penulis           : Rizky Damayanti
Asal Sekolah             : SMAN 1 Tunjungan Blora Jawa Tengah
Judul                                    : Ayat Terakhir


*******************************************************************************


MISTER BEJO & MISTER UNTUNG
Yuli Agustya Rahmawati

Langkah kaki keren dan kekar seorang cowok, mahasiswa fakultas tehnik mesin UGM, menyita perhatian kaum hawa. Bejo Surijo, nama cowok itu yang ditafsirkan selalu bejo di kehidupannya. Senyum manis nan menggemaskan selalu ditebarkan di sepanjang jalan. Terdengar teriakan memanggil namanya. Bejo menghentikan langkah kakinya.
“Bejooo..!” teriak seorang perempuan dari belakang Bejo.
“Low, Siska apa kabar?” jawab Bejo dengan memaparkan tangannya seraya cupika cupiki.
“Baik kok Jo” jawab Siska, cewek yang terkenal kecantikannya di kampus itu. Sudah banyak cowok dari tingkat miskin sampai kaya, tak dapat memikat hatinya.
“Sis, ayo jalan ntar tak tinggal low!” ajak Bejo sambil menaik-turunkan alis matanya.
“Ya Jo, ayo,” jawab Siska dengan halus.
Merekapun berjalan sambil bercanda gurau. Tak disangka tiba-tiba ember berisi air bekas mengepel lantai terjatuh dari arah atas, tumpah di belakang Bejo dan Siska.
“Brakk!” Air itu tumpah mengenai seorang mahasiswa yang berjalan di belakang Bejo dan Siska.
“Ya ampun..,ups..” saut Siksa sambil tersenyum malu.
“Tenang aja Sis dekat mas Bejo pasti bejo, ya to..” jawab Bejo dengan pede.
“Ya..ya. .Jo. Aku dekat kamu ikutan bejo low,” kata Siska sambil berjalan.
Selain Bejo, ada seorang cowok yang juga tak kalah anehnya, Untung Surosembodo namanya. Bertampang macho, berperawakan tinggi dan juga terkenal di kampus. Dia, seperti namanya juga selalu dipayungi keberuntungan. Seperti halnya Bejo, Untung ternyata juga naksir Siska.
Suatu ketika saat jeda dari kesibukan kuliah yang padat, Untung pergi ke restoran karena perut sudah sangat lapar. Sampai di restoran ia dikagetkan oleh suara sorak pemilik restoran itu.
“Dyar..dyar..dyar..!” suara petasan mengagetkannya.
“Hai selamat ma anda adalah pengunjung kami ke 500, anda boleh makan sepuasnya ma di sini gratis..tis!” kata pemilik restoran.
“Terimakasih,terimakasih, he..he..,” saut Untung dengan lagak sok kaya sambil melambaikan tangan ke seluruh penjuru ruangan.
Semua menu termahal di sana dipesannya. Habislah sudah makanannya, hanya sebuah roti ungu terdiam belum terjamah oleh Untung. Kemudian dia segera mengambil roti itu. Saat ia mengunyah roti itu ada terasa sesuatu yang berada di lidahnya. Untungpun menjulurkan lidahnya sambil mengambil sebuah kertas kecil. Ia membuka kertas itu.
“Hai selamat ma owe mendapatkan uang 500 ribu ma,” saut pemilik restoran.
“He.he.he, emang gak salah bapak kasih nama aku Untung, ” kata Untung dengan lagak tertawanya yang aneh.
Perut kosong sudah terisi, Untung pergi kembali ke kampus. Dari arah depan terlihat Siska berjalan dengan rambut panjang terurai mempesona.
“Siska..!” teriak Bejo dan Untung bersamaan sambil menghampiri Siska.
“Woy ngopo kowe?” tanya Untung sambil berdesak-desakan dengan Bejo.
“Ya nemoni Siska eh, mosok nemoni sampeyan najwis, uek..huek..,” jawab Bejo sambil berlagak muntah-muntah, sedangkan Siska terpelongoh keheranan.
“Yo wis ngene wae, kita buat jadwal jalan sama Siska. Sehari sama aku terus selanjute sama kamu, lan seteruse begitu gelem gak?” kata Untung.
“Yo wis aku mau, ayang Siska mau gak?” kata Bejo menyetujui dan bertanya kepada Siska dengan rayuan cap lombok.
“Woo ngawur ngaku-ngaku?” sahut Untung mengibas muka Bejo.
“Aku terserah saja kok, “ jawab Siska sambil masuk ke mobilnya.
Pagi pun datang, Bejo berdandan rapi. Kala itu ia mengganti gaya rambutnya. Dengan cepatnya kicauan burung menghantarkan langkah pejantan-pejantan tangguh menyongsong pagi yang indah. Bejo dengan langkah pasti menghampiri Siska.
“Hai Sis..!” panggil Bejo dengan lambaian tangan.
“Bejo, bisa gak anterin aku ke bank?” tanya Siska sambil memegang pundak Bejo.
Dari ujung dekat pohon, Untung hanya mampu melihat dengan melotot Bejo dan Siska. Bejo melihat Untung di sana menambah kemesraannya dengan Siska.
“Bisa..bisa, apa sih yang gak bisa buat kamu,” jawab Bejo sambil mencium tangan Siska seraya ingin membuat Untung cemburu.
“Mampus low Tung!” kata Bejo mengejek Untung sambil tersenyum menengok ke arah Untung.
“Hai..!” sapa Bejo coba mengejek Untung sambil melambaikan tangan menggandeng Siska. Untung hanya terdiam, sekonyong-konyong darah telah naik ke kepala.
Sesampainya di bank, di dalam sudah penuh sesak oleh nasabah. Cukup lama menunggu antrian. Akhirnya giliran Siska tiba. Selesai bertransaksi, Bejo dan Siska beranjak pergi meninggalkan bank.
“Selamat anda mendapat Yamaha Mio!” terdengar suara tepukan keras dari belakang. Ternyata seorang nasabah yang mendapat hadiah tahunan di bank.
“Bejo, tu kan, gara-gara kebejoanmu aku gak dapat hadiah itu deh,” kata Siska meringik memarahi Bejo dan pergi meninggalkan Bejo di depan bank.
“Siska..!” teriak Bejo mencoba memanggil Siska yang mengendarai mobilnya dengan kencang.
“Waduh, mateng iki gak duwe duwik, piye mulihe iki?” kata Bejo bicara sendiri.
Akhirnya Bejo sampai di kampus lagi dengan naik bus yang berisi beberapa ayam. Beberapa kali Bejo menciumi bajunya yang penuh bau ayam melekat di kepalanya.
“Woy, piye enak?” tanya salah satu teman Bejo.
“Penak piye aku malah ditinggal Siska gara-gara kebejoanku iki,” jawab Bejo dengan raut muka kesal.
Semua aktifitas di kampus membuat Untung merasa mengantuk yang sangat berat. Selalu terbayang di pikirannya besok bersama Siska. Lamunan kecil tertuju ke arah sudut ruangan yang kosong.
“Braakk..! Untung kalau kamu tidak suka pelajaran saya, keluar!” teriak ibu dosen sambil menggebrak meja Untung dan membuyarkan lamunannya.
“Gak kok bu,” jawab Untung terkagetkan.
“Ya sudah, selamat ya Untung!” kata bu Lisa sambil menjulurkan tangannya.
“Buat apa Bu?” kata Untung kebingungan.
“Kamu mendapatkan nilai terbaik untuk mata kuliah ibu,” jawab bu Lisa.
“Padahal aku dapat jawaban itu dari bawah meja he.he.he.,” kata Untung dalam hati.
Malam telah dilewati semua makhluk hidup. Fajar telah terbit dari ufuk timur. Terdengar suara semprotan minyak berulang-ulang. Untung menyemprotkan minyak wangi itu ke bajunya berkali-kali.
“Hai tampan, ha.ha.ha.,” ujar Untung di depan cermin.
Jam telah menunjukkan pukul 8 tepat. Kerumunan mahasiswa meninggalkan ruangan kusam dan sepi. Untung bersemangat karena kali ini adalah jatahnya berjalan dengan Siska. Senyum palsu selalu terpasang di mukanya.
“Hei Sis, ayok aku sudah siap !“ ajak Untung dengan mantap.
“Iya Tung kebetulan aku mau ke butik ada tas indah banget cuma satu doang,” jawab Siska.
Mereka pergi menggunakan mobil warna ungu nan mulus milik Siska. Banyak pengunjung memadati butik itu. Siska berusaha mencapai tempat tas itu berada.
“Tung itu tasnya!” teriak Siska menunjuk tas itu.
“Oh itu, santai dengan keberuntunganku kamu pasti bisa mendapatkannya,” jawab Untung yakin.
Desakan pengunjung membuat Siska dan Untung terpisahkan. Siska beberapa kali memanggil Untung. Saat itu tas tak terlihat oleh Siska. Begitu terlihat, tas itu sudah diperebutkan oleh beberapa perempuan.
“Untung kamu tu ya, katanya mau beliin tas itu. Liat tu tasnya udah gak ada. Bukan untung malah buntung!” teriak Siska dengan raut muka marah dan pergi meningalkan Untung sendiri.
“Siska, tunggu Sis..!” teriak Untung dengan keras mengejar Siska.
Di kampus, Untung dan Bejo berusaha mencari-cari Siska. Pandangan mereka hanya tertuju ke halaman kampus. Mereka terdiam saat melihat Siska berjalan dengan rambut terkibas angin lewat.
“Siskaa..!” teriak Untung dan Bejo bersamaan.
“Siska, siapa yang kamu pilih pasti aku kan?” tanya Untung dengan percaya diri.
“Woo, ra kudu Siska milih kuwe!” sahut Bejo dengan marah.
“Hemm, tak ada yang aku pilih. Kalian buat aku sial dengan kebejoan dan keberuntungan kamu itu. Sekarang aku sudah punya cowok baru, Slamet!” jawab Siska dengan menggandeng cowok culun ingusan dan menjijikkan.
“Wah edyaan tenan ..mak e!!” teriak Bejo dan Untung bersamaan sambil berpelukan.  (*)


Nama Penulis           : Yuli Agustya Rahmawati
Asal Sekolah             : SMAN 1 Tunjungan Blora Jawa Tengah
Judul                                    : Mister Bejo dan Mister Untung

***********************************************************************
LORONG BAYANGAN
Ratih Dwi H

Suasana telah sunyi, angin berhembus kencang menerbangkan daun kering melayang-layang. Menghirup angin sejuk di bawah pohon memandangi semut merah bergotong royong membopong seekor lalat yang tak berdaya, di bawah jajahan para semut yang bersatu.
“He.he.he..hebat juga tuch semut,” gumamnya sambil terkagum-kagum memandangi barisan semut yang berbaris.
Jilbab putih itu terhembus angin bergelombang bagai awan putih yang mengepul di udara. Gadis kalem itu melamun menikmati hembusan angin yang semakin kencang. Dengan headset menutupi telinga mungilnya terdengar lagu-lagu semangat menemaninya. Tetap Semangat judul favorit Esa, nama gadis berjilbab putih itu. Gadis yang duduk di bangku kelas X4. Gadis yang sangat menyukai pelajaran Bahasa Indonesia, mempunyai keahlian dengan tangan dan jemarinya memegang ballpoint menari-nari di atas kertas dengan lihai menulis kata-kata mutiara.
Suara heningnya terbuyarkan dengan kebisingan yang terdengar dari belakang gudang.
“Ya Allah!” kata Esa tersentak kaget.
Langkah lambannya dengan mata terbelalak meneropong pintu hitam bertuliskan gudang. Matanya tersentak kaget, raut wajahnya seketika terlihat kemerah-merahan, terpancar rasa senang yang menandakan penantian telah usai.
“Ternyata dia benar-benar datang..,” kata Esa pelan, dengan mata tak henti-hentinya memandangi bagian tubuh dari ujung rambut hingga ujung kaki. Hatinya serasa kebun yang ditumbuhi 1000 macam bunga mawar. Cowok yang terus menghisap rokok menikmati narkotika ringan yang berakibat ketergantungan yang sangat fatal itu, menjadi pemandangan sepulang sekolah bagi Esa. Sudah dua minggu ini Esa, gadis berjilbab itu selalu memperhatikan tingkah laku cowok bertampang garang itu. Cowok itu telah memikat hatinya dan membuat hatinya menyimpan banyak pertanyaan. Matanya terbelalak kaget, raut wajahnya seketika nampak panik, setelah cowok Mr. Misterius (panggilan Esa kepada sang cowok) balik memandangnya.
“Heh!” katanya tersentak kaget.
“Ya Allah dia..,” kata Esa balikkan wajahnya dan menunduk dengan perasaan panik. Ia segera beranjak pergi.
“Eh.eh..,” terdengar alunan nafas Esa yang terengah-engah. Tiba-tiba tangannya terasa ada yang menyentuhnya. Dada terasa sesak, jantung ingin sekali rasanya copot. Dengan perasaan berdebar-debar, ia beranikan diri menoleh ke belakang.
“Mau kemana?” terdengar suara seorang cowok dengan nada pelan.
Keringat dingin Esa mulai bercucuran, raut wajah pucat mulai menghampirinya.
“Eee..mau pulang lah,” jawab Esa terdengar gugup, tangannya tergetar ketakutan.
“Eh.. mau kemana?” tanya Esa saat tangannya ditarik cowok itu dan dibawa ke bawah pohon.
“Apa maumu?” tanya cowok itu dengan pandangan tajam ke arah wajah Esa.
Seketika Esa menjadi panik dan wajahnya pucat pasi. Pandangan tajam itu membuat Esa salah tingkah.
“Mau ku..,?” kata Esa mencoba tegas.
“Ya maumu!” jawabnya dengan nada tegas pula.
“Mauku jadi pacarmu!” kata-kata pengakuan itu meluncur begitu saja dari mulut Esa yang terdengar gemetar.
Terlihat cowok itu hanya cengar-cengir dengan wajah seperti menahan tawa.
“Okey kita pacaran!” jawab singkat si cowok dan langsung pergi meninggalkan Esa yang berdiri menahan malu. Ucapan tadi benar-benar tak diduganya. Ia masih belum percaya telah mengucapkannya. Aliran darahnya tepat di ujung kepala ingin rasanya meluncur keluar dari jantung. Nafasnya yang tiba-tiba sesak membuatnya susah berbicara, terasa berat untuk mengucap, merah pipinya menggambarkan rasa senang yang menggebu-gebu.
“Pa..ca..ran..” kata Esa pelan tak pecaya.
“Hey! Tunggu!” kata Esa berlari mengejar pacar barunya yang tak tahu entah siapa sebenarnya.
“Heh! Kita kan sudah pacaran, jadi aku perlu tau siapa namamu,” katanya terdengar senang. Mimik wajahnya yang merah dan senyum bibir itu membuat semakin cerah sore ini.
“Ben!” jawabnya singkat cuek dan ketus.
“Ben, oh..enaknya aku pangil kamu apa ya? Sayang, baby, pipi, papa atau abi ya?” jawab Esa nerocos tak henti-henti.
“Terserah. Sekarang kamu pulang!” jawab cowok lengkap Ben Kevano Save King itu sambil memegang jemari Esa. Esa mengangguk pelan, mengikuti apa kata Ben, serasa dihipnotis.
Matahari telah tersenyum. Embun-embun sisa hujan semalam masih tampak di ujung daun. Wajah berseri-seri itu menambah pagi hari menjadi lebih cerah.  Burung-burung berkicau ria, kuncup-kuncup sore telah mekar di pagi yang indah seakan menyambut datangnya  sang surya.
“Mah, Esa berangkat,” sapa Esa beranjak keluar menghampiri sepedanya yang sudah terpampang tepat di depan pintu gerbang.
“Hati-hati sayang,” terdengar suara lembut seorang wanita yang amat disayangi gadis riang itu.
Beberapa hari ini perilaku Esa begitu aneh. Ia sering berbicara sendiri, melambai-lambaikan tangannya sendiri, kadang malah tertawa terbahak-bahak sendiri.
“Kalian lihat kan, Esa sudah beberapa hari ini terlihat sangat aneh,” kata siswa lain sambil melihat Esa yang duduk di bawah pohon dekat gudang belakang, sedang makan sendiri.
“Emm..gila kalik,” jawab siswa lain membenarkan.
Semua siswa lain telah pulang ke rumah bertemu dengan ayah ibu. Berbeda dengan Esa yang masih duduk manis tersender di bawah pohon dengan wajah kumel dan kusut.
“Ya ampun tumben dia telat,” gerutu Esa sambil melihat jam tangan yang melingkar di tangan kirinya.
Matahari telah terlihat terbenam mega-mega merah di ujung barat. Suara kumandang telah terdengar menandakan masuk waktunya sholat maghrib.
“Ehh..” terdengar desahan Esa bangun dari tidurnya karena terlalu lama menunggu.
“Emmhh..maghrib. Ya Allah!” kata Esa melihat cahaya terang telah menjadi gelap gulita. Dengan wajah masih mengantuk Esa terburu-buru mengemasi buku dan tasnya untuk segera pulang.
“Apa dia benar-benar tidak datang?” tanya Esa meletakkan tasnya dalam keranjang sepeda.
Matanya terus mencari di sudut-dudut, mencari sesosok cowok jabrik bernama Ben. Esa merasa kecewa. Wajah kusam itu tertunduk tertekuk-tekuk berjalan menuntun sepedanya keluar sekolahan yang sepi bagai kuburan.
“Mau pulang?” terdengar suara laki-laki dari belakang.
“Iyalah, orang udah malem,” jawab Es terdengar tersenggak-senggak manahan tangis. Matanya sayu berubah cerah saat melihat cowok yang berdiri di belakanganya.
“Kamu gak mau nunggu aku?” jawab Ben mengulurkan tangan kanannya.
Esa benar-benar kaget mengetahui datangnya Ben. Air matanya semakin deras terharu. Tanpa berpikir panjang ia langsung menjatuhkan sepedanya dan menghampiri uluran tangan cowok yang ia cintai itu.
Di setiap jalan, percakapan dan tawa tak henti-hentinya terdengar. Candaan-candaan kecil mampu merubah wajah kusam itu. Malam itu terasa benar-benar indah bagi Esa.
Pagi telah datang kembali. Hari begitu cepat berputar. Saatnya ketemu kata hati Esa sambil menuntun sepedanya ke bawah pohon langganannya. Hari-hari terukir manis. Hidup sepinya sekarang berubah penuh dengan tawa dan senyuman manis di setiap detiknya. Sudah dua bulan ini Esa dan Ben berpacaran. Tetapi ada satu hal yang membuat Esa benar-benar penasaran.
“Pingin banget dech ketemu dia waktu sekolah, bukan setiap pulang sekolah,” katanya pelan.
“Samperin ke kelasnya ah!” kata Esa berjalan menuju kelas XII IS3.
Dengan senyuman lebar, langkahnya pasti bertujuan bertemu dengan cowok terbaiknya. Rasanya deg-degan saat mengintip dari depan kelas.
“Cari siapa?” sapa seorang kakak kelas menghampiri Esa.
“Emm, maaf bisa dipanggilin yang namanya Ben?” kata Esa sambil menengok ke dalam kelas.
“Di sini gak ada yang namanya Ben!” jawab kakak kelas itu ketus.
Esa tak percaya. Dengan teguh Esa menyodorkan HP dan menunjukkan fotonya bersama Ben.
“Mana?” tanya kakak kelas itu mengeluh.
“Ini fotonya kak!” kata Esa kesal sambil menunjuk layar HP yang ternyata hanya ada fotonya sendiri. Padahal ia ingat jelas bahwa fotonya saat itu bersama Ben.
“Dasar ngawur!” sentak kakak kelas itu meninggalkan Esa di depan kelas.
Esa meninggalkan kelas itu dengan langkah bergelantungan, pikiran buyar. Ia masih belum benar-benar percaya.
“Hai!” sapa seorang kakak kelas cewek menghampirinya.
“Iya.,” jawab Esa singkat.
“Kamu cari Ben ya?” tanya kakak kelas itu memperlihatkan foto Ben bersama teman-temannya.
“Iya, ini Ben kan kak?” tanya Esa tersenyum.
Semuanya menjadi jelas setelah Esa mendengar cerita kakak kelas cewek itu. Siapa Ben sebenarnya terungkap. Cowok impiannya itu ternyata telah pergi. Pergi meninggalkannya untuk selamanya. Ben telah meninggal setengah tahun lalu. (*)

Nama Penulis           : Ratih Dwi H
Asal Sekolah             : SMAN 1 Tunjungan Blora Jawa Tengah
Judul                                    : Lorong Bayangan

*****************************************************************************




DONGENG AYAH
Bernadette Diandra Antariksa

“Pluk!” kulihat orang itu membuang sampah di kali.
“Papa,” kataku.
“Mengapa kita tidak boleh membuang sampah di kali?”
“Anakku akan kuceritakan sesuatu padamu. Dahulu kala terdapat sungai Sobek yang indah. Tetapi sungai itu sering banjir. Nah, Tong dan Sampah ingin mengetahui penyebabnya lalu mereka mendirikan pos jaga di delta sungai.”
Tiap malam Tong dengan setia mengawasi sungai itu dan pada siang harinya ganti Sampah menunggu dengan setia. Akhirnya setelah dua tahun melakukan observasi mereka mendapatkan kesimpulan bahwa sampah yang dibuang penduduk desa Kotor telah memblokir arus sungai dan membendung air. Setelah beberapa waktu bendungan itu pun tidak sanggup lagi menampung air sungai tersebut. Alhasil air meluap yang menyebabkan banjir dan longsor.
Informasi ini segera dilaporkan oleh Tong dan Sampah kepada penduduk desa Kotor. Di luar dugaan ternyata para penduduk mau menerima laporan dari dua bersaudara Tong dan Sampah. Setelah dua hari saja mereka berdua mulai melihat perubahan yang signifikan, yaitu penduduk desa Kotor tidak lagi membuang sampah di sungai Sobek melainkan di belakang rumah mereka.
“Nah begitulah seharusnya,” kata Tong kepada Sampah dengan bangga.
Tetapi kebahagiaan bersaudara Tong dan Sampah tidak bertahan lama. Selang beberapa minggu penduduk desa Kotor mulai mengeluhkan bahwa sampah yang sekarang mereka kumpulkan di belakang rumah mereka mulai mengeluarkan bau kurang sedap. Kembali para penduduk desa Kotor membuang sampah di sungai.
Bersaudara Tong dan Sampah pun menjadi sedih. Mereka mencoba menghibur diri mereka dengan menonton pertandingan sepak bola. Kebetulan tim yang bermain merupakan favorit mereka, yaitu Rajawali. Setelah lima menit bertanding Rajawali mencetak gol.
“Aha! Aku punya ide!” kata Tong sekonyong-konyong.
Ternyata ide Tong adalah membuat tempat sampah dari jaring-jaring. Ia mendapatkan ide itu ketika Rajawali mencetak gol. Jaring-jaring dalam gawang dapat menahan bola agar bola itu tidak pergi melayang ke arah penonton.
“Ide bagus itu, Tong!” kata Sampah.
Mereka lalu pergi ke pasar untuk membeli tali yang lumayan panjang.
“Untuk apa kau membeli tali sebanyak itu Tong?” tanya para penduduk desa.
“Untuk membuat tempat penampungan sampah,” kata Tong dengan mata berbinar-binar karena telah menemukan gagasan tersebut.
“Hahaha..kau sedang bergurau ya?” tanya penduduk desa.
Tong dan Sampah tidak mendengar mereka karena mereka telah berlari menuju rumah mereka untuk memulai membuat tempat penampungan sampah pertama di dunia.
Bertahun-tahun mereka merantau mencoba untuk belajar bagaimana caranya mengikat simpul yang benar agar dapat mengubah wujud tali menjadi jaring-jaring. Berkali-kali mereka mencoba dan berkali-kali juga mereka gagal. Tetapi mereka tidak pernah lelah ataupun bosan karena mereka rela melakukan demi desa mereka yang tercinta. Akhirnya mereka berhasil membuat jaring-jaring yang kuat dan bagus kualitasnya. Namun mereka tetap belum tahu bagaimana caranya agar dapat membuat kerangka kayu yang bagus. Lagi-lagi mereka merantau ke tempat di mana seluruh pekerja kayu terbaik berada. Mereka kembali mencoba belajar dan gagal, tetapi mereka tidak pernah patah semangat karena mereka telah bersikukuh bahwa mereka akan mengabdi kepada desa tempat mereka dilahirkan. Mereka telah berbulat tekad untuk mengubah nama desa Kotor menjadi desa Bersih.
Akhirnya mereka berhasil, dengan bekerja keras mampu menggabungkan kerangka kayu mereka dengan jaring-jaring. Setelah tempat penampungan itu selesai dibuat, mereka prensentasikan hasil jerih payahnya selama bertahun-tahun kepada penduduk desa Kotor. Mereka melihat dengan kagum, lupa bahwa mereka dulu mengolok-olok gagasan tersebut.
“Wow, apa itu?” tanya penduduk desa dengan kagum.
“Oh ini. Ini adalah tempat penampungan sampah. Setiap keluarga akan mendapatkan satu!” jawab Smpah dengan bersemangat.
“Kami sudah memberikan semua tempat sampah ini kepada Kepala Desa. Silakan diambil ya!” kata Tong menjelaskan lebih lanjut.
“Oh begitu. Yuk kita ke rumah Kepala Desa!” seru penduduk desa. Alangkah senangnya Tong dan Sampah. Hasil kerja mereka ternyata tidak sia-sia.
Satu minggu berlalu dan tampaknya semua penduduk bahagia. Mereka bahkan sepakat untuk bergotong-royong membersihkan sampah dari sungai. Terlihat dengan jelas bahwa sungai Sobek tidak lagi berwarna coklat melainkan biru bersih.
“Aku bangga kepada desa ini Tong, karena mereka mau menerima gagasan kita dengan tangan terbuka,” kata Sampah.
Dua minggu berlalu ketika tiba-tiba sekelompok penduduk desa datang ke rumah Tong dan Sampah. Mereka membawa tempat penampungan sampah mereka.
“Apa-apaan ini?” tanya Tong bingung
“Barang ini tidak berguna sama sekali!” kata penduduk desa marah. Merekapun kemudian membuang jaring sampah mereka, lalu membakarnya.
“Kenapa kalian melakukan ini? Tahukah kalian, bahwa kami menghabiskan lima tahun untuk belajar membuat ini!” kata Sampah dengan nada kecewa.
“Jaring-jaring dalam tempat sampah ini terlalu besar lubangnya, sehingga sampah-sampah kecil tidak dapat ditampung!” jawab penduduk desa.
“Tetapi ini adalah jaring-jaring terkecil yang bisa dibuat!” bantah Tong.
“Kalau begitu kami tidak mau memakai tempat sampah rosokan ini!” balas penduduk desa dengan marah.
Seketika hancurlah impian Tong dan Sampah. Semua yang mereka lakukan ternyata sia-sia.
Satu minggu kemudian semua penduduk desa Kotor membuang tempat sampah mereka karena mengalami peristiwa yang sama dengan kelompok penduduk desa yang membakar tempat sampah meraka.
Berminggu-minggu Tong dan Sampah mengasingkan diri, mereka tidak mau menemui siapapun. Penduduk desa akhirnya merasa bersalah. Merekapun bersama-sama ke rumah Tong dan Sampah. Mereka terkejut ketika menemukan mereka berdua ternyata jatuh sakit. Tong dan Sampah sampai tidak makan karena merasa sedih dan dihinggapi perasaan bahwa mereka telah mengecewakan penduduk desa Kotor.
Dengan cemas para penduduk membawa Tong dan Sampah ke tabib Lin Yun yang terkenal. Selama berminggu-minggu penduduk desa Kotor bergantian menunggui kedua bersaudara itu. Tiap hari para penduduk bergantian membawa selimut, handuk, bunga dan berbagai macam barang lain. Akhirnya Tong dan Sampah siuman.
“Syukurlah! Kami semua merasa kasihan terhadap kalian,” kata Kepala Desa.
“Kalian tidak perlu merasa kasihan kepada kami,” balas Tong.
Ternyata setelah Tong dan Sampah siuman, penduduk desa tetap setia menjenguk Tong dan Sampah.
Setelah beberapa hari mereka berdua diperbolehkan untuk pulang. Namun sebelum pulang, tabib Lin Yun menumbuk obat yang harus diminum oleh Tong dan Sampah.
“Aha! Aku dapat ide. Melihat serbuk obat tetap di dalam mangkok, kita dapat membuat tempat sampah berbentuk mangkok raksasa,” kata Sampah.
“O, ide cemerlang!” kata Tong sambil berjingkrak-jingkrak di atas kasur.
“Hai turun. Kalian berdua duduk. Kalian belum sembuh total!” kata tabib Lin Yun.
Tong dan Sampah dengan sedikit malu kembali duduk.
Tabib Lin Yun memberikan obat kepada Tong dan Sampah. Setelah itu merekapun pulang ke rumah setelah menyampaikan terimakasih kepada tabib Lin Yun.  
Sampai rumah Tong dan Sampah segera mengambil gergaji lalu berangkat menuju hutan. Mereka hendak memotong kayu. Seorang tukang kayu dari desa melihat mereka dan merasa iba.
“Kalian tidak usah memotong kayu, biar saya saja. Kalian pulang dan istirahatlah,” kata tukang kayu kepada mereka.
Keesokan harinya tukang kayu datang ke rumah Tong dan Sampah membawa potongan-potongan kayu dan berkata kepada mereka, “Saya tidak akan memberi potongan-potongan kayu ini jika kalian belum berjanji kepada saya bahwa tidak akan memegang kayu ini hingga sembuh total!”     
Terpaksa Tong dan Sampah harus bersumpah kepada tukang kayu itu bahwa mereka tidak akan mempergunakan kayu tersebut sebelum mereka sembuh dari penyakit yang kini mereka derita. Sialnya, tukang kayu itu berjanji akan menjenguk mereka. Selama beberapa hari ke depan tukang kayu dengan setia menunggui mereka. Tong dan Sampah tidak bisa mengerjakan niatnya membuat tempat sampah dari kayu itu. Setelah beberapa lama, mereka pun sembuh, sehingga mereka dapat memulai pekerjaan yang tertunda lama.
Dengan senang Tong dan Sampah mengemasi pakaian mereka. Ternyata mereka hendak pergi lagi untuk mempelajari cara memahat tempat penampungan sampah tersebut. Mereka pergi ke berbagai kota bahkan negara-negara lain. Mereka menemui berbagai pemahat kayu yang sangat terkenal. Mereka pun melalui masa yang sudah tidak terasa asing lagi. Ya mereka melalui masa percobaan saat mereka harus berusaha dengan keras untuk mencapai keinginan mereka. Juga saat mereka mengalami kegagalan. Bulir-bulir keringat berjatuhan dari dahi Tong dan Sampah. Mereka merasa capai, lelah dan kapanasan. Namun mereka telah bertekad untuk tidak menyerah sebelum mereka berhasil. Akhirnya mereka berhasil membuat tempat penampungan sampah berupa mangkuk besar.
“Akhirnya selesai juga,” kata Sampah sambil mengelap keringat di dahinya. Mereka kembali ke desa Kotor dan menuju rumah mereka untuk istirahat.
Keesokan harinya mereka bersiap-siap menyampaikan hasil karyanya kepada penduduk desa. Sempat terbersit keraguan saat mengingat keranjang sampah kreasinya terdahulu yang dibuang penduduk desa.
“Kali ini pasti berhasil,” kata Tong meyakinkan diri.
Beberapa minggu kemudian mereka melihat adanya perubahan. Sungai Sobek tidak lagi berwarna coklat. Sampah tidak lagi dijumpai di sudut-sudut desa. Namun kemudian, ada keluhan dari penduduk. Tempat penampungan sampah itu tidak ada tutupnya, sering tertiup angin dan berhamburan isinya.
Tong dan Sampah pergi ke hutan untuk mencari kayu. Mereka berusaha membuat tutup penampungan sampah itu. Perlu waktu lama sehingga mereka berhasil membuat tutup penampungan sampah sesuai yang diinginkan. Setelah jadi tutup penampung sampah itu dibagi-bagi kepada penduduk desa.
Berminggu-minggu telah berlalu dan tidak ada masalah muncul. Berbulan-bulan kemudian penduduk desa datang ke rumah Tong dan Sampah membawa kabar yang baik.
“Kami telah menyimpulkan bahwa tempat sampah buatan kalian telah memenuhi standar kami. Karena itu kami ingin berterimakasih,” kata Kepala Desa.
“Oh kami sungguh senang!” kata Tong. Mereka merasa sangat bahagia, usahanya yang  tidak kenal lelah selama ini diterima penduduk desa.
Sebagai bentuk rasa terimakasih penduduk desa Kotor kepada Tong dan Sampah, mereka menamai tempat penampungan sampah itu dengan Tong Sampah. Sejak adanya tong sampah itu, desa Kotor tidak lagi kotor. Sungai menjadi bersih. Jalanan juga tampak bersih tertata rapi. Mereka mengubah nama desa Kotor menjadi desa Bersih sesuai harapan Tong dan Sampah, pahlawan mereka.
Ayah menyudahi ceritanya. Sekarang aku jadi mengerti mengapa tidak boleh sembarangan membuang sampah. (*)

Nama Penulis           : Bernadette Diandra Antariksa
Asal Sekolah             : SMP Dyatmika Denpasar Bali
Judul                                    : Dongeng Ayah

*******************************************************************************


GARA-GARA KALENG
Aini Nur Rahmah

Di pagi yang cerah nan terik, sang mentaripun mulai menebarkan senyuman khasnya yang menyengat kulit. Segelas susu hangat telah habis diteguk oleh Anya. Ia telah siap berangkat sekolah di hari pertamanya. Ia berjalan menuju gang tikus untuk menunggu bus.
Bus putih berhenti di hadapan Anya. Ia segera naik, bus melaju cepat di jalan aspal hitam legam. Di dalam bus yang penuh penumpang, Anya terpaksa berdiri. Sampai depan SMA Harapan Bangsa, Anya berteriak “Kiri stop!”.
Teriakan keras itu membuat kaget penumpang lain dan menengok kepadanya. Anya hanya cengar-cengir saja, kemudian melompat turun. Anya tergesa-gesa setelah melirik jam tangannya. Dengan nafas yang tak beraturan dan keringat bercucuran, ia menuju kelas dan ingin segera masuk. Jam pertama adalah pelajaran matematika dari Pak Kumis yang katanya sangat killer. Sebelumnya ia mengintip lewat jendela. Ternyata Pak Kumis tidak ada. Anya melompat girang, tanpa disadari ada yang mengawasi. Dengan deheman khas dan keras, Anya dibuat sangat kaget. Ternyata Pak Kumis sudah berada di belakangnya. Anya langsung terdiam, hatinya mengkeret, tubuh agak gemetar harus berhadapan dengan guru killer.
“Zevanya Ardinda!” teriak Pak Kumis.
“I..Iya Pak,” jawab Anya dengan suara lirih dan kepala tertunduk.
“Berdiri sampai jam pelajaran saya habis!” perintah Pak Kumis.
Dengan lesu, Anya berdiri di depan kelas. Teriakan teman-temanya pun tak dihiraukannya. “Mimpi apa semalam,” kata Anya lirih. Setelah jam pelajaran Pak Kumis selesai, ia kembali ke tempat duduknya. Hari itu jam pelajaran di sekolah terasa sangat lama oleh Anya.
Akhirnya bel tanda usai sekolah bordering nyaring. Anya dan teman-temannya keluar dari kelas dan berpisah di depan gerbang sekolah. Sengatan matahari yang menyayat kulit membuat hati Anya semakin dongkol, gara-gara kena marah oleh Pak Kumis tadi pagi. Di pinggir jalan Anya melihat kaleng bekas soft drink di depannya. Tanpa pikir panjang ia langsung menendangnya.
“Pletak!” tanpa sengaja kaleng itu melayang mengenai kepala anak laki-laki di depannya.
“Woi, siapa yang melempar kaleng ini ke kepalaku?” tanya anak laki-laki itu. Anya pura-pura tidak tahu dan segera naik bus tujuan ke rumahnya.
Sampai di rumah, Anya menceritakan kejadian-kejadian pagi tadi kepada abangnya. Begitu mendengar cerita Anya, abangnya langsung tertawa. “Nya..Nya.. ngidam apa mama waktu hamil kamu!” kata abangnya. “Tidak tahu bang!” jawab Anya singkat. Diapun langsung pergi dari hadapan abangnya.
Esok harinya, seperti biasa mentari memancarkan sinarnya yang cerah, secerah hati Anya saat itu. Ia menyusuri jalan setapak menuju ujung gang tikus untuk menunggu bus. Bus biru berhenti di depannya, Anya langung naik. Di dalam bus, tanpa sengaja ia bertemu dengan anak laki-laki yang kepalanya ketimpuk kaleng yang ditendangnya kemarin.
“Kamu yang melempar kaleng ke kepalaku kemarin kan?” tanya anak laki-laki itu membuka pembicaraan.
“Enak saja kamu bicara! Kenapa kamu menuduh aku yang melempar?” balas Anya.
“Kamu kan yang duduk di belakangku. Sementara yang di belakangku kemarin hanya ada kamu dan kucing.”
“Tahu dari mana kamu kalau hanya aku dan kucing?”
“Aku kan ingat waktu itu. Yang benar saja, masak yang melempar kaleng itu kucing?”
“Bisa saja kan!”
Debat antara dua anak SMA itu semakin memanas. Sampai-sampai orang-orang di dalam bus ngeri sendiri. Adu mulut itu baru selesai saat bus sampai di depan SMA Harapan Bangsa. Anya langsung turun tanpa menghiraukan anak laki-laki yang tidak terima kepalanya tertimpuk kaleng.
Pelajaran dimulai, Anya tidak dapat berpikir jernih. Karena perutnya keroncongan setelah adu mulut dengan laki-laki di dalam bus. Rasanya Anya ingin menonjok anak itu. Tiba-tiba Anya dikagetkan oleh pengumuman melalui speaker sekolah : “ Zevanya Ardinda dan Raditya dimohon segera menuju ke kantor, terima kasih .“ 
Anya tersentak dari lamunan. Ia segera minta ijin guru kelas menuju kantor sekolah. Sampai di kantor sekolah, Anya bertemu lagi dengan anak laki-laki yang kepalanya tertimpuk kaleng.
“Kamu lagi, kamu lagi!” kata Raditya dan Anya hampir bersamaan.
“Mau apa kamu?” tanya Anya.
“Aku dipanggil ke sini. Kamu mau apa?” kata Raditya balik bertanya.
“Oh, jadi kamu yang namanya Raditya?” tanya Anya.
Tiba-tiba datang bu Irma guru bahasa Indonesia, yang langsung menghampiri mereka berdua. “Sudah, sudah debatnya,” kata bu Irma. Anya dan Raditya pun terdiam.
“Anya dan Radit, kalian ikut lomba debat bahasa Indonesia ya! Tadi ibu lihat kalian berdebat di bus sepertinya sangat kompak,” kata bu Irma.
“Saya dan Radit, bu?”, tanya Anya.
“Iya, kamu dan Radit”, jawab bu Irma.
“Maaf bu, saya tidak mau dengan Radit”.
“Yee.., memangnya yang mau dengan kamu juga siapa?!” sahut Raditya.
“Pokoknya Anya dan kamu Radit harus ikut. Nanti saya yang akan bimbing. Kalian berdua harus menjadi tim yang solid”.
“Satu tim bu?!”, tanya Anya dan Radit bersamaan.
“Wah kompak sekali kalian berdua. Bagus, bagus. Saya suka itu”, kata bu Irma.
Lalu Anya dan Raditya kembali ke kelas masing-masing. Anyapun segera masuk ke kelas. Saking dongkolnya ia dengan Raditya, sampai-samoai ia tak menghiraukannya. Radityapun demikian, ia masih belum rela kalau Anya belum mengaku dan minta maaf.
Sepulang sekolah Anya tidak langsung pulang, melainkan harus mengikuti latihan untuk persiapan debat bahasa Indonesia. Ia tidak begitu semangat mengikuti latihan tersebut karena ia harus dipertemukan dengan Raditya.
Sasampainya di perpustakaan untuk latihan debat bahasa Indonesia ternyata bu Irma dan Raditya sudah menunggunya. Anya langsung bergabung untuk latihan debat. Walaupun agak tidak setuju, namun Anya mengikuti juga.
Sepulang latihan debat, Anya langsung menuju depan gerbang untuk menunggu  bus. Raditya ternyata juga menunggu bus. Namun jarak antara Anya dan Raditya berdiri agak jauh untuk menghindari adanya adu mulut lagi. Bus berhenti di depan SMA Harapan Bangsa. Raditya langsung naik, sedangkan Anya enggan naik karena ia enggan satu bus bersama Raditya.
“Kamu nggak pulang Nya?” tanya Raditya.
“Nanti  saja menunggu bus lain. Aku malas pulang bareng kamu,” jawab Anya.
“Ini bus terakhir lho, Nya!” kata Raditya.
“Iya neng, ini bus terakhir, saya sopirnya. Ayo naik neng!” sahut sopir bus.
“Ya sudah jalan kaki saja kalau begitu”, kata Anya.
Raditya turun dari bus dan menggandeng tangan Anya agar naik ke dalam bus. Anya tersentak kaget. Namun ia mengikuti Raditya naik bus. Mereka duduk di kursi paling belakang.
“Aku di pojok”, kata Anya. Raditya menurut, jadi ia duduk di pinggir. Bus melaju dengan kecepatan penuh. Anya dan Raditya tidak banyak bicara di dalam bus.
“Pak gang tikus!”, teriak Anya dari belakang. Bus berhenti di depan gang tikus.
“Tidak jadi pak, nanti turun di perempatan depan saja!” teriak Raditya dengan keras.
“Eh kamu apa-apaan sih, aku kan mau turun! Awas kaki!” kata Anya.
Raditya hanya diam dan membiarkan kakinya terjulur ke depan agar Anya tidak dapat lewat.
“Salah sendiri duduk di pojok. He.he..” kata Raditya sambil tertawa penuh kemenangan.
Anya marah, namun hanya dapat diam tak dapat berbuat apa-apa ketika bus itu kembali melaju kencang.
“Bang kiri!” teriak Raditya. Bus berhenti di perempatan jalan. Raditya turun dan menggandeng tangan Anya. Anya diam saja saking kesalnya kepada Raditya.
“Lepaskan, aku mau pulang!” kata Anya.
“Nggak! Sebelum kamu mengaku kalau kamu yang nimpuk kepalaku dengan kaleng kemarin”,  jawab Raditya mengancam.
“Aku nggak akan mengaku sampai kapanpun”, Anya berontak.
“Ya sudah kalau begitu, aku nggak akan melepaskan tanganmu” kata Raditya.
Raditya tetap menggandeng tangan Anya hingga berhenti di depan sebuah rumah yang cukup luas halamannya.
“Siapa itu Dit?” tanya seorang wanita paruh baya yang sedang duduk di halaman.
“Cewek Radit, mi!” jawab Raditya.
“Enak saja kamu ngomong! Tidak tante, saya temannya Radit”, jawab Anya sambil mencubit pinggang Raditya.
“Auw..!” teriak Raditya.
“Ya sudah, kalian makan siang saja dulu”, kata ibunya Raditya.
“Makasih tante, jadi merepotkan”, jawab Anya.
Raditya mengajak Anya ke ruang makan untuk makan siang. Setelah mengeluarkan sepedanya, Raditya mengantar Anya pulang ke rumahnya. Anya masih dengan bibir manyun, hanya mengikuti kemauan Raditya.
“Stop..Stop!” teriak Anya.
“Ini rumah kamu?” tanya Raditya.
“Iya, sudah ya, ” jawab Anya sewot. Raditya langsung pulang tanpa menghiraukan ocehan Anya. Ia hanya senyum-senyum melihat Anya yang bibirnya masih manyun.
Esok harinya, Minggu hari libur, setelah mandi Anya langsung memanjat pohon untuk berjemur. Tingkah Anya cukup membuat keluarganya geleng-geleng kepala. Tak berapa lama datang seorang laki-laki dengan tas di punggungnya mengayuh sepeda berhenti di halaman rumah Anya. Anak itu Raditya yang akan menghampiri Anya.
“Bang, Anya ada?” tanya Raditya.
“Oh ada, ayo masuk!” ajak abangnya Anya.
Setelah menyilakan Raditya, abangnya berteriak kepada Anya, “Nya, turun!”.
“Sebentar bang, sedang asyik di atas!” jawab Anya .
“Kamu dicari teman kamu, itu di bawah!” kata abangnya.
Anya turun dengan wajah heran. Anya merasa tidak punya janjian dengan temannya.
“Eh kamu Dit, ngapain ke rumah?” tanya Anya.
“Sekarang kita latihan lomba debat, kamu lupa ya?” jawab Raditya.
“Oh iya, sebentar aku ganti baju dulu,” kata Anya.
Tidak butuh waktu lama, Anya sudah siap. Dia membawa sepeda milik kakaknya. Sampai sekolah mereka menaruh sepedanya di tempat parkir pojok sekolah.
Suasana sekolah sepi, karena hari itu libur. Mereka dapat berkonsentrasi penuh berlatih debat. Anya dan Raditya harus dapat bekerja sama dengan kompak untuk lomba besok. Setelah dirasa cukup, mereka sudahi latihan terakhir itu dan pulang ke rumah masing-masing.
Malamnya, Anya tidak dapat tidur. Gelisah memikirkan lomba besok pagi. Untuk mengurangi gelisah, Anya membuka kembali catatan-catatan kecilnya. Dari catatan itu Anya mendapatkan pemahaman bahwa untuk meraih cita-cita, seseorang harus belajar dan bekerja keras. Tak terasa Anyapun tertidur setelah lelah membuka catatan-catatan itu.
Pagi hari, dengan penuh percaya diri Anya pamitan kepada orang tuanya untuk mengikuti lomba. Mobil yang membawa peserta lomba dari SMA Harapan Bangsa telah menunggu di depan rumah Anya. Ia segera masuk ke dalam mobil.
Perlombaan debat pagi itu berlangsung dengan seru. Masing-masing peserta menampilkan kemampuan maksimal mereka. Raditya dan Anya juga tampil maksimal pagi itu. Mereka merasa lega setelah selesai mengikuti lomba itu. Tinggal waktunya untuk menunggu pengumuman pemenang  lomba debat.
“Dit, maafin aku ya. Dulu aku yang nimpuk kaleng ke kepala kamu,” kata Anya sambil menunduk saat menunggu pengumuman hasil lomba.
“Ehm, nggak apa-apa kok, toh yang nimpuk kan kucing bukan kamu,” jawab Raditya dengan mimik lucu.
“Kita damai kan?” tanya Anya agak takut.
Raditya mengangguk dan mengedipkan mata tanda setuju. Ketika hasil lomba diumumkan ternyata juara 2 dan 3 dari SMA lain. Saat itu Anya sudah tidak punya harapan menang. Namun begitu mereka hendak meninggalkan ruangan itu, ternyata nama Raditya dan Anya disebut sebagai pemenang lomba debat. Mereka meraih juara 1. Raditya dan Anya melompat girang mendengar pengumaman yang tidak diduga itu. Tanpa sengaja mereka bergandengan ke panggung untuk mendapatkan piala juara pertama dengan senyum lebar. (*)


Nama Penulis           : Aini Nur Rahmah
Asal Sekolah             : SMAN 1 Tunjungan Blora Jawa Tengah
Judul                                    : Gara-Gara Kaleng

********************************************************************************

PESAN PAK GURU
Darali Noya Kireina Mahardika

Suasana di kelas 7E begitu riuh rendah dengan suara murid-murid di dalamnya. Pak Rahim menegur beberapa murid agar tenang saat mengikuti pelajaran. Setelah tenang, pak Rahim melanjutkan pelajarannya. Meskipun tegas, namun pak Rahim adalah guru yang sangat dekat dengan murid-muridnya.
“Siapa yang bisa menjelaskan tentang perbedaan antara arteri dan vena?” tanya pak Rahim.
“Saya pak!” jawab Fadli Haikal.
“Jelaskan Fadli!” jawab pak Rahim.
“Arteri mengangkut darah yang mengandung oksigen. Sedangkan vena mengangkut darah yang mengandung karbon dioksida,” jawab Fadli dengan mantap.
Pak Rahim membenarkan jawaban Fadli. Pak Rahim kemudian memberikan tambahan 1 poin ke daftar nilai Fadli. Dalam hati pak Rahim terbersit rasa bangga kepada Fadli, namun juga heran bagaimana murid yang sering bergurau di kelas mampu mengikuti pelajaran dengan baik.
Hari berlalu, tak terasa ujian telah hampir datang. Pak Rahim memanggil Fadli untuk menghadap saat jam istirahat.
“Ada kepentingan apa bapak memanggil saya?” tanya Fadli kepada guru idolanya itu.
“Minggu depan, mungkin bapak tidak mengajar lagi di sini lagi,” kata pak Rahim.
“Tetapi mengapa mendadak sekali pak. Apa bapak sudah tidak betah dengan ulah teman-teman  di kelas?” tanya Fadli sambil menatap pak Rahim yang semakin hari wajahnya tampak semakin pucat.
“Tidak Fadli. Bapak hanya merasa sudah waktunya untuk bapak meluangkan waktu seutuhnya untuk keluarga. Ini saatnya bapak untuk pensiun,”jawab pak Rahim sambil tersenyum.
“Tetapi kami masih membutuhkan bimbingan bapak. Dua minggu lagi kami menempuh ujian akhir semester,” kata Fadli dengan wajah memelas.
“Tenang Fadli. Kita masih bisa berkomunikasi dengan surat. Itu hobimu kan?” tanya pak Rahim.
“Iya pak, tapi..”
“Tenang saja. Bapak akan selalu mendoakanmu dan teman-tamanmu. Tetap semangat ya belajarnya,” nasehat pak Rahim kepada Fadli.
“Terimakasih pak,” ujar Fadli pelan.
Tiga bulan telah berlalu. Fadli melalui hari-hari itu dengan penuh kerinduan kepada pak Rahim. Tidak lupa ia selalu mengirim dan membalas surat dari pak Rahim. Suatu hari dalam suratnya, Fadli mengundang pak Rahim datang ke rumahnya. Dia ingin mengajak pak Rahim datang di acara syukuran, karena Fadli meraih peringkat satu di kelasnya. Beberapa hari kemudian surat dari pak Rahim datang yang menjawab bahwa pak Rahim akan datang dalam acara tersebut.
Hari itu cuaca begitu gelap. Hujan disertai petir membuat hari itu terasa mencekam. Namun semua itu tidak menyurutkan niat Fadli untuk menyambut kedatangan guru kesayangannya, pak Rahim. Fadli mengayuh sepeda menuju stasiun kota dengan semangat. Dia menunggu kedatangan pak Rahim dengan perasaan tak menentu. Tak lama kereta datang. Dengan perasaan yang campur aduk antara haru kangen, Fadli menunggu turunnya penumpang. Hingga akhirnya tinggal seorang perempuan cantik setengah baya yang berdiri di stasiun itu. Ibu itu mendekati Fadli.
“Ini Fadli ya?” tanyanya dengan lembut.
“Iya, ibu siapa?” jawab Fadli.
“Saya Aiza, istri pak Rahim,” jawabnya pelan.
“Oh, tetapi di mana pak Rahim bu?” tanya Fadli heran. Saat itu Fadli tidak melihat pak Rahim bersamanya.
“Maafkan ibu ya nak.” kata bu Aiza. “Sebenarnya pak Rahim telah meninggalkan ibu untuk selamanya sejak dua bulan yang lalu.”
“Bu Aiza bohong!” seru Fadli.
“Memang benar nak. Selama ini kamu selalu menerima balasan surat dari pak Rahim. Sebenarnya ibu yang menulis balasan dan mengirimkan surat itu. Itu semua atas permintaan pak Rahim sebelum meninggal.” Jelas bu Aiza.
“Mengapa bu Aiza, mengapa?”
Pikiran Fadli tak menentu. Dia tetap yakin bahwa yang dikatakan oleh bu Aiza itu bohong. Namun bu Aiza akhirnya dapat menjelaskan kepada Fadli. Bahwa bohong itu tidak selalu berarti jahat, jika niatnya untuk kebaikan. Meski yang melakukan harus menderita karenanya. Demi suaminya yang tidak menepati janji, dia harus berbohong. Suami yang sudah lama dikubur, dapat menepati janjinya lewat pesan kepada  istrinya yang setia. (*)


Nama Penulis           : Darali Noya Kireina Mahardhika
Asal Sekolah             :  SMPN 2 Blora Jawa Tengah
Judul                                    : Pesan Pak Guru

**********************************************************************************


AKU MENANG TETAPI KALAH
Titis Larasati

“Kring..kring..,” jam weker menunjuk pukul 04.00. Aku segera beranjak dari tempat tidur yang semalam menghantarkanku ke pulau mimpi. Kudengar dari dapur, suara alat memasak jatuh bergrempyangan tak karuan. Di luar ayah membaca majalah, sambil minum secangkir teh hangat, duduk di kursi tua. Kutuju kamar adikku. Kubangunkan mereka dari tidur lelapnya. “Sekar..,Luhur.., ayo bangun!” Masih malas-malas mereka membuka dua kelopak matanya.
“Hmm mbak, masih ngantuk!” kata Sekar sambil mengusap matanya.
Ditariknya selimut di sampingnya. “Mbak Sekar, ini selimutku!” Luhur mulai melawan saat selimutnya tiba-tiba saja ditarik. Sekar adalah adik yang sangat manja, usil dan cemburuan. Coba saja kalau ada yang berani membeda-bedakan ia dengan aku. Pasti matanya langsung melotot, pipi gembulnya langsung menggelembung membentuk kue-kue bak pao, dan bibirnya langsung nerocos bak jalannya kereta api. Sedang Luhur adalah adik yang senang disayang. Karena dia anak bungsu dan laki-laki pula. Ibuku sangat menyayanginya melebihi dari kami berdua. Ketrampilannya bermain barongan tak ada tandingannya.
“Dik, ayo mandi. Jadi ikutan dukung mbak Titis tes ‘Van Lith’ apa enggak? Kalau gak cepat nanti kita ketinggalan bus..”
Diiringi kokokan ayam dari kandang belakang rumah, aku dan keluarga kecilku berangkat menuju Muntilan, untuk ikut seleksi penerimaan siswa SMA ‘Van Lith’. SMA elit yang aku dambakan. Hanya siswa yang berotak brilliant yang dapat masuk. Kami naik bus kelas ekonomi yang kondisinya sudah tidak layak jalan. Meski begitu, aku tetap senang karena ada harapan besar di dadaku. Dalam perjalanan, ibu tak henti-henti berdoa untukku.
Setelah beberapa jam perjalanan, kondisi bus yang panas dan pengap mulai menimbulkan efek kepada kami. Luhur mulai kegerahan dan menangis. Aku merasakan perut mual dan akhirnya muntahku tak tertahankan. Aku mabuk darat. Aku yang tadinya tegar penuh percaya diri, sekarang rasa pede itu buyar bersama muntahan yang keluar. Hatiku menjadi ciut menghadapi ujian masuk SMA favorit idamanku.
Setelah enam jam, bus masuk kota Muntilan. Kami turun, dan segera mencari tempat menginap. Hotel Purnama menjadi tempat kami menginap selama mengikuti tes yang menentukan itu. Seorang pegawai hotel mengantarkan kami ke kamar hotel yang masih kosong. Kami hanya kebagian satu kamar untuk rame-rame di kamar nomer 9. Tak lama kemudian seorang OB membawakan kami teh hangat. Aku melihat di kamar-kamar lain, banyak sainganku yang juga sedang menyiapkan diri mengikuti tes. Mereka selalu membawa buku pelajaran. 
“Tis, lihat betapa banyak saingan yang akan kau hadapi besok. Apapun hasilnya yang penting kamu sudah berusaha, bapak percaya kamu pasti bisa!”. Kata-kata itu kembali memberikan kekuatan untukku.
Aku meyakinkan diriku mampu bersaing dengan mereka besok, “Teman, tunggu aku. Buktikan siapa yang akan jadi pemenang”.
Pagi-pagi sekali aku bangun, aku berdoa “Tuhan Yesus, tolonglah aku. Semoga apa yang kulakukan hari ini adalah yang terbaik untukku. Kalau aku diterima di SMA ‘Van Lith’ maka akan kujalani nazar yang telah kuikat dengan ibumu, Maria. Terjadilah padaku menurut kehendakmu. Amin”.
Nazar yang kuikat dengan ibu Maria adalah jalan tanpa alas kaki pulang – pergi ke Wereskat. Tempat itu sangat jauh, lebih dari 5 kilo dari rumahku. Tempat itu digunakan untuk tempat ibadah umat katolik yang didirikan oleh Romo Ernesto. Dulunya dijadikan sebagai tempat rehabilitasi penderita kusta. Namun karena sudah tidak ada lagi yang terkena kusta dan warga di situ sudah sembuh, maka diperbarui untuk tempat wisata rohani.
“Selamat pagi. Bagi para ca_OSVA (Calon Siswa ‘Van Lith’) diharap segera mendaftar ulang di depan kantor guru. Terimakasih,” terdengar suara seorang siswi yang memberikan pengumuman.
Aku langsung menuju tempat pendaftaran ulang. ”Saya Titis Larasati dari SMP Katolik Adi Sucipto Blora” kataku kepada panitia. Setelah didaftar ulang, aku diberi kartu peserta tes dengan nomer 304. Kartu itu harus kupakai selama tes.
“Hari ini kalian akan mengikuti tes tahap pertama, meliputi tes mata pelajaran, IQ, EQ dan ter pribadi tertulis. Yang mengikuti tes ada 800 peserta, 500  putri dan 300 putra. Yang akan diterima nanti adalah 160 siswa terdiri 100 putri dan 60 putra. Maka kerjakan dengan sebaik-baiknya. Hanya yang terbaik, mampu lulus seleksi ini”.
Tes mata pelajaran kukerjakan dengan susah payah. Ada 100 pertanyaan yang membuat kepala seakan melayang-layang. Rasanya ingin pingsan saja, namun kutahan sekuat tenaga dan dayaku. Selesai itu dilanjutkan dengan tes IQ yang jumlah pertanyaannya juga tak kalah banyak. Salah satunya adalah pertanyaan berupa gambar telur kecil, sedang dan besar. Yang ditanyakan adalah, gambar telur itu yang manakah telur gajah? Dengan mantap kupilih gambar telur yang paling besar dengan asumsi bahwa gajah adalah binatang besar, maka pasti telurnya juga besar. Namun setelah kuulang lagi, aku baru sadar bahwa gajah itu tidak bertelur. Gajah berkembang biak dengan melahirkan. Maka langsung kuhapus jawaban itu dan kuganti dengan pilihan jawaban : tidak ada. Dua tes sudah lewat. Saatnya untuk istirahat.
“Sekarang jam 12.00. Kami tim PSB hanya memberi kalian waktu 30 menit untuk istirahat dan makan. Tes selanjutnya dimulai jam 12.30 tepat. Tidak ada toleransi!”.
Aku berlari menghampiri orang tauku. Kulihat mereka sedang menungguku sambil duduk-duduk di teras.
“Bisa nduk?” tanya bapak.
“Lumayan pak. Aku yakin bisa lulus tes,” jawabku mantap.
“Yo wes, sekarang kita ke hotel. Istirahat untuk persiapan tes fisik besok”.
“Masih ada 2 tes lagi pak. Ini waktu istirahat hanya 30 menit. Sekarang aku lapar”
“Yo wes, makan saja di kantin. Ayo!” ajak bapak.
Tes berikutnya adalah tes EQ dan kepribadian. Tidak berat karena hanya menyampaikan alasan dan motivasi masuk sekolah itu. Kujawab dengan sejujurnya semua yang ditanyakan. Rasanya cepat sekali tes itu, tahu-tahu sudah selesai. Aku langsung kembali ke hotel untuk menyiapkan fisik.
Hari kedua tes fisik, semua peserta dikumpulkan di halaman sekolah. Mereka mengenakan seragam olah raga dari sekolah masing-masing. Panitia yang terdiri dari kakak kelas memberi kami nomor punggung. Kemudian seorang panitia memimpin latihan pemanasan. Sekitar 15 menit pemanasan itu, kemudian kami digiring menuju lapangan utama.
Tes pertama adalah lari sprint 100 meter. Ada 5 peserta yang ditandingkan. Begitu start, aku langsung melesat lari. Jarak 100 meter dapat kutempuh dengan waktu yang tidak mengecewakan. Berikutnya berlari mengitari lapangan utama dengan waktu 12 menit. Luas lapangan utama itu hampir 2 kali lapangan Kridosono Blora.
“Ayo nak, kamu pasti bisa. Makan gula jawa ini, biar energimu kuat. Atur nafas, lari yang cepat jangan hiraukan teman-temanmu. Yang penting lari saja sekuat-kuatnya!” teriak bapak memberi semangat.
“Mbak, ini minum dulu. Semangat ya!” Sekar juga turut membakar semangatku.
Aku mulai berlari. Panjang langkahku. Keringat mulai mengucur. Kukerahkan energi dalam tubuhku. Satu putaran selesai. Melaju putaran kedua lewat. Masuk putaran tiga mataku mulai berkunang-kunang, nafasku mulai tersengal-sengal. Tak kuhiraukan teriakan orang-orang di luar sana. Selesai putaran ke empat aku masih terus mencoba bertahan. Waktu sudah masuk menit ke delapan, tinggal sedikit sisa waktu. Rasanya aku ingin berhenti saja, namun impian masuk ke sekolah ini yang menguatkanku untuk terus melaju. Putaran ke lima darahku mengalir kencang, kepalaku mulai goyang. Aku sempat melihat ada teman yang terjatuh pingsan. Aku sebenarnya juga ingin pingsan, tetapi aku tahan. Hampir  mendekati putaran ke enam, rasanya sudah tidak tahan. Waktu sudah lewat 11 menit baru setengah putaran.
“Waktu habis!!” teriak panitia.
Aku terjatuh di tempat terakhirku. Aku terbangun saat mendengar suara, “Bangun mbak!”. Kulihat samar-samar Sekar ada di sampingku.
“Minum dulu mbak!” kata Sekar sambil menyodorkan Aqua.
Keteguk sampai separo air putih itu, untuk mengganti cairan tubuh yang rasanya habis terkuras saat lari tadi.
“Aku dapat berapa putaran dik?”
“Wah mbak Titis hebat, dapat enam putaran!”
Tes fisik yang betul-betul menguras tenaga itu ternyata belum berakhir. Sekitar sepuluh menit aku istirahat. Selanjutnya menjalani tes berikutnya. Tes fisik berupa push up, sit up, back up dan squot trust, kulewati dengan baik. Selesai uji fisik yang melelahkan itu aku kembali ke hotel.
Kulihat bapak termenung di luar kamar hotel. Sepertinya ada yang dipikirkan. Selesai aku bersih-bersih, bapak mendekatiku.
“Tis, sebenarnya kamu pingin banget masuk ke SMA ‘Van Lith’ ini beneran tidak?” tanya bapak yang membuatku kaget.
“Ya jelas pak, aku pingin banget!” jawabku mantap.
“Begini Tis, bapak jelaskan ya. Bapak senang kamu jika diterima di sini. Bapak juga bangga punya anak pintar. Namun anak bapak ada tiga, semua bapak sayangi, tidak ada yang bapak bedakan, bapak harus adil. Kalau kamu sekolah di sini, biayanya mahal sekali. Kalau hanya kamu saja bapak kuat. Tetapi kan ada adik-adikmu yang juga butuh biaya. Bapak tidak kuat bayarnya,” kata bapak panjang lebar.
Tentu kata-kata itu memudarkan rasa pedeku yang kubangun sejak awal. Aku memang memahami kondisi ekonomi keluargaku. Tetapi meski begitu rasanya sakit juga saat itu.
“Ya pak, aku mengerti. Kalau nanti diterima dan tidak kuat bayar, tidak apa-apa. Sekolah di Blora juga baik-baik kok,” kataku kepada bapak. Meski begitu aku bertekad untuk bisa diterima dan bayarnya harus murah.
Hari ketiga adalah tes wawancara. Terus terang aku gugup menghadapi tes ini, meskipun aku sudah belajar banyak kepada bapak strategi menghadapi tes wawancara.
Aku masuk ruangan tes. Seorang bruder berpakaian putih menjabat tanganku. Setelah duduk, pertama-tama yang ditanyakan adalah alasan dan motivasiku masuk ke sekolah tersebut, kehidupanku di sekolah, di gereja dan di rumah.
Saat bruder itu memintaku menampilkan keahlian khusus yang kumiliki, aku membaca puisi dalam bahasa Inggris karanganku sendiri, judulnya “Three Miracle Spears…”
Aku bacakan puisi itu dengan penuh penghayatan karena aku sendiri yang membuatnya, dan kurasa bruder itu juga suka dengan penampilanku.
“Baiklah, Titis. Kami rasa cukup. Selanjutnya tunggu pengumuman dari kami lewat SMS atau email. Kami tahu, kamu anak yang berprestasi. Namun yang mendaftar ke sini semua juga berprestasi. Maka tunggu pengumuman nanti ya. Semoga sukses” kata bruder itu ramah.
Selesai itu kami semua kembali ke Blora, dengan bus ekonomi lagi. Tetapi aku sudah tidak mabuk, karena pikiranku hanya fokus pada hasil ujian tes masuk SMA ‘Van Lith’.
Seperti yang dijanjikan bruder, pagi saat aku mengantar adik ke TK aku mendapatkan SMS dari SMA ‘Van Lith’. Saat kubuka dan kubaca SMS itu, aku melonjak girang. Ternyata aku diterima. Dalam SMS itu disebutkan, untuk konfirmasi langsung telpun ke SMA ‘Van Lith’ atau bagian TU.
Saat orang tuaku tahu aku diterima, aku dipeluk dan diciumnya. Ternyata usahaku tidak sia-sia. Aku diterima di SMA favoritku, SMA ‘Van Lith’. Siangnya aku penuhi nazarku, berjalan kaki pulang pergi tanpa alas kaki dari rumah menuju Goa Maria Sendangharjo Wereskat. Hujan turun membasahi jiwaku. Rasanya aku melayang. “Terimakasih ya Tuhan”. Aku akan masuk SMA ‘Van Lith’. “Tetapi benarkah aku akan sekolah ke sana?” tanyaku dalam hati dengan galau menahan air mata. Aku menang tetapi kalah!  (*)

Nama Penulis           : Titis Larasati
Asal Sekolah             : SMA Katolik “Wijaya Kusuma” Blora Jawa Tengah
Judul                                    : Aku Menang Tetapi Kalah

**************************************************************************


REMPEYEK IBU SEMANGATKU
Meirheyma Denfia Saputri

Rintik hujan mulai turun membasahi bumi. Aku tersadar dari lamunanku. Aku harus segera pulang. Ibu pasti akan memarahiku kalau tahu aku pulang terlambat dalam keadaan basah kuyup.
“A..,i..,u..,e..,o..sebel ah! Tiap hari ngomel terus, sampai-sampai terasa bolong kuping ini.”
“Icha..! Kamu terlambat lagi. Baju basah semua, cepat ganti. Ibu kan sudah bilang bawa mantel, jadi kamu nggak tiap hari kehujanan begini. Kalau sakit ibu juga yang susah! Nih, makanmu. Setelah hujan reda, nanti antarkan rempeyek-rempeyek ini ke warung bu Ida”
Hari semakin gelap, malam pun tiba. Aku harus mulai berkecimpung dengan buku-buku pelajaran, karena harus mengerjakan PR yang seabrek buat ulangan besok Senin. Aku merasa pusing dan capek.
“Icha.., bangun!” suara ibu membangunkanku. Aku menggeliat. Kubuka jendela, ternyata matahari sudah tersenyum menyapaku. Pagi yang indah. Aku bergegas ke kamar mandi.
“Cha, hari ini libur kan, nanti bantu ibu membuat rempeyek untuk besok. Jangan lupa nanti antarkan rempeyek ke warung bu Ida!”
“Siap bos..! kataku sambil berlagak hormat.
Ya, beginilah kerjaku setiap libur sekolah, pasti membantu, membantu dan membantu membuat rempeyek. Semenjak kepergian ayah, ibulah yang yang menjadi tulang punggung kami. Akulah yang harus sering membantu ibu. Bantu ini, bantu itu, capek rasanya.
Suasana hening kurasakan di malam itu, saat aku mulai mengisi memori otakku kembali. Aku mendengar suara yang terdengar aneh. Ternyata itu suara perutku. “Krucuk..krucuk..” Aku lapar. Aku langsung lari ke meja makan, dan kuambil toples isi rempeyek. “Kriuk..kriuk..” kulahap rempeyek dalam toples di malam yang hening itu. Gila, ternyata rempeyek setengah toples ludes kulahap. Sisanya segera kukembalikan ke meja makan. Malam semakin larut dan aku harus tidur.
“Aih..aih neng Icha juragan, masih juga promosi rempeyek di kelas, ditaruh di wajah lagi? Emang tempat di warung masih kurang?” ejek Danang yang memang terkenal paling usil di kelas. “Hoi teman-teman, neng Icha jualan rempeyek di kelas!” teriak Danang seenaknya.
“Tuh lihat, mukanya penuh rempeyek!” sambungnya sambil tertawa. “Siapa beli, siapa beli, rempeyek kacang dipajah di wajah!”. “Ha..ha..ha..” anak-nak lain ikut tertawa.
Aku menjadi malu dan berang, karena saat itu wajahku terasa gatal dan penuh bintik-bintik jerawat.
“Danang! Apa-apaan sih kamu!” teriak Dini temanku sebangku.
“Lho memang benar kok. Dia bawa rempeyek di wajahnya!” lagi-lagi anak-anak yang lain tertawa.
Jerawat-jerawat itu sepertinya memenuhi wajahku, hingga persis rempeyek kacang
“Danang, jangan gitu dong sama teman sendiri!” kata Dini.
Pelajaran telah selesai, aku segera mengemas tas dan buku-bukunya. Setiba di rumah, aku masuk kamar dan langsung menangis di tempat tidur. Ibu yang sedang sibuk di dapur merasa heran melihat anaknya pulang sekolah langsung menangis. Ibu menghampiriku, “Ada apa Icha, kamu kok tiba-tiba menangis?”.
“Ibu.., Icha malu bu, Icha malu! Icha nggak mau bawa rempeyek lagi ke sekolah bu. Teman-teman Icha semua meledek Icha bu. Apalagi jerawat dan gatal-gatal di wajah ini. Pokoknya besok Icha nggak mau bawa rempeyek lagi ke sekolah. Nggak mau!” teriakku.
Besoknya aku ke sekolah tidak lagi membawa rempeyek ibu. Aku sudah bosan dengan ejekan teman-temanku tiap hari. Hari demi hari telah kulalui, ke sekolah tanpa harus berjualan rempeyek lagi di kantin.
“Anak-anak, tes semester I kurang dua minggu lagi. Kalian harus mempersiapkan diri untuk menghadapi tes itu. Kalian harus lebih giat belajar. Bagi anak-anak yang belum menyelesaikan administrasi, tolong sebelum tes, selesaikan. Apalagi yang belum bayar SPP sampai bulan ini” kata wali kelas.
Aku pulang sekolah dengan lesu. Aku tahu belum bayar SPP selama dua bulan. Sering aku minta uang kepada ibu, namun setiap kali ibu selalu menunda janjinya karena memang tidak punya uang.
“Ibu bagaimana tes tinggal dua minggu lagi. Icha tidak boleh ikut tes kalau belum bayar SPP”
“Sebenarnya ibu juga ingin kamu tetap sekolah nak. Ibu tidak ingin kamu bodoh seperti ibu, tetapi ibu hanya bisa berjualan rempeyek seperti ini. Dulu sebelum bapakmu meninggal, beliau berpesan agar ibu dapat menyekolahkan kamu, biar kelak kamu menjadi orang yang berguna untuk nusa dan bangsa, utamanya untuk kamu sendiri,” kata ibu sambil menghapus air mata. “Tetapi keadaan sudah lain, ibu tidak mempunyai usaha lain, hanya jualan rempeyek ini. Seandainya bapakmu masih ada, pasti tidak akan seperti ini”.
Aku tertegun, tersentak dan bergetar tubuhku mendengar jeritan hati ibu.
“I..iya bu, Icha mengerti, Icha mau. Icha tidak akan malu lagi bu. Mulai besok Icha akan membantu ibu membuat rempeyek. Icha akan bawa ke sekolah lagi. Maafkan Icha bu. Ibu telah berusaha menyekolahkan Icha hingga harus bekerja keras siang malam, sekali lagi maafkan Icha bu. Ibu adalah satu-satunya orang tua yang Icha punya”.
Sejak itu aku tidak malu lagi ke sekolah sambil membawa rempeyek buatan ibu, untuk dititipkan di kantin. Aku lebih giat belajar demi meraih cita-citaku. Aku mau membuktikan bahwa cita-cita ayahku hanya ada pada diriku. Bahkan justru aku bangga mempunyai orang tua seperti ibu. “Maafkan Icha ayah..” kataku dalam hati.
Kini rempeyek-rempeyek itu semakin laris terjual. Aku sudah dapat membayar SPP serta bisa ikut tes semester di sekolah. Aku kini tegar menatap masa depanku.  “ Ya.. rempeyek ibuku adalah semangatku!” (*)

Nama Penulis           : Meirheyma Denfia Saputri
Asal Sekolah             : SMPN 2 Blora Jawa Tengah
Judul                                    : Rempeyek Ibu Semangatku

****************************************************************************



BOLA BUNDAR DUNIAKU
Edi Orakari

Waktu kecil, aku sudah suka dengan sepak bola. Orang tuaku yang selalu mengajakku menonton sepak bola. Sejak itu pula aku mulai senang bermain sepak bola. Setiap hari aku terus bermain bola. Tahun 2002 saat piala dunia, tiap malam aku selalu menonton. Jagoku adalah Jerman, dengan pemain favoritku Oliver Kahn. Meski kalah, namun aku tetap bangga dengan tim Panser itu. Aku terobsesi menjadi penjaga gawang tangguh seperti Oliver Kahn.
Aku kemudian masuk SSB Putra Mustika di Blora. Ada seorang siswa yang sudah kukenal namanya Abrizal. Pelatih yang membina kelompok kelahiran 95-96 adalah mas Tukin. Latihan dilakukan di stadion Kridosono Blora, seminggu 3 kali tiap hari Selasa, Kamis dan Sabtu mulai jam 14.30. Saat aku kelas 2 SMP, SSB Putra Mustika mengikuti kejuaraan nasional Metco. Saat itu aku terpilih masuk tim Putra Mustika. Hari Kamis SSB Putra Mustika mendapat jatah screening di Semarang. Selesai dari Semarang, kami harus mulai latihan karena waktu sudah mepet. Persiapan yang mepet itu digunakan untuk latihan secara maksimal.
Pertandingan melawan Bintang Mas Sukoharjo, kami dihajar 3-0. Kekalahan itu dijadikan evaluasi untuk meningkatkan mental bertanding. Seminggu kemudian kami bertandang ke Rembang. Kami kalah dengan skor lebih telak 6-0 tanpa balas.
Pada turnamen Mustika Cup yang diselenggarakan oleh Putra Mustika, kami mampu menjadi juara. Ada enam klub yang mengikuti turnamen itu. Putra Mustika Blora, Priamor Pati, Purba Juana, Cepu Putra, Perseto Todanan dan Bantolo Sakti Purwodadi. Dalam mencapai tangga mencapai juara, Putra Mustika mampu mengalahkan Priamor Pati 5-1, kemudian bermain seri 1-1 melawan Bantolo Sakti Purwodadi. Putaran semi final Purba Juana dapat kami kalahkan. Di final aku tetap menjadi penjaga gawang utama, melawan Cepu Putra. Dalam pertandingan yang dramatis, Cepu Putra dapat dikalahkan dengan skor 5-3. Putra Mustika lolos sebagai juara.
Setelah banyak mengikuti berbagai kompetisi, aku mulai mendapat pengalaman yang berharga, meskipun tidak banyak prestasi yang berhasil kuraih. Selesai UAN, Persikaba akan menggelar seleksi pemain U-16 untuk mengikuti kompetisi Piala Suratin.
Mendapat kabar itu, aku mendatangi stadion Kridosono untuk mengikuti seleksi. Hari pertama ada 5 penjaga gawang yang diseleksi. Kebetulan aku yang paling muda. Hari itu aku lolos. Namun pada hari berikutnya saat mengikuti seleksi lanjutan, aku merasa minder. Ada yang kurang dalam diriku. Saat aku ditunjuk sebagai penjaga gawang, banyak kesalahan yang kulakukan. Aku merasa tidak puas dengan penampilanku. Begitu pengumuman disampaikan, ternyata aku tidak lolos seleksi masuk U-16. Aku sangat kecewa, tidak bisa masuk tim U-16. Namun aku tetap semangat untuk berlatih. Bola adalah duniaku. Si bundar itu telah membuatku jatuh hati, dan menjadikan hidupku lebih terasa berarti.
Gagal masuk Persikaba Junior, aku tetap tekun berlatih sepak bola, sambil menunggu seleksi atau kompetisi lagi. Aku membaca di Suara Merdeka, ada berita akan dilakukan seleksi U-21 untuk persipan mengikuti seleksi LPA (Liga Primer Amatir) yang diikuti Blora Fc. Aku langsung menghubungi Amin Farid, manager Blora Fc.
Setelah mengetahui tanggal seleksi, aku berlatih dengan semangat untuk mengikuti seleksi LPA. Dari serangkaian seleksi itu aku selalu mengikutinya. Setiap hari Senin dan Jum’at seleksi dilakukan terus menerus. Saat pengumuman pemain yang masuk tim U-21, lagi-lagi aku gagal. Rasanya aku ingin menangis saja. Namun karena bola sudah menjadi duniaku, sudah mendarah daging dalam setiap denyut nadiku, maka aku tidak akan pernah meninggalkan dunia bola yang kucintai sejak aku masih kecil dulu. Lebih-lebih sesudah aku punya pegangan, yaitu kaos hitam yang selalu kupakai ketika menjadi penjaga gawang. Walau ia dekil dan sobek namun ia selalu menjadi jimat kemenanganku. Tidak percaya? Tonton aku, buktikan! (*) 
Nama                       : Edi Orakari
Asal Sekolah             : SMAN 2 Blora Jawa Tengah
Judul                        : Bola Bundar Duniaku

********************************************************************

Dapatkan tulisan-tulisan yang lain pada posting berikutnya :
“ Kumpulan Tulisan Terpilih Karya Anak Semua Bangsa Jilid II “
Semua adalah persembahan Pataba Press Blora
Pataba ada di Blora untuk Indonesia dan dunia
Membangun Masyarakat Indonesia
adalah
Membangun Budaya Membaca dan Menulis









0 komentar:

Poskan Komentar