Rabu, 16 Mei 2012

Nonton Konser I " Beatles Sukses Raksasa Godbless "


NONTON KONSER I
“Beatles Sukses Raksasa Godbless”
Hermawan Widodo

Beatles merupakan salah satu grup musik yang mampu menyeret saya untuk menggilainya, menjadikan saya keranjingan. Sebenarnya saya tertarik dengan Beatles secara tidak sengaja. Waktu itu saya membaca majalah Vista Musik yang memuat artikel bersambung tentang Beatles.
Artikel seri ke dua itu mampu membuat saya langsung tertarik dengan Beatles. Artikel yang ada gambar kartun mereka berempat di dekat buaya itu memuat beberapa album yang sudah dikeluarkan Beatles. Juga memuat pernyataan John Lennon yang mengatakan Beatles lebih terkenal dari Jesus. Saya juga menemukan potongan koran di kebun Mbah Adi yang memuat berita tentang John Lennon menjadi hantu pasca kematiannya.
Sedangkan yang mampu membuat saya terobsesi dengan mereka adalah saat RRI Jogjakarta mengudarakan lagu Obladi Oblada. Itulah lagu Beatles pertama yang saya dengar. 
 Wujud kecintaan saya pada Beatles, teraktualisasi pada gaya rambut yang saya buat mirip-mirip poni. Bermodalkan rambut lurus maka gaya poni saya lumayan mirip. Apa jadinya jika rambut saya kribo atau kriwil-kriwil, sangat susah untuk memponikannya. Selain gaya rambut, saya juga mengoleksi banyak poster dari mereka. Poster itu saya tempel di dinding ruang tamu, dinding kamar tidur, bahkan sampai dinding kamar mandi pernah saya tempeli poster Beatles.
Koleksi kaset Beatles saya juga lumayan lengkap. Semua album studio yang pernah dikeluarkan Beatles dari Meet The Beatles hingga Let It Be saya punya. Waktu itu koleksi yang umum berupa pita kaset. Piringan hitam dan CD merupakan barang mewah. Satu biji kaset baru C-60,harganya Rp.1.750 (seribu tujuh ratus lima puluh rupiah). Sedangkan untuk C-90 harganya Rp.2.250 (dua ribu dua ratus lima puluh rupiah). Maksud kode C-60 adalah masa putar kaset itu per sisi selama 30 menit sehingga total 60 menit. Sedangkan C-90 totalnya 90 menit.
Hampir sebagian besar kaset saya keluaran dari Aquarius. Produsen rekaman itu biasanya mengeluarkan album seri bagi grup atau penyanyi solo. Di dalam album seri itu, lagu-lagu dalam satu album dari grup atau penyanyi solo dapat secara utuh dinikmati. Cover album biasanya juga sama persis dengan yang yang sebenarnya. Ada beberapa kaset koleksi saya keluaran dari label lain semacam Atlantik, A&M, Hins dan Yess, namun tidak banyak. Semua album Beatles saya keluaran Aquarius, dengan cover kaset sama persis dengan yang saya baca di majalah.
Saya membeli kaset Beatles pertama kali di salah satu kios shooping center. Kaset bajakan seharga seribu perak itu saya simpan sampai saya tahu bahwa itu adalah kaset bajakan. Ketika saya mulai membeli kaset dari label Aquarius, kaset bajakan yang pernah saya beli di shooping center itu saya buang semunya.
Setiap hari di rumah saya tidak pernah lepas dari suara lagu Beatles. Tape yang besar itu, di rumah menjadi andalan untuk menyetel kaset-kaset Beatles. Meskipun tidak stereo, namun output yang dihasilkan cukup enak di telinga. Bas dan trebelnya lumayan jelas. Dan yang penting keras, sehingga dapat terdengar dari luar rumah saat saya pagi-pagi harus menyapu halaman yang luasnya 3x lapangan volley itu.
Setiap minggu pagi jam 6 sampai 8 di radio Unisi Pasar Kembang Jogja, yang waktu itu masih AM ada acara remember The Beatles. Penyiar rutin yang membawakan acara tersebut adalah Aditya atau nama udaranya mas Adit. Saya termasuk yang sering request lagu di acara tersebut. Maka bisa dipastikan setiap minggu pagi, saya tidak bisa diganggu kegiatan yang lain karena konsentrasi dengan acara radio tersebut. Termasuk ketika di kampung ada kegiatan kerja bakti, saya ikut turun kerja bakti saat acara remember The Beatles selesai. Jadi saya datang ke arena kerja bakti, pas waktunya mereka sedang istirahat sambil minum dan makan snack.
Semua media yang dapat digunakan untuk menyalurkan kebeatlesan saya, selalu saya manfaatkan. Salah satunya adalah pelajaran seni lukis. Saat itu Pak Manto guru seni lukis dan sekaligus wali kelas memberikan tugas untuk membuat gambar cover buku. Saya menggambar wajah John Lennon dari samping. Gambar itu saya tiru dari salah satu cover kaset. Gambar wajah dengan kaca mata khas itu saya beri judul Lennon&Me. Sebenarnya judul aslinya Elvis&Me karangan mantan istri Elvis. Namun karena saya tidak suka Elvis, judul itu saya comot dan Elvis saya ganti dengan Lennon.
Kemudian saat ada tugas membuat gambar cerita pendek empat babak. Saya membuat gambar dengan tokoh saya sendiri. Gambar satu adalah saya membeli kaset Beatles. Gambar dua saya membayangkan enaknya jadi Beatles yang terkenal. Gambar tiga saya tidur dan mimpi menjadi Beatles sedang konser ditepuki penonton. Gambar empat saya bangun dan muncul keinginan kuat mewujudkan mimpi dengan belajar dan berlatih keras untuk mampu seperti mereka.
Film tentang Beatles juga sebagian besar pernah saya lihat. Namun untuk bisa nonton film mereka saya harus rela tinggal di asrama polisi Patuk. Di rumah Mbak Jazim ada video. Berbekal uang dari rumah saya menyewa kaset video Beatles.
Film pertama yang saya lihat adalah film hitam putih A Hard Days Night. Kemudian Help yang sudah berwarna, dan Let It Be konser mereka di atas bangunan bertingkat itu. Hanya tiga film, karena di rental yang ada juga hanya ada tiga judul. Saya belum memiliki referensi lain di luar tiga film itu. Ternyata belakangan baru saya paham ada film lain yang dibuat oleh mereka Magical Mystery Tour.
Buku-buku tulis, juga saya tempeli dengan potongan-potongan poster mereka. Karena itulah saya oleh sebagian teman SMP dipanggil John. Khususnya Zuni yang selalu memanggil saya John hingga SMA.
Nonton konser Beatles adalah sebuah obsesi yang tak pernah padam. Namun karena mereka sudah bubar sebelum saya lahir, maka hil yang mustahal untuk dapat melihatnya secara live. Maka kelompok Barata yang membawakan lagu-lagu Beatles di panggung menjadi penggantinya. Pengusung lagu Beatles paling laris di Indonesia itu dikomandani oleh Abadi Soesman yang memegang kibor dan kadang gitar.  Jelly Tobing menabuh drum dan dua personel lainnya memegang gitar dan bas. Di Jogja juga ada kolompok musik yang khusus membawakan lagu Beatles, namanya agak panjang sehingga saya lupa.
Ketika ada salah satu EO menyelenggarakan konser musik dengan tema Beatles membuat saya semangat untuk nontonnya. Sebagai penyaji utama adalah Barata. Yang lain sebagai pembuka adalah band lokal dari Jogja. Sabtu siang sepulang sekolah saya mengendarai motor Yamaha L2 Super yang biasa dipakai harian oleh bapak ke kantor menuju Kemetiran Kidul, tempat sekretariat panitia. Saya beli dua tiket. Harga tiket Rp.5.000,- per lembar.
Rencana saya mau nonton bareng dengan Usman. Saya dan Usman sudah janjian. Dia akan menghampiri saya membawa Honda Astreanya, sore ba’da magrib. Manusia hanya  punya rencana, sedang Tuhan yang menentukan segalanya. Satu jam sebelum waktu janjian dengan Usman untuk melihat konser mirip-mirip Beatles, ada kejadian tragis yang membuyarkan rencana dan angan-angan saya.
 Ceritanya, ibu saya ketika hendak memindah wajan penggoreng, tiba-tiba secara tak terduga wajan berisi minyak goreng yang masih super panas itu tumpah. Tumpahnya tidak di tempat yang tepat. Minyak goreng panas yang super kurang ajar itu menimpa kaki ibu yang tercinta. Kontan ibu meraung kesakitan saking panasnya.
Kami sekeluarga kaget dan panik atas tragedi yang terjadi menjelang maghrib itu. Keributan di rumah mengundang saudara dan tetangga mendatangi rumah saya. Dalam waktu sekejap rumah penuh dengan orang. Banyak saran yang diberikan untuk meredakan sakit. Ada yang bilang dengan odol. Saat itu memang kaki ibu sudah dipenuhi warna putih odol. Ada yang menyarankan diolesi dengan oli. Maka dengan ember diisi oli kaki ibu direndam di dalam ember isi oli itu.
Butuh waktu lebih satu jam untuk meredakan rasa sakit akibat terjangan minyak panas itu. Waktu adzan maghrib orang yang berkerumun sudah mulai bekurang, mereka satu per satu pulang. Hanya ada keluarga dan saudara yang masih bertahan di teras, bagian depan rumah. Ibu duduk di kursi panjang dengan kaki masih terendam di ember oli. Saya lihat ibu masih menahan rasa sakit. Itu nampak dari ekspresi wajah dan juga gerakan tangannya. Di saat kondisi seperti itulah Usman datang.
Melihat kerumunan keluarga di rumah, Usman nampak kaget. Apalagi saat melihat ibu duduk di kursi panjang dengan wajah menahan sakit dan kaki direndam di ember. Saya jelaskan kalau ibu baru saja terguyur minyak goreng. Saya kemudian masuk rumah dan mengambil dua tiket konser Beatles mirip-mirip itu. Tiket saya serahkan ke Usman. Saya minta dia mengajak teman lain untuk menggantikan saya. Sayang kalau tidak dilihat. Setelah basa-basi sebentar dia pamit dan pulang.
Dia harus kembali ke Wonokromo dulu untuk mengajak teman yang lain. Saya mengiringnya hingga ke depan rumah. Kepergian Usman juga menghapus angan-angan saya melihat konser Beatles. Meskipun saya keranjingan Beatles, saya tidak sampai hati melihat ibu begitu. Ibu yang melahirkan saya sedang menderita, mosok saya tinggalkan hanya untuk nonton konser sambil jingkrak-jingkrak dan berteriak yeah..yeah..alangkah durhakanya saya.
Dua tahun setelah kejadian  itu saya berkesempatan nonton Barata kembali konser di Mandala Krida.  Namun saat itu saya sudah tidak lagi jatuh cinta kepada Beatles. Saya masih sayang, namun saat itu hati saya sudah kecanthol pada grup musik yang lain. Grup musik itu adalah Pink Floyd.
Keinginan nonton konser saya berganti dari Beatles ke Pink Floyd. Keinginan itu ternyata bisa terwujud meskipun juga hanya melihat yang mirip-mirip saja. Karena mana mungkin mampu melihat mereka secara langsung di Indonesia. Sedangkan untuk ke luar negeri mungkin hanya mimpi di siang bolong.
Waktu itu Log Zelebour selaku promotor dan produsen rekaman menyelenggarakan tour untuk promosi album Godbless yang terbaru Raksasa. Setahun sebelumnya Godbless juga melakukan konser untuk album Semut Hitam yang legendaris. Konser yang disponsori oleh Gudang Garam itu digelar di stadion Kridosono. Selain Godbless, sebagai pembuka disertakan Power Metal, Mel Shandy dan El Pamas. Formasi Godbless sudah ada perubahan, gitarisnya dari Ian Antono diganti Eet Syahrani. Personel yang lain masih tetap.
Saya, Siloek dan Haryadi sepakat untuk nonton konser itu. Tiket yang membelikan Siloek. Di sekolah siang sebelum konser saya dan Hari sudah mendapatkan tiket itu dari Siloek. Sebenarnya ada bonus satu bungkus rokok Gudang Garam untuk tiap tiketnya. Namun oleh Siloek rokok itu diserahkan ke penjual tiket. Kami meskipun gandrung musik rock namun jauh dari rokok dan alkohol. Siloek bilang mau berangkat sendiri dari Umbulharjo. Saya dan Hari berangkat goncengan dari Jagalan.
Lepas maghrib saya dan Hari berangkat. Ternyata Bimo dan Tutik juga sudah dapat tiket dan mau nonton juga. Bimo adalah kakak Hari yang kuliah di Kedokteran Umum UGM dan sudah lulus sepa milsuk AD berpangkat letda. Sedangkan Tutik kakak perempuannya kuliah di Kehutanan UGM. Dua-duanya merupakan alumni SMA5 Kotagede kebanggaan kami bersama.
Sampai di stadion Kridosono, motor kami titipkan di tempat parkir. Meski berangkat bareng, namun saya dan Bimo terpisah. Saya tidak tahu mengapa terpisah. Yang jelas kami tidak bareng sampai di Kridosono. Begitu menitipkan motor, saya dan Hari menuju ke stadion.
Ternyata di luar stadion sudah banyak orang yang antri untuk masuk stadion. Seluruh calon penonton itu berjajar satu-satu menuju pintu masuk. Sangking panjangnya mereka hampir mengitari setengah stadion. Saya dan Hari ikut antri di barisan belakang. Untungnya antrian orang yang mengular itu berjalan tertib. Tidak ada yang saling mendahului. Saat saya ikut antri itu, band pembuka sudah tampil.
Power Metal dari luar terdengar dengan jelas sedang menyanyikan Future World-nya Helloween. Mereka terus menyanyi, kami masih terus antri. Karena antrian sangat panjang sampai jatah waktu untuk Power Metal habis. Kami yang di luar sudah mendengar Mel Shandy menyanyi. Kami masih setia berdiri antri. Beberapa lagu hit dia di album Bianglala sudah dinyanyikan. Ternyata antrian begitu panjangnya. Mel Shandy usai tampil, saya dan Hari baru mendekati pintu masuk. Saya dan Hari baru dapat masuk stadion berbarengan dengan tampilnya El Pamas di panggung.
Kami berusaha mendapatkan tempat duduk yang strategis dari padatnya orang di dalam stadion. Kerumunan penonton di depan panggung sudah sangat menjamur. Untuk ke depan sudah tidak mungkin. Mereka sudah jingkrak-jingkrak sejak Power Metal muncul. Saya dan Hari dapat tempat duduk lesehan di sisi timur stadion, menghadap panggung meski agak jauh. Untung panggung dibuat lumayan tinggi, sehingga aksi para personel grup musik yang tampil dapat terlihat jelas.
Saya betul-betul terpesona oleh penampilan El Pamas. Meskipun mereka mengusung lagu manca, namun mereka tampil tidak sembarangan. Lagu yang dibawakan juga bukan lagu yang mudah. Mereka mengusung lagu-lagu Pink Floyd idola saya, dari album terbaik mereka The Wall.
Saat Baruna yang nampak seperti bule itu berteriak, “The Wall Pink Floyd!!”
Semua penonton terdiam, lampu di panggung padam. Hanya satu sorot lampu dari luar panggung yang mengenai sosok vokalis berambut gondrong itu. Baruna mengangkat dua tangannya. Penonton spontan menyalakan api dari korek yang dibawanya.
Suasana tampak ngelangut saat ada suara bayi menangis mengawali lagu The Thin Ice. Baruna menyanyi lagu itu dengan apik. Saat dia bersenandung, “ Uuh baby….” Semua penonton turut ikut koor.
The Thin Ice selesai, masuk Another Brick in The Wall part 1. Saya merinding. Instrumen di akhir lagu itu benar-benar bikin hanyut, ngelangut. Sampai kemudian muncul sound gemuruh suara helikopter menandai masuk ke lagu The Happiest Days Of Our Lives. Lagu rancak itu mampu mengubah dari rasa nglangut yang sudah terbangun dari awal lebih bergairah.
Hingga kemudian masuk lagu puncak yang menjadi sangat klasik Another Brick In The Wall part 2. Koor anak-anak yang ada di rekaman aslinya itu, di stadion Kridosono diganti oleh koor penonton.
Sajian The Wall oleh El Pamas benar-benar membuat saya jatuh cinta dengan Pink Floyd. Terimakasih kepada Totok Tewel dan kawan-kawan yang membawa saya untuk menyenangi musik yang lebih rumit, bukan musik yang biasa-biasa saja.  
Sebenarnya saya sudah cukup puas dengan penampilan El Pamas. Namun ternyata El Pamas bukan penyaji utama. Puncak konser malam itu adalah Godbless dengan formasi barunya. Tahun ’89 Ahmad Albar masih sangat gagah dengan kribonya. Iyek didukung oleh Jockey Suryoprayoga, Doni Fatah, Tedi Sujaya dan gitaris baru Eet Syahrani. Melihat track recordnya, kualitas tampilan mereka sudah tidak perlu diragukan lagi.
Mereka membawakan hampir semua lagu di album Raksasa dan Semut Hitam. Semua lagu yang dibawakan selalu diikuti oleh penonton. Ahmad Albar begitu mampu mengusai penonton. Meskipun ada kerumunan massa begitu banyak namun tidak terjadi kerusuhan.
Saya dan Hari tidak beranjak dari tempat duduk sejak semula kami duduk. Ada keinginan untuk maju ke depan untuk ikut jingkrak-jingkrak. Namun saya punya teori, bahwa yang namanya kerumunan massa itu mudah tersulut. Sehingga lebih aman memang menjauh. Tujuan nonton konser itu untuk menikmati penampilan, bukan jingkrak-jingkrak sendiri, sehingga malah tidak melihat yang sedang beraksi di panggung.
Setelah beberapa lagu dinyanyikan, Iyek kemudian mempersilakan personel Godbless tampil solo. Yang pertama muncul adalah Doni Fatah dengan bas gitarnya. Kemudian disusul solo drum oleh Teddy Sujaya. Kemudian debutan Eet Syahrani selaku gitaris baru Godbless unjuk gigi.
Saat dia unjuk kebolehan menyayat gitar, saya dengar celotehan orang-orang di sekitar saya yang mengomentari aksi Eet Syahrani. Katanya jauh dari Ian Antono. Saya hanya diam saja. Tidak bisa membandingkan antara Eet dan Ian. Ilmu saya tidak sampai ke situ. Saya hanya mendengar Eet meraung-raungkan gitarnya. Kalau saya baca di majalah mirip dengan aksi Edward Van Hallen.
Aksi solo terakhir Jockey dengan keyboardnya. Kali ini dia betul-betul menampilkan diri sebagai musisi yang luar biasa. Beberapa instrumental lagu klasik dia bawakan. Yang sangat special saat dia mengarransemen lagu Padamu Negri, benar-benar membangkitkan semangat patriotisme yang menggelora dan mendalam.
Selesai arransemen yang apik itu, Iyek muncul lagi dengan lagu Semut Hitam. Beberapa lagu selanjutnya masih dinyanyikan oleh Iyek dengan kekuatan yang penuh. Hingga memasuki lagu akhir, Iyek menyanyikan lagu Raksasa yang menjadi brand konser tersebut, sekaligus judul album terbarunya. Ketika lagu hampir mendekati usai, tiba-tiba di panggung bagian depan terjadi hujan kembang api.
Aksi penutup itu benar-benar sangat memukau dan mengesankan. Saya sangat puas dengan aksi yang ditampilkan oleh Godbless. Tidak rugi saya harus antri satu jam lebih untuk melihat langsung penampilan Raksasa Godbless dan El Pamas yang mengusung The Wall Pink Floyd itu. Jam 11 malam konser usai, tanpa ada kerusuhan sedikitpun. Saya sukses nonton konser tanpa satu gangguan yang berarti kecuali panjangnya antri untuk masuk stadion. (*)

0 komentar:

Poskan Komentar